Kisah Dr Sardjito dan Rahasia Ilmiah di Balik Kalkurenal

Reporter : Redaksi
Prof Dr Sardjito

Indonesia tidak hanya kaya akan rempah untuk masakan, tetapi juga memiliki sejarah besar dalam inovasi medis dunia. Salah satu bukti nyatanya adalah kisah Prof Dr Sardjito, sosok dokter sekaligus ilmuwan visioner yang berhasil menciptakan Kalkurenal, sebuah obat peluruh batu ginjal yang sempat melegenda. Penemuan ini bukan sekadar keberuntungan, melainkan hasil dari riset laboratorium yang sangat disiplin.

Berawal dari Halaman Belakang 

Baca juga: Mohammad Sadli, Sosok Genius yang Buka Keran Modal Asing Pertama

Di masa kepemimpinannya sebagai Rektor pertama Universitas Gajah Mada (UGM), Dr Sardjito menaruh perhatian besar pada masalah kesehatan masyarakat, terutama penyakit batu ginjal (urolithiasis) yang banyak dikeluhkan namun pengobatannya saat itu masih sangat terbatas dan mahal.

Alih-alih hanya bergantung pada obat impor, beliau melirik kekayaan botani Indonesia. Beliau melakukan observasi terhadap tanaman yang sering dianggap semak liar: Tempuyung (Sonchus arvensis L.) dan Keji Beling (Strobilanthes crispus). Melalui pendekatan ethnomedicine yang divalidasi dengan metode ilmiah, riset besar pun dimulai.

Data Penelitian dan Mekanisme Biokimia 

Secara saintifik, Dr. Sardjito menemukan bahwa kandungan dalam tanaman-tanaman tersebut memiliki efek sinergis yang luar biasa terhadap sistem perkemihan. Simak data teknis yang mendasari efektivitas Kalkurenal

Substitusi Ion Kalium 

Daun Tempuyung mengandung kadar kalium yang sangat tinggi. Dalam proses biokimia di dalam ginjal, ion kalium akan bekerja secara kompetitif. Kalium akan menggantikan posisi kalsium dalam ikatan senyawa batu ginjal. Hasilnya, senyawa kalsium oksalat (yang keras dan sulit larut) akan berubah menjadi kalium oksalat yang sifatnya sangat mudah larut dalam air.

Senyawa Flavonoid 

Riset menunjukkan adanya kandungan flavonoid seperti luteolin dan apigenin. Senyawa ini berfungsi sebagai anti-inflamasi untuk mencegah peradangan pada saluran kemih akibat gesekan batu ginjal yang tajam. 

Baca juga: Poerbatjaraka sang Duta Utama, Doktor tanpa Sarjana

Efek Diuretik 

Penemuan ini juga mengonfirmasi adanya sifat diuretik alami. Cairan urine akan diproduksi lebih banyak, sehingga memberikan tekanan hidrostatik yang membantu "mendorong" serpihan batu ginjal yang sudah melunak untuk keluar melalui saluran kencing.

Dari Laboratorium ke Produksi Massal 

Keunggulan Dr. Sardjito adalah beliau tidak berhenti pada jurnal penelitian. Beliau membawa hasil risetnya ke ranah hilirisasi. Kalkurenal diproduksi dalam bentuk sediaan cair (eliksir) yang stabil secara farmasetika. Eksperimen klinis yang dilakukan menunjukkan tingkat keberhasilan yang tinggi bagi pasien dengan batu ginjal ukuran kecil hingga sedang, tanpa harus melalui prosedur bedah yang saat itu sangat berisiko. Hal ini membuat Kalkurenal tidak hanya diakui di dalam negeri, tetapi juga menarik perhatian komunitas medis internasional.

Warisan untuk Generasi Muda Dr. Sardjito telah membuktikan bahwa kemandirian farmasi Indonesia bisa dicapai melalui riset berbasis bahan alam (evidence-based herbal medicine). 

Baca juga: Mengenang Hotma Sitompul Pengabdi Lembaga Bantuan Hukum

Beliau mengajarkan bahwa menjadi seorang peneliti berarti harus memiliki kepekaan terhadap masalah di sekitar dan keberanian untuk membedah potensi lokal dengan standar sains global.

Hingga saat ini, formula dasar yang dikembangkan beliau tetap menjadi rujukan dalam pengembangan obat fitofarmaka di Indonesia. Nama besar beliau yang kini abadi sebagai nama Rumah Sakit di Yogyakarta menjadi pengingat bahwa dedikasi pada ilmu pengetahuan akan selalu membawa manfaat bagi kemanusiaan. (*)

 

 

 

Editor : S. Anwar

Peristiwa
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru