Ia berasal dari sebuah dusun kecil di Gemolong, Kabupaten Sragen, Provinsi Jawa Tengah. Bukan anak pejabat. Bukan pula anak orang kaya.
Suyat lahir pada 1 Oktober 1975. Ia merupakan anak bungsu dari lima bersaudara. Ayah dan ibunya berjualan taoge dan tempe.
Baca juga: Invois Fiktif Sri Rejeki
Di keluarganya, bahkan di dusunnya, hanya Suyat yang berhasil melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi. Ia diterima di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Slamet Riyadi, Solo.
Di keluarganya, semua orang berharap masa depan berubah lewat Suyat. Suyat dikenal sebagai pribadi yang pendiam, pemalu, mudah bergaul, dan tidak memiliki musuh. Di kampus, ia mulai mengikuti diskusi-diskusi mahasiswa.
Suatu malam, seorang sahabat datang mengajaknya ikut aksi massa. Malam itu Suyat tidak memberi jawaban.
Keesokan paginya, sahabatnya melihat Suyat sudah berdiri di barisan aksi. Ia hanya tersenyum.
Sejak hari itu, Suyat memilih bergabung dengan Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID), lalu Partai Rakyat Demokratik (PRD). Ia tahu risikonya. Ditangkap. Dipukul.
Kuliah bisa terhenti. Masa depan bisa hilang. Tubuh Suyat tegap. Karena itu, ia sering menjadi barisan pelopor dalam berbagai aksi.
Ia berdiri paling depan untuk melindungi kawan-kawannya. Akibatnya, ia sering menjadi orang pertama yang dipukul aparat.
Pada 7 Desember 1995, Suyat mengikuti aksi solidaritas untuk Timor Leste di Kedutaan Besar Belanda, Jakarta. Saat itu, kader-kader Partai Rakyat Demokratik bersama pemuda-pemuda Timor Leste melompati pagar kedutaan untuk menuntut referendum. Aksi itu segera dibubarkan.
Ratusan preman dan tentara mengepung massa. Mereka dipukul. Dilempari batu. Nyaris semua kepala bocor. Suyat salah satunya.
Beberapa hari kemudian, dengan kepala yang masih diperban, ia kembali turun mendampingi aksi buruh PT Sritex di Solo. Ia kembali dipukul.
Pada 8 Juli 1996, Suyat kembali menjadi barisan pelopor dalam aksi buruh di Surabaya. Ia kembali ditangkap. Di kantor polisi, ia dan kawan-kawannya duduk di lantai. Polisi memberikan sebungkus nasi Padang. Dalam keadaan babak belur dan berlumuran darah, mereka menghabiskan nasi itu bersama.
Bertahun-tahun kemudian, sahabatnya masih berkata, itu mungkin nasi Padang terenak yang pernah mereka makan.
Memasuki 1997, situasi politik Indonesia semakin memanas. Suyat dipercaya menjadi pengurus Komite Nasional Perjuangan Demokrasi (KNPD) di Jakarta. Terakhir kali seorang sahabat melihat Suyat, ia sedang memimpin aksi di Cawang.
Pelantang suara berada di tangannya. Peluh mengalir di kepalanya. Mereka hanya sempat saling melambaikan tangan. Sahabatnya tidak pernah menyangka, lambaian tangan itu menjadi yang terakhir.
Tak lama kemudian, Suyat kembali ke Solo. 12 Februari 1998. Seorang kawan di Solo sedang menyiapkan tempat evakuasi untuk Suyat. Namun malam itu, rezim bergerak lebih cepat.
Dua mobil Kijang berhenti di depan rumah keluarganya di Gemolong. Beberapa orang yang mengaku dari Polres Sragen turun dan langsung mencari Suyat. Keluarganya mengatakan Suyat tidak ada di rumah.
Mereka lalu membawa kakaknya, Suyatno, untuk diinterogasi tentang keberadaan adiknya. Keluarganya juga diancam akan dibawa satu per satu.
Setelah malam itu, tidak ada lagi yang melihat Suyat. Ia menghilang. Hingga hari ini, Suyat masih menjadi satu dari 13 aktivis Reformasi 1998 yang belum pernah ditemukan.
Bertahun-tahun kemudian, sahabatnya kembali ke Solo. Ia melewati kawasan dekat sekretariat mereka dulu. Dulu mereka pernah berhenti di depan warung timlo itu.
Mereka sama-sama lapar. Mereka saling memandang. Lalu tertawa. Bukan karena ada yang lucu. Mereka sama-sama tidak memiliki uang untuk membeli semangkuk timlo. Lalu mereka berjalan lagi.
Kini warung timlo yang pernah mereka lewati setiap malam itu sudah tidak ada. Suyat belum pernah pulang. (*)
*) Penulis : Ajoko Raharjo
Editor : Bambang Harianto