Abdul Rivai dan Tenggelamnya Kapal Tampomas II

Reporter : Redaksi
Tenggelamnya Kapal Tampomas II

Tanggal 27 Januari 1981 menjadi hari terakhir untuk Kapal Tampomas II berlayar. Kapal ini mengalami musibah kebakaran dan akhirnya tenggelam di perairan Masalembo, yang masuk dalam daerah administratif dari Provinsi Jawa Timur. Kapal Motor Penumpang (KMP) Tampomas II mengalami musibah Kecelakaan transportasi umum laut pada titik koordinat 114°25′60″BT — 5°30′0″LS, masuk dalam perairan Laut Jawa. 

Berdasarkan data yang ada, KMP Tampomas II atau Kapal Motor Penumpang Tampomas II adalah kapal motor penumpang yang dimiliki dan dioperasikan oleh Pelni atau Pelayaran Nasional Indonesia, sebelum tenggelam KMP Tampomas II ini mengalami kebakaran dalam pelayarannya dari Jakarta menuju Sulawesi, kapal ini dinahkodai oleh Kapten Abdul Rivai yang juga meninggal dunia dalam peristiwa ini. 

Baca juga: Lions Club Madhava dan BPK Foundation Berkolaborasi Bersama Mengumpulkan Donasi

Musibah KMP Tampomas II ini terjadi pada tanggal 27 Januari 1981, 41 tahun yang lalu, tenggelam pada pukul 12.45 WIB di perairan 

Kepulauan Masalembo, Laut Jawa yang berada pada jarak 275 km (171 mi) dari kota Surabaya, Jawa Timur. Rute yang ditempuh oleh kapal ini adalah Rute : Padang-Jakarta-Ujung Pandang yang dikelola oleh PT Pelni, jumlah penumpang yang tercatat sebanyak 1.054 orang dengan jumlah kru 82 orang. Penyebab utama dari tenggelamnya kapal adalah kebakaran mesin kapal dan membawa korban jiwa sebanyak 431 orang yang meninggal dunia, tercatat juga ada 191 mobil dan 200 motor yang ikut tenggelam. 

Tampomas adalah nama sebuah gunung yang berada di Provinsi Jawa Barat. Nama ini yang digunakan untuk menggantikan nama aslinya yaitu : MV Great Emerald. KMP Tampomas II ini diproduksi pada tahun 1956 oleh sebuah perusahaan kapal di Jepang yang bernama : Mitsubishi Heavy Industries di Shimonoseki, Jepang, dan tergolong dalam jenis Kapal RoRo (Roll On-Roll Off) dengan tipe Screw Steamer.

KMP Tampomas II ini berukuran 6139 GRT (Gross Registered Tonnage) dan berbobot mati 2.419.690 DWT (Dead-Weight Tonnage).

Pada tahun 1971 sempat dimodifikasi ulang (Retrofit) di Taiwan. Kapal ini berkapasitas 1250-1500 orang penumpang, dan memiliki kecepatan maksimum 19.5 knot, memiliki lebar terbesar 22 meter dan panjang 125,6 meter.

Kapal Tampomas II ini dibeli oleh PT PANN (Pengembangan Armada Niaga Nasional) dari Pihak Jepang, Comodo Marine Co. SA seharga US$ 8.3 Juta, baru kemudian dibeli PT. PELNI (Pelayaran Nasional Indonesia) dengan cara mengangsur selama sepuluh tahun kepada PT PANN, yang menjadi pemilik kedua kapal ini.

Berbagai pihak juga pernah merasa keheranan dengan mahalnya harga kapal ini, mengingat kapal ini pernah ditawarkan ke Perusahaan Pelayaran Swasta lain hanya seharga US$ 3.6 Juta. Berbagai pihak, termasuk Jepang sendiri telah menyatakan kapal ini memang sudah afkir karena sudah berumur 25 tahun. Begitu dioperasikan, kapal penumpang ini langsung dipacu untuk melayani jalur Jakarta-Padang dan Jakarta-Ujungpandang yang memang sangat padat. Setiap selesai pelayaran, kapal ini hanya diberi waktu istirahat selama 4 jam dan harus siap untuk melayani pelayaran selanjutnya. 

Perbaikan dan perawatan rutin terhadap mesin dan perlengkapan kapal hanya dilaksanakan sekadarnya saja, padahal kapal ini usianya yang sudah cukup tua dan, seyogyanya kapal ini perlu mendapat perawatan yang jauh lebih cermat. Namun di balik semua kejanggalan itu, Pelayaran perdana dari KMP Tampomas II susah dilakukan pada 2 Juni 1980 sampai dengan 13 Juni 1980. Rute yang ditempuh adalah rute : Padang-Jakarta-Ujungpandang. Pelayaran tersebut mengajak serta sejumlah wartawan dan anggota DPR (Dewan Perwakilan Rakyat). 

Dalam pelayaran perdana KMP Tampomas II yang diikuti oleh beberapa anggota DPR, ada juga yang sempat menyaksikan sendiri dan ikut juga mempertanyakan perihal mesin yang sering mengalami kerusakan selama dalam perjalanan. Seorang anggota DPR dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Ahmad Soebagyo menyebutkan berbagai kejanggalan selama perjalanan diantaranya adalah kapal yang berputar-putar dalam radius yang sama dikarenakan rusaknya salah satu Knop Otomatis dari pengatur mesin kapal, dan dibatalkannya Acara Show Kapal karena ada kejadian matinya aliran listrik dalam waktu yang lama. Menurut seorang wartawan, terjadi enam kali mesin kapal rusak selama dalam pelayaran perdananya.

Musibah Kapal Tampomas II 

KMP Tampomas II bertolak dari Dermaga Tanjung Priok hari Sabtu, 24 Januari 1981 Pukul 19.00 WIB dengan tujuan Ujungpandang, perjalanan seyogianya memakan waktu 2 hari 2 malam di atas laut, sehingga diperkirakan hari Senin, 26 Januari 1981 Pukul 10.00 WIB seorang pemandu kapal menyebutkan bahwa salah satu mesin kapal ini telah mengalami kerusakan sebelum bertolak.

Kapal membawa puluhan kendaraan bermotor termasuk Mesin Giling SAKAI, Skuter Vespa, dll yang diletakkan di Cardeck. Berdasarkan Data dari Manifest Kapal menyebutkan, terdapat 191 buah mobil dan 200 sepeda motor yang berada di atas kapal, tercatat juga total sebanyak 1055 orang penumpang yang terdaftar dan 82 awak kapal berada di atas kapal. Estimasi total dari penumpang adalah 1442 orang penumpang, termasuk penumpang gelap.

Pada tanggal 24 Januari 1981 malam, tidak terjadi apa-apa. Yang terlihat hanyalah awan senja yang memukau dan pemandangan Laut Jawa yang datar. 

Namun diakui ombak Januari memang sangat besar dibandingkan di bulan-bulan lain, ombak setinggi 7-10 meter dengan kecepatan angin 15 knot sangat wajar terjadi. Di dalam kapal sendiri direncanakan sebuah Acara Show di Bar Kapal dengan penyanyi Ida Farida dari Band Kapal. Namun berbagai tanda keanehan terjadi, diantaranya dibawakannya Lagu Salam Perpisahan oleh seorang yang bernama Ferry, yang kemudian tidak diketahui keberadaannya.

Pada tanggal 25 Januari 1981 pagi, keadaan berlangsung seperti biasa. Namun, 25 Januari 1981 malam, sekitar pukul 20.00 WITA, dalam kondisi badai laut yang hebat, beberapa bagian mesin mengalami kebocoran bahan bakar, dan puntung rokok yang kemungkinan berasal dari ventilasi menyebabkan percikan api. Para kru kapal kemudian mencoba memadamkan api menggunakan tabung pemadam api portabel, tetapi gagal. 

Api semakin menjalar ke kompartemen mesin karena pintu dek terbuka. Akibatnya selama 2 jam tenaga utama mati, dan generator darurat pun gagal (Failure) dan usaha pemadaman pun dihentikan karena sudah tidak memungkinkan. Ditambah dengan bahan bakar yang ternyata masih ada di setiap kendaraan, menyebabkan api merambat dan membakar semua dek dengan cepat dan 30 menit setelah api muncul, para penumpang diperintahkan menuju dek atas dan langsung menaiki sekoci. Namun hal ini berlangsung lambat, karena hanya ada 1 pintu menuju dek atas. Begitu berada di dek atas, para ABK dan Mualim Kapal tidak ada yang memberitahu arah dan lokasi sekoci. 

Ada beberapa ABK yang malah dengan egois menurunkan sekoci untuk dirinya sendiri. 

Dari 6 sekoci yang ada, masing-masing hanya berkapasitas 50 orang. Sebagian penumpang yang lain nekat terjun bebas ke Laut Jawa dan sebagian menunggu dengan panik pertolongan selanjutnya.

Kapal lain yang pertama ikut melakukan upaya pertolongan pertama adalah KM Sangihe, kapal ini dinakhodai oleh Kapten Agus K. Sumirat, Kapten Agus K. Sumirat adalah teman satu angkatan dari Abdul Rivai di Akademi Ilmu Pelayaran lulusan tahun 1959. KM Sangihe sendiri sedang dalam perjalanan dari Pare-pare menuju ke Surabaya dengan tujuan melakukan perbaikan kerusakan mesinnya. Mualim I dari KM Sangihe, J. Bilalu yang pertama melihat adanya kepulan asap dari arah barat kapal dan mengira bahwa kepulan asap itu berasal dari sebuah sumur minyak lepas pantai Pertamina. Markonis KM Sangihe Abubakar mengirimkan pesan morse SOS pada pukul 08.15.

KM Ilmamui kemudian menyusul, melakukan pertolongan dan tiba pada pukul 21.00 disusul empat jam kemudian kapal tangker Istana VI dan masih berdatangan kapal lain yaitu kapal Adhiguna Karunia dan KM Sengata milik PT Porodisa Lines.

Tanggal 26 Januari pagi, Laut Jawa dilanda hujan yang sangat deras. Api mulai menjalar 

ke ruang mesin di mana terdapat bahan bakar yang tidak terisolasi. Akibatnya pagi hari tanggal 27 Januari, terjadi ledakan di ruang mesin dan membuatnya penuh oleh air laut. Ruang Propeller dan Ruang Generator turut pula terisi air laut, yang mengakibatkan Kapal miring 45 derajat.

Akhirnya pada siang hari tanggal 27 Januari 1981 Pukul 12.45 WIB atau Pukul 13.45 WITA (sekitar 30 jam setelah percikan api pertama), KMP Tampomas II tenggelam ke dasar Laut Jawa untuk selamanya, bersama 288 korban tewas di Dek Bawah.

Kapten Abdul Rivai termasuk orang yang paling akhir meninggalkan KMP Tampomas II yang mulai tenggelam, sebelumnya Kapten Abdul Rivai juga sempat mengirimkan pesan kepada nakhoda KM Sangihe "Tolong kirimi saya air dan makanan, karena saya akan tetap berada di kapal sampai detik terakhir". 

Pesan tersebut disampaikan melalui awak kapal Tampomas II yang berhasil menyeberang ke KM Sangihe yang bernama Bakaila. Tetapi permintaan tersebut tidak dapat dipenuhi oleh Agus K. Sumirat nakhoda KM Sangihe.

Korban Kapal Tampomas II 

Seluruh penumpang yang terdaftar berjumlah 1054 orang, ditambah dengan 82 awak kapal. Namun diperkirakan keseluruhan penumpang berjumlah 1442 orang, termasuk sejumlah penumpang gelap. 

Sebuah sumber menyebutkan angka taksiran jumlah penumpang gelap sekitar 300 orang. Tim penyelamat memperkirakan 431 orang tewas (143 mayat ditemukan dan 288 orang hilang bersama kapal), sementara 753 orang berhasil diselamatkan. 

Sumber lain menyebutkan angka korban yang jauh lebih besar, hingga 666 orang tewas. 

Dari catatan kapal tangker Istana VI berhasil menyelamatkan 144 penumpang Tampomas dan 4 jenazah, sementara KM Sengata menyelamatkan 169 orang dan 2 jenazah, dan kapal lain KM Sonne tercatat juga menemukan sebanyak 29 mayat termasuk mayat Nakhoda KMP Tampomas II Kapten Abdul Rivai. 

Odang Kusdinar Markonis KM Tampomas II selamat, ia ditemukan bersama 62 penumpang dalam sekoci di dekat Pulau Duang-Duang Besar, 240 km di sebelah timur tempat KMP Tampomas II tenggelam.

Hasil penyelidikan 

Menteri Perhubungan Roesmin Nurjadin dalam penjelasannya pada pers di kantor Departemen Perhubungan, mengatakan tidak terjadi hal yang abnormal di ruang mesin. 

Kelainan terjadi pada ruang geladak kendaraan, khususnya pada kendaraan roda dua yang terletak di sebelah belakang. 

Karena guncangan gelombang laut yang cukup kuat memungkinkan untuk timbul percikan api dan menyebar. Mualim III KMP Tampomas II Wishardi Hamzah berkata: KMP Tampomas II tidak memiliki sistem pendeteksi asap.

Penyelidikan yang dipimpin oleh Jaksa Bob Rusli Efendi Nasution sebagai kepala Tim Perkara tidak memberikan hasil yang berarti, sebab semua kesalahan ditudingkan kepada para awak kapal. Ada kesan bahwa kasus ini dengan sengaja ditutup-tutupi oleh pemerintah saat itu, meskipun banyak suara dari parlemen yang menuntut pengusutan yang lebih serius.

Kisah Kapal Tampomas II 

Dari Tanjung Priok, Jakarta, Kapal Tampomas II bertolak pada Sabtu, 24 Januari 1981, pukul 19.00 WIB. Kapal berisi muatan penuh orang dan barang ini seharusnya berangkat 23 Januari 1981. Karena ada kerusakan mesin, pemberangkatannya harus molor sehari.

Di atas kapal terdapat 191 mobil, ada sekitar 200 sepeda motor, dan diperkirakan 1.442 orang. Dari jumlah itu, yang tercatat secara resmi berjumlah sebanyak 1.054 orang dan sisanya adalah penumpang gelap.

Setelah sehari semalam KMP Tampomas II melintasi lautan, mesin kapal rusak di Minggu malam 25 Januari 1981 pukul 20.00 WITA terjadi kebocoran bahan bakar. Api kemudian mulai menyambar dan kru mesin mati-matian memadamkannya dengan alat pemadam api portabel, namun api menjalar ke kompartemen mesin karena pintu dek terbuka.

Usaha pemadaman menemui jalan buntu pada saat air untuk memadamkan api tidak bisa disemprotkan karena generator mati. Api tentu saja semakin berkobar ke luar ruang mesin, bahkan sampai ke ruang tempat disimpannya mobil dan sepeda motor yang berbahan bakar.

Setelah api makin sulit diatasi, Kapten Abdul Rivai, sang nahkoda, mengambil keputusan: mendamparkan kapalnya ke pulau terdekat. Namun usaha dari Kapten Abdul Rivai itu gagal karena baling-balingnya tidak bisa berputar. Matinya listrik membuat radio mati dan pesan ke kapal lain atau syahbandar pelabuhan tidak bisa dikirim. Isyarat cahaya yang dilontarkan ke udara juga tidak menyala.

Panasnya api membuat beberapa penumpang terjun dan yang beruntung turun ke dalam sekoci. Evakuasi penumpang berjalan kacau. Tak ada tanda arah jalan keluar yang jelas di dalam kapal. Bahkan, ada awak kapal yang menurunkan sekoci untuk dirinya sendiri.

KMP Tampomas II ini berada dalam bahaya. Munculnya matahari pada 26 Januari 1981 yang menerangi lautan di sekitar Tampomas dan kobaran api yang terlihat dari kejauhan pun jadi isyarat bagi kapal yang melihatnya. KMP Tampomas II segera membutuhkan tindakan penyelamatan. Datangnya hujan deras pagi itu, membuat kapal makin dipenuhi air.

Kapal Motor Sangihe, di bawah nakhoda kapal Kapten Agus K. Sumirat, adalah yang pertama kali tiba. Mualim J. Bilalu dari KM Sangihe melihat kepulan asap yang semula dikiranya datang dari sumur minyak lepas pantai Pertamina. Markonis KM Sangihe, Abubakar, kemudian mengirim pesan telegraf pada pukul 08.15 terkait nasib Tampomas II.

KM Ilmamui kemudian ikut melakukan upaya pertolongan dan tiba pada pukul 21.00. Disusul empat jam kemudian oleh kapal tangker Istana VI dan kapal-kapal lain, yaitu kapal Adhiguna Karunia dan KM Sengata milik PT. Porodisa Lines.

Ruang mesin Tampomas II akhirnya meledak pada pagi 27 Januari 1981 esoknya. Kapal pun makin dipenuhi oleh air laut. Ruang Propeller dan Ruang Generator turut pula terisi air laut, dan kapal miring 45 derajat.

Akhirnya pada 27 Januari 1981, tepat hari ini 37 tahun lalu, Pukul 12.45 WIB atau pukul 13.45 WITA, KMP Tampomas II ini tenggelam ke dasar Laut Jawa di sekitar daerah perairan Masalembo. 

Kapten Abdul Rivai dan ratusan penumpang kapal yang tidak terselamatkan menjadi korban dalam tragedi KMP Tamponas II.

Kisah tenggelamnya kapal itu juga ditulis oleh Bondan Winarno dalam Neraka di Laut Jawa : Tampomas II (1981) berdasarkan hasil dari reportase Sinar Harapan dan Mutiara.

Tim penyusunnya para wartawan,antara lain, Aristides Katoppo, Panda Nababan, Umar Nur Zain, Agnes Samsuri, Gerson Poyk, dan Harry Kawilarang. Bondan Winarno sebagai penulis.

Buku itu menyajikan adegan demi adegan lewat penggambaran yang demikian rinci dalam 291 halamannya. Kisah-kisah kecil yang menyentuh hati, yang dialami penumpang, awak kapal, dan para penolong.

Penyanyi Iwan Fals ikut menciptakan sebuah lagu mengenai tragedi tenggelamnya KMP Tampomas II yang berjudul Celoteh Camar Tolol pada tahun 1982 dan Cemar pada tahun 1983. Sedangkan penyanyi Ebiet G. Ade juga menciptakan lagu tentang Tampomas II yang berjudul Sebuah Tragedi 1981 dan album Langkah Berikutnya pada tahun 1982. 

Penyanyi Doel Sumbang menciptakan lagu tentang tragedi Tampomas II yang berjudul Bencana-Bencana, terdapat dalam album volume 5 : Aku, Gembrot dan Kopral Gareng yang diluncurkan pada tahun 1984 oleh Sokha Records.

Seperti lagu-lagunya di zaman itu, Iwan Fals bersikap kritis. Iwan Fals menyinggung asal dari KMP Tampomas II sebelum kapal itu tenggelam dan ditulisnya bahwa : 

Tampomas sebuah kapal bekas

Tampomas terbakar di laut lepas

Tampomas tuh penumpang terjun bebas

Tampomas beli lewat jalur culas

Tampomas hati siapa yang tak panas

Tampomas kasus ini wajib tuntas

Tampomas koran koran seperti amblas

Tampomas pahlawanmu kurang tangkas

Tampomas cukup tamat bilang nahas.

Iwan Fals memang tidak sedang meracau dan menyebut bahwa “Tampomas sebuah kapal bekas", karena memang itulah kenyataannya. 

Menurut sebuah buku berjudul Penyelewengan Dibalik Tenggelamnya Tampomas II (1982), Kapal Tampomas II ini memang kapal bekas yang dibeli melalui PT Pengembangan Armada Niaga Nasional (PANN) dari perusahaan Jepang Comodo Marine Co. SA dengan harga US$8,3 juta. Angka ini mengherankan beberapa pihak karena PANN juga pernah diberi tawaran kapal lain yang harganya hanya US$3,6 Juta.

KMP Tampomas II ini diproduksi Mitsubishi Heavy Industries di Shimonoseki, Jepang, pada 1956 dengan lebar 22 meter dan panjang 125,6 meter. Kapal ini berjenis Roll on Roll off dengan tipe Screw dan berbobot mati 2419690 dwt.

Kapal ini sempat dimodifikasi ulang pada 1971 sehingga bisa dipacu pada kecepatan 19,5 knot. Memorandum of Agreement (Moa) pembelian kapal tercatat pada 23 Februari 1980 dengan Junus Effendi Habibie alias Fanny Habibie, adik B.J. Habibie, bertindak sebagai Ketua Steering Committe (SC) pembeliannya. 

Tetapi Fanny Habibie menolak bertanggung jawab untuk soal spesifikasi kapal ini. 

“Saya hanya bertanggungjawab atas pembuatan MoA. Saya tidak bertanggungjawab langsung atas sesuai atau tidaknya kapal yang diserahkan dengan persyaratan yang dicantumkan dalam MoA," kata Fanny Habibie yang mantan kapten pada Angkatan Laut zaman Sukarno.

Tampomas adalah nama sebuah gunung di Sumedang, Jawa Barat, seperti yang ditulis oleh Agus Tamtomo dalam postingannya di YouTube. KMP Tampomas II menjadi nama kapal yang beroperasi sejak Mei 1980 di bawah bendera PT PELNI. Kapal bekas, tua, dan tidak terawat ini harus bekerja keras seperti kapal baru dan pada akhirnya kapal ini tenggelam pada tanggal 27 Januari 1981. 

Peristiwa tenggelamnya KMP Tampomas II juga memunculkan berbagai dugaan adanya ketidakberesan terkait kapal bekas yang sudah berumur 10 tahun tersebut. Buruknya kondisi dari kapal, kronologi pembelian kapal ini dan juga harga kapal yang dinilai lebih mahal dari harga yang seharusnya. 

Kapten Abdul Rivai 

Di balik sebuah kisah tragedi tenggelamnya KMP Tampomas II di perairan Masalembo, ada sebuah kisah tentang Kapten Abdul Rivai yang bertindak sebagai Nahkoda kapal yang terus berusaha mempertahankan posisi kapal agar tidak tenggelam dengan cepat. Tanggung jawab dan pengabdiannya sebagai nahkoda kapal menjadikan dirinya sebagai seorang pahlawan yang patut juga dikenang. 

Sekalipun dalam posisi berbahaya yang dapat mengancam jiwanya, namun Kapten Abdul Rivai tetap berusaha untuk tenang dan sebisa mungkin tidak menunjukan sikap panik yang berlebihan. Dan tanggung jawabnya sebagai seorang Nahkoda yang akhirnya membuat dirinya mengabaikan keselamatan pribadi dan memilih nyawa penumpang agar tetap selamat dari peristiwa ini. Kapten Abdul Rivai akhirnya harus kehilangan nyawanya dan menjadi salah satu korban meninggal dunia dalam peristiwa tenggelamnya KMP Tampomas II. 

Kapten Abdul Rivai adalah alumnus Akademi Ilmu Pelayaran ( AIP). Pada tahun 1959 Abdul Rivai berhasil menyelesaikan pendidikannya dan juga berhak memperoleh ijazah sebagai Mualim Pelayaran Besar III. Disusul kemudian ijazah sebagai Mualim Pelayaran Besar II pada tahun 1966 dan kemudian mendapat ijazah Mualim Pelayaran Besar I pada tahun 1971.

Kapten Abdul Rivai memulai karir di Pelni sejak 23 September 1959, dan termasuk sebagai seorang kapten kapal yang berpengalaman menahkodai kapal-kapal besar di sepanjang hidupnya. Kapal besar yang pernah dinahkodai oleh Kapten Abdul Rivai diantaranya adalah : KM Towuti, KM Bangawan, KM Tolandu, KM Imarito dan KM Iweri, KM Selayar dan KM Batanghari.

Selain itu Abdul Rivai juga pernah berjuang merebut kemerdekaan dari penjajah Belanda.

Sebelum resmi menjadi pelaut kapal komersial, Kapten Abdul Rivai merupakan anggota militer yang ikut berjuang pada operasi Trikora, pada saat itu, Abdul Rivai berpangkat Letnan yang bertugas di atas geladak KM Sangihe. 

Atas jasanya pada kemerdekaan Indonesia, maka Letnan Abdul Rivai juga mendapatkan anugerah penghargaan berupa : Satya Lencana pada tahun 1963 dari pemerintah Indonesia. 

Abdul Rivai lahir di Tanjung Karang, Lampung, 25 Agustus 1936 yang akhirnya menjadi pelaut yang handal sekaligus berpengalaman. Gugur pada saat menjalankan tugas dalam tragedi Tampomas II, 27 Januari 1981. 

Kapten Abdul Rivai menjadi nahkoda dari KMP Tampomas II yang mendadak terbakar hebat. Akibatnya kapal ini menjadi oleh dan miring 45° dan dimasuki air laut. Kapal ini kemudian tenggelam setelah 30 jam sejak percikan api yang pertama menjalar.

Kapten Abdul Rivai juga ikut membagi-bagikan pelampung bagi penumpang yang takut terjun ke laut. 

“Sebaiknya kita turun saja, Kep,” kata Karel Simanjuntak, seorang awak kapal yang berada di dekat Kapten Abdul Rivai. 

“Buat apa kita turun kalau belum semua penumpang selamat?” jawabnya, seperti yang tertulis dalam buku Neraka di Laut Jawa : Tampomas II karya Bondan Winarno. 

Hingga detik-detik akhir menjelang tenggelam, Kapten Abdul Rivai masih terlihat menolong beberapa wanita. Ia melambaikan tangannya dan masuk kembali ke dalam kapal. Pada hari Senin, 27 Januari 1981, KMP Tampomas II yang terbakar hebat, akhirnya tenggelam di dasar lautan bersama sang Nahkoda, Kapten Abdul Rivai.

Jasad dari Kapten Abdul Rivai yang sempat hilang dapat ditemukan kembali namun sulit dikenali secara pasti. Identitas Kapten Abdul Rivai terkuak berkat tanda cincin bertuliskan “Hasanah” yang merupakan nama isterinya. Selain itu, ciri-ciri fisik berupa jari telunjuk tangan kanan memiliki kelainan, bentuk badan dan rambut dicukur pendek, juga menguatkan fakta tersebut. 

Jenazah Kapten Abdul Rivai diterbangkan ke Jakarta, pada hari Minggu, 1 Februari 1981 dengan pesawat F-27 milik AURI. Senin siang tepat pukul 13.30, Kapten Abdul Rivai, nahkoda KMP Tampomas II ini dikebumikan di TMP Kalibata, Jakarta. Pemakamannya juga diiringi tembakan salvo oleh 20 prajurit TNI AL, karena memang Kapten Abdul Rivai pernah menjadi anggota TNI Angkatan Laut. 

Peristiwa tenggelamnya KMP Tampomas II dengan korban ratusan korban jiwa ini juga sempat tertutup. Begitu peliknya kasus ini hingga tidak ada satupun pejabat yang berani mengakui keterlibatannya. Padahal, Kejaksaan Agung sudah menugaskan Bob Rusli Efendi Nasution sebagai Kepala Tim Perkara untuk mencari mereka yang terkait. Namun sayang, tidak asa satupun tuntutan terhadap pejabat berwenang pada saat itu. (*)

Editor : S. Anwar

Peristiwa
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru