Dari garasi rumah di Surabaya, Campina tumbuh menjadi salah satu pemain besar industri es krim nasional. Bisnis es krim ini bermula pada tahun 1972 lewat CV Pranoto yang didirikan Darmo Hadipranoto.
Awalnya sederhana yakni ingin membuat es krim berkualitas untuk keluarga sendiri. Namun dari usaha rumahan itu, lahirlah merek yang kini dikenal luas di Indonesia.
Perjalanannya juga tidak instan. Es krim Campina sempat dijual keliling dengan sepeda, bahkan di tengah krisis listrik perusahaan sampai membangun pabrik dry ice sendiri demi menjaga kualitas produk. Seiring waktu, bisnis terus berkembang. Pabrik diperbesar, distribusi meluas, hingga akhirnya Campina memasuki babak baru setelah keluarga pemilik Ultrajaya masuk sebagai pemegang saham pada tahun 1994.
Setelah 45 tahun berdiri, Campina resmi melantai di pada tahun 2017 dengan kode saham CAMP. Menariknya, di tengah banyak emiten FMCG yang agresif berekspansi ke luar negeri, justru masih fokus memperkuat pasar domestik. Strategi yang berbeda, tapi sejauh ini tetap membuat namanya bertahan di industri yang kompetitif.
Bagaimana perjalanannya, berikut kisahnya.
Campina berawal dari usaha rumahan bernama CV Pranoto yang didirikan Darmo Hadipranoto di garasi rumahnya di Surabaya pada tahun 1972. Nama "Campina” terinspirasi dari kata champion, sebagai harapan agar bisnis ini menjadi juara di industrinya.
Menariknya, Darmo bukan berlatar belakang kuliner, melainkan importir dan kontraktor. Bisnis ini awalnya karena ia dan istri hanya ingin membuat es krim berkualitas untuk anak-anaknya.
Awalnya Dijual Pakai Sepeda
Perjalanan Campina tidak langsung mulus. Di tengah krisis listrik, Darmo bahkan membangun pabrik dry ice sendiri agar produk es krimnya tetap terjaga. Pada awal operasional, es krim Campina dijual secara keliling menggunakan sepeda.
Seiring pertumbuhan bisnis, distribusinya berkembang memakai freezer hingga mobil van.
Titik Balik Campina
Setelah penjualannya tumbuh, Campina semakin dikenal masyarakat. Bisnis ini bahkan sempat dikunjungi Gubernur Jawa Timur saat itu, HM Noer pada tahun 1973. Popularitas Campina meningkat pesat, dan CV Pranoto kemudian bertransformasi menjadi PT Pranoto Pancajaya.
Pada tahun 1982, Darmo memindahkan pabrik ke kawasan Surabaya Industrial Estate Rungkut untuk memperbesar kapasitas produksi.
Campina Bukan Lagi Milik Pendiri
Tahun 1994 menjadi titik balik besar. Keluarga Prawirawidjaja, pemilik Ultrajaya masuk sebagai pemegang saham Campina. Komposisinya saat itu :
Sabana Prawirawidjaja 90%
Samudera Prawirawidjaja 10%.
Setelah akuisisi ini, nama perusahaan resmi berubah menjadi PT Campina Ice Cream Industry. Dalam periode tersebut, Darmo tidak lagi menjadi pemegang saham utama. la menduduki posisi sebagai komisaris sejak tahun 1995.
IPO Setelah 45 Tahun Berdiri
Setelah beroperasi selama 45 tahun, Campina akhirnya melantai di bursa pada 19 Desember 2017 dengan kode saham CAMP. Perusahaan melepas 885 juta saham atau sekitar 15,04% kepemilikan publik di harga Rp 330 per saham.
Dari IPO ini, Campina memperoleh dana segar sekitar Rp 292 miliar, yang mayoritas digunakan untuk melunasi utang dan modal kerja.
Campina Belum Go Global
Meski menjadi salah satu produsen es krim terbesar di Indonesia, Campina punya strategi berbeda dibanding pemain FMCG lain seperti Indofood, Mayora, atau Ultrajaya. Alih-alih agresif ekspansi internasional, Campina selama ini lebih fokus menggarap pasar domestik Indonesia.
Dalam profil perusahaan, pasar nasional masih menjadi fokus utama pertumbuhan mereka. (*)
Editor : S. Anwar