Ada 2 Pahlawan asal Tapin yang melakukan perlawanan terhadap penjajah Belanda yang masih berada di tanah Kalimantan Selatan pada era 1945. Sosok pahlawan ini yakni Mat Tasan dan Muhammad Panyi.
Peristiwa sejarah perlawanan di Kabupaten Tapin yang didapatkan dari keluarga Mat Tasan dan Muhammad Panyi.
Baca juga: Kronik Mongondow dan Minahasa
Kisah Mat Tasan dan Muhammad Panyi adalah gambaran bahwa pernah ada perlawanan sengit oleh masyarakat Tapin terhadap Belanda di Kabupaten Tapin. Pihak keluarga Mat Tasan dan Muhammad Panyi mengatakan dari serangkaian siasat dan perlawanan kedua pahlawan yang merupakan paman dan keponakan gugur pada 9 November 1945.
Mat Tasan dan Muhammad Panyi sering melakukan perlawan dengan Belanda tapi penghadangan rombongan Belanda di jembatan pasar (Rantau) adalah akhir dari perjalanan mereka. Mat Tasan melihat Muhammad Panyi tersungkur lebih dulu, yang mana pada akhirnya saat itu Mat Tasan dan Muhammad Panyi gugur dengan delapan tembakan untuk Mat Tasan.
Setelah kejadian tersebut, Mat Tasan dan juga Muhammad Panyi dinyatakan sebagai Syuhada. Diketahui Mat Tasan adalah Paman (Mamarina) Muhammad Panyi.
Mat Tasan adalah anak oleh Abdul Gafur bin Hasyim. Mat Tasan menikah dengan Inda. Melahirkan 12 anak, dan 4 yang masih hidup, yaitu Muhammad Saleh, Idris, Sadiyam, Sarik, yg lainnya meninggal sewaktu kecil.
Baca juga: Pemberontakan Rakyat Toli Toli di Tahun 1919
Muhammad Panyi dikenal pemuda yg pemberani (liwar waninya) di usia sekitaran 16-17 tahun. Ibunya bernama Barqis, istri pertama oleh H Amir (Mandarahan) bin KH Mayasin bin Hasyim. Muhammad Panyi meninggal pada saat masih lajang.
Mat Tasan dan Muhammad Panyi di kebumikan di Alkah Keluarga di Jalan Pahlawan Mandarahan.
Untuk generasi saat ini patut bersyukur dan berterima kasih atas perjuangan orang dulu yang keras ingin merebut kemerdekaan di tanah kelahiran.
Baca juga: Fakta di Balik Patung Raksasa di Ibu Kota Jakarta
Kemudian juga para pembangun bangsa, terutama tokoh-tokoh para pejuang yang ada di daerah kita Kabupaten Tapin. Tidak hanya Mat Tasan dan Panyi, tapi juga seperti Kai Halidin, Kai Idris, Burnau, Daeng Suganda, Haji Makki, A Roba, serta lainnya yang tak bisa disebutkan satu per satu.
Sangat diharapkan Mat Tasan dan Muhammad Panyi ini dapat menambah jiwa nasionalisme dan patriotisme para pemuda serta masyarakat di Kabupaten Tapin untuk membangun Banua nan Bastari. (*)
Editor : S. Anwar