Inovasi Gila Insinyur Indonesia yang Kini Diadopsi Dunia

Reporter : Redaksi
Prof. Dr. Ir. Sedijatmo

Menjelang perhelatan akbar Asian Games pada tahun 1962 di Jakarta, Indonesia sempat menghadapi kepanikan luar biasa terkait infrastruktur. Pemerintah harus segera membangun tujuh menara jaringan listrik tegangan tinggi dari kawasan Tanjung Priok menuju Gelora Senayan, demi menyuplai energi selama kompetisi internasional tersebut.

Masalah besar muncul karena jalur yang harus dilewati adalah rawa-rawa Ancol yang saat itu memiliki struktur lumpur hidup sangat dalam dan lembek, sehingga fondasi konvensional dipastikan akan ambles. Terbukti, dengan metode konvensional biasa, baru dua dari tujuh menara yang berhasil didirikan, sementara lima sisanya masih terbengkalai karena tanahnya yang terlalu lunak.

Baca juga: Warga Bendul Merisi Didenda Jutaan Rupiah, PLN Minta AS Dilaporkan ke Polisi

Di tengah situasi mendesak tersebut, seorang insinyur lokal jenius bernama Prof. Dr. Ir. Sedijatmo, yang saat itu menjabat sebagai pejabat di PT Perusahaan Listrik Negara (PLN), muncul membawa solusi radikal yang belum pernah dicoba sebelumnya.

Ia menciptakan sistem fondasi unik yang terinspirasi dari struktur akar serabut pohon, dengan memadukan pelat beton tipis setebal 10 hingga 20 sentimeter dan pipa-pipa beton penyangga vertikal berdiameter sekitar satu meter yang tertanam ke dalam tanah. Struktur ini memanfaatkan tekanan tanah di sekitarnya untuk mencengkeram secara maksimal, sehingga bangunan di atasnya tetap stabil berdiri tegak meski berada di atas lahan yang super lembek.

Baca juga: Aset Tanah Pemkab Gresik Rawan Disalahgunakan oleh PLN

Keberanian dan kecerdasan proyek ini membuahkan hasil luar biasa. Lima menara sisanya berhasil diselesaikan tepat waktu menggunakan sistem fondasi baru tersebut, sehingga seluruh tujuh menara listrik berdiri kokoh tanpa bergeser sedikit pun. 

Hasilnya, pasokan listrik untuk perhelatan Asian Games 1962 berjalan aman, sekaligus menyelamatkan muka Indonesia di mata dunia sebagai penyelenggara pesta olahraga internasional.

Baca juga: Petugas PLN Gadungan Ditangkap Resmob Polres Tulungagung

Penemuan monumental yang dinamakan Fondasi Cakar Ayam ini akhirnya diakui secara global dan berhasil meraih paten internasional di puluhan negara di berbagai benua, mulai dari Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Prancis, hingga negara-negara di Asia dan kawasan lainnya. Teknologi ini terbukti menjadi solusi terbaik untuk pembangunan landasan pacu bandara, jalan tol, hingga gedung bertingkat di atas lahan basah.

Hingga kini, menara-menara hasil karya Sedijatmo tersebut masih berdiri kokoh di kawasan yang dulunya rawa, kini telah berubah menjadi kawasan industri, sebuah bukti nyata bahwa inovasi anak bangsa mampu memberi dampak yang bertahan lintas generasi dan diakui dunia. (*)

Editor : Redaksi

Peristiwa
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru