Para Raja yang Kehilangan Mahkota Karena Wanita

Reporter : Mula Eka P.
Raja Edward VIII

Banyak pemimpin negara dan raja yang kehilangan pucuk pimpinannya karena seorang wanita. Ada yang mengundurkan diri hingga dikudeta. Siapa saja mereka ?

Berikut daftar raja yang kehilangan mahkota karena wanita

Baca juga: Kisah Tahanan Misterius Prancis Man In The Iron Mask

Raja Edward VIII (Inggris)

Bagi sebuah monarki sebesar Britania Raya, takhta adalah segalanya, namun tidak bagi Raja Edward VIII pada tahun 1936. Edward menghancurkan karier politik dan reputasi kerajaannya demi seorang janda asal Amerika Serikat bernama Wallis Simpson.

Karena hukum kerajaan dan gereja menentang keras pernikahan tersebut, Edward memilih mundur dari takhta hanya beberapa bulan setelah menjabat, memicu krisis konstitusional terbesar dalam sejarah modern Inggris.

Marc Antony (Romawi)

Jauh sebelum era modern, sejarah Romawi Kuno mencatat kehancuran salah satu jenderal dan penguasa Ceiter terhebatnya, Marc Antony. Langkah politik Antony goyah setelah ia jatuh hati pada Ratu Mesir, Cleopatra, hingga ia mulai memprioritaskan kepentingan Mesir di atas Roma.

Aliansi romantis ini memicu perang saudara dengan Octavianus, yang berakhir dengan kekalahan total militer Antony hingga ia memilih mengakhiri hidupnya sendiri di Alexandria.

Raja Xuanzong (Dinasti Tang)

Di belahan bumi timur, Dinasti Tang yang berada di puncak keemasannya harus terseret ke jurang kehancuran akibat obsesi sang kaisar, Xuanzong. Masa tua Kaisar Xuanzong habis dalam buaian selir kesayangannya, Yang Guifei, hingga ia menelantarkan urusan pemerintahan dan membiarkan korupsi merajalela.

Kelalaian ini memicu Pemberontakan An Lushan yang menewaskan jutaan nyawa, memaksa sang kaisar melarikan diri, dan meruntuhkan stabilitas salah satu dinasti terbesar Tiongkok.

Raja Louis XV (Prancis)

Prancis menuju gerbang revolusi bukan dalam semalam, melainkan dipupuk oleh dekadensi moral para penguasanya, termasuk Raja Louis XV. Louis XV sangat dipengaruhi oleh selir resminya, Madame de Pompadour dan Madame du Barry, yang mencampuri urusan diplomasi dan perang negara.

Pengaruh para wanita ini membuat Prancis terjebak dalam utang finansial yang masif akibat gaya hidup mewah istana, yang kelak menjadi bom waktu bagi runtuhnya absolutisme Prancis.

Kesimpulan

Dari sudut pandang sejarah, kehancuran para penguasa ini sebenarnya tidak murni disebabkan oleh sang wanita secara fisik. Wanita dalam narasi ini sering kali menjadi katalis yang menyingkap titik lemah sang raja: hilangnya rasionalitas, penelantaran tugas negara, dan obsesi pribadi di atas kepentingan publik.

Sejarah membuktikan bahwa senjata paling mematikan bagi sebuah kekuasaan sering kali bukanlah pedang musuh, melainkan hasrat dari dalam diri sendiri. (*)

Editor : S. Anwar

Peristiwa
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru