Siapa yang tidak kenal dengan angka "212", untaian rajah di dada, serta kapak maut naga geni? Lintas generasi di Indonesia pasti langsung teringat pada sosok pendekar nyentrik bin jenaka, Wiro Sableng. Namun, di balik meledaknya mahakarya cerita silat (cersil) yang legendaris tersebut, ada tangan dingin seorang novelis jenius asal ranah Minang bernama Bastian Tito.
Pria berdarah Pariaman, Sumatra Barat, kelahiran 23 Agustus 1945 ini bukan sekadar penulis biasa. Ia adalah arsitek kebudayaan populer tanah air yang warisan kreativitasnya kini terus hidup, bahkan mengalir deras pada sang anak yang merupakan aktor papan atas Indonesia, Vino G. Bastian.
Baca juga: Alasan Abdul Malik Karim Amrullah Memilih Nama HAMKA dari Nama Aslinya
Bakat Menulis Sejak SD yang Menjelma Jadi Industri
Ketertarikan Bastian Tito terhadap dunia kata dan imajinasi sudah tampak sejak ia masih duduk di bangku kelas tiga sekolah dasar. Konsistensinya merawat bakat tersebut membuahkan hasil ketika ia mulai membukukan karya-karyanya pada tahun 1964.
Tiga tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1967, babak baru sejarah sastra populer Indonesia dimulai. Bastian merilis serial Wiro Sableng. Murid dari sinto gendeng tersebut ternyata meledak luar biasa di pasaran, bertransformasi menjadi salah satu serial cersil dengan episode terpanjang dan paling laku di Indonesia. Saking fenomenalnya, kisah petualangan ini sukses diadaptasi menjadi sinetron ikonik yang dibintangi Kenken (Herning Sukendro) pada era 90-an hingga diangkat kembali ke layar lebar modern.
Kontras yang Unik: Sastra Berbudaya Minang dan Gelar MBA
Meskipun publik terlanjur lekat mengenal Bastian lewat banyolan dan aksi sableng sang pendekar 212, ia sejatinya adalah seorang intelektual dan profesional dengan latar belakang mentereng.
Pecinta Akar Budaya Leluhur
Sebagai putra asli Minangkabau, Bastian menuangkan kecintaannya pada ranah Sumatra Barat melalui cersil bertajuk Kupu-kupu Giok Ngarai Sianok. Buku ini ditulis dengan riset mendalam serta dibumbui latar sosiokultural Minang yang kental. Ia juga piawai menulis novel bernuansa humor.
Eksekutif Berpendidikan Tinggi
Di luar gaya penulisannya yang eksentrik, Bastian menyandang gelar Master of Business Administration (MBA). Ia sempat menjalani karier mapan sebagai karyawan di bagian purchasing sebuah perusahaan swasta nasional.
Kehidupan Pribadi dan Hubungan Dekat dengan Buya Hamka
Dalam mengarungi biduk rumah tangga, Bastian Tito menikahi seorang perempuan berdarah Manado, Herna Debby. Sebuah kisah religi yang menyentuh mewarnai keluarga ini, di mana sang istri memutuskan memeluk agama Islam (mualaf) dengan dibimbing langsung oleh ulama besar kharismatik asal Minangkabau, Buya Hamka.
Pernikahan harmonis ini dikaruniai lima orang anak. Dari kelima buah hatinya, darah seni kreatif Bastian mengalir kuat ke dalam diri Vino G. Bastian. Bedanya, jika sang ayah lihai merangkai cerita lewat jalinan huruf di atas kertas, Vino menerjemahkan imajinasi itu melalui seni peran watak yang memukau di depan kamera layar lebar.
Vino bahkan sempat memerankan langsung karakter Wiro Sableng dalam film adaptasi modern sebagai bentuk penghormatan bagi mahakarya sang ayah.
Bastian Tito berpulang ke pangkuan Sang Pencipta pada 2 Januari 2006. Kendati raganya telah tiada, untaian petualangan di dunia persilatan, gelak tawa khas Wiro, dan nomor keramat 212 akan selalu menjadi warisan sastra yang abadi di hati masyarakat Indonesia. (*)
Editor : Bambang Harianto