Alasan Abdul Malik Karim Amrullah Memilih Nama HAMKA dari Nama Aslinya

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Abdul Malik Karim Amrullah atau Buya Hamka
Abdul Malik Karim Amrullah atau Buya Hamka
grosir-buah-surabaya

Bagi masyarakat Provinsi Sumatera Barat, nama Buya HAMKA adalah identitas kebanggaan yang melampaui zaman. Namun, tahukah anda bahwa nama yang kita kenal sekarang bukanlah nama aslinya? 

Tokoh kelahiran Sungai Batang, Maninjau, pada 16 Februari 1908 ini memiliki nama lengkap Prof. Dr. Haji Abdul Malik Karim Amrullah. Penggunaan akronim atau singkatan nama yang kini populer di kalangan mubaligh sebenarnya dipelopori oleh putra terbaik Minang ini. 

Berikut adalah alasan menarik di balik perubahan nama tersebut.

HAMKA Sebuah Upaya Keluar dari Bayang-Bayang Nama Besar Sang Ayah

Abdul Malik lahir dari keluarga ulama terpandang. Ayahnya adalah Dr Haji Abdul Karim Amrullah (Haji Rasul). Dia adalah sosok pembaharu Islam yang sangat disegani di Sumatera. 

Nama "Abdul Malik" sendiri diberikan sang ayah untuk mengenang putra gurunya di Makkah, Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi. 

Titik awal pencarian jati diri Abdul Malik dimulai dari keinginannya untuk mandiri secara intelektual. Sebagai pemuda yang tumbuh di bawah bayang-bayang kebesaran ayahnya, maka merasa perlu memiliki identitas sendiri yang tidak terus-menerus dikaitkan dengan nama besar sang ayah. 

Penggunaan nama HAMKA (Haji Abdul Malik Karim Amrullah) pertama kali muncul secara konsisten setelah ia menunaikan ibadah haji dan mulai aktif di dunia pergerakan. Alasan praktis di balik nama HAMKA berkaitan erat dengan profesinya sebagai jurnalis dan penulis.

Nama lengkap "Haji Abdul Malik Karim Amrullah" dirasa terlalu panjang untuk dicantumkan dalam kolom surat kabar atau sampul buku. 

Sebagai seorang wartawan di berbagai media seperti Pelita Andalas hingga Panji Masyarakat, ia membutuhkan nama yang ringkas, mudah diingat, dan "menjual".

Selain HAMKA, ia juga sempat menggunakan nama samaran lain seperti A.S. Hamid dan Indra Maha untuk menyamarkan identitasnya dalam tulisan-tulisan tertentu. 

Nama HAMKA akhirnya menjadi simbol kemerdekaan berpikir sang ulama. Dari seorang pemuda yang mencoba lepas dari pengaruh ayahnya, ia berhasil membuktikan kualitas dirinya dengan melahirkan sedikitnya 85 hingga 118 jilid karya tulis sepanjang hayatnya. 

Nama singkatan ini justru membawa keberkahan; orang lebih mudah menyebut dan mengenang sosoknya sebagai ulama yang merakyat sekaligus sastrawan yang piawai merangkai kata. 

Hingga wafatnya pada 24 Juli 1981, nama HAMKA telah abadi sebagai merek intelektual yang disegani hingga ke mancanegara. 

HAMKA mengajarkan bahwa bukan panjangnya nama yang membuat seseorang dihormati, melainkan bobot karya dan integritas yang menyertai nama tersebut. Nama pendek "HAMKA" kini justru terasa lebih besar dan mendalam maknanya bagi setiap orang Minang dan umat Islam di Indonesia. (*)