"Hanya dengan pendidikan kita bisa tumbuh menjadi suatu bangsa." Kalimat visioner dari Raden Dewi Sartika ini menjadi fondasi bagi gerak emansipasi perempuan di Indonesia. Lahir di Cicalengka, Kabupaten Bandung pada 4 Desember 1884, Dewi Sartika adalah singa podium pendidikan yang berhasil mendobrak kekakuan adat demi mengangkat derajat kaum wanita pribumi. Atas jasa besarnya, ia diakui sebagai Pahlawan Nasional oleh Pemerintah RI pada tahun 1966.
Masa Kecil dan Ujian Hidup Sang Pionir
Baca juga: Suzuki Menggelar Owners Fun Race 2025
Lahir dari keluarga priyayi Sunda ternama—pasangan R. Rangga Somanegara dan R. A. Rajapermas—Dewi Sartika kecil tumbuh dengan privilese pendidikan dasar. Sejak dini, ia gemar bermain "sekolah-sekolahan" selepas pulang sekolah, di mana ia selalu bertindak sebagai guru yang mengajarkan baca-tulis kepada anak-anak pembantu kepatihan.
Namun, badai kehidupan menerpa pada tahun 1893. Ayahnya diasingkan ke Ternate oleh pemerintah kolonial atas tuduhan politik, dan seluruh harta keluarganya disita. Dewi Sartika pun terpaksa tumbuh sebagai "anak titipan" di rumah pamannya. Keterbatasan ekonomi dan hilangnya privilese justru menempa tekadnya. Belajar dari penderitaan ibunya yang sempat tidak berdaya, ia berjanji akan membebaskan kaum perempuan dari keterbelakangan lewat pendidikan.
Mendirikan 'Sakola Istri' dan Menembus Batas Adat
Setibanya di Bandung bersama sang ibu pasca-pengasingan, Dewi Sartika bergerak cepat. Keberaniannya mengetuk pintu Bupati Bandung yang progresif, R.A.A. Martanegara, membuahkan hasil.
16 Januari 1904: Dewi Sartika resmi mendirikan Sakola Istri di Pendopo Kabupaten Bandung. Ini adalah sekolah pertama di Jawa Barat yang dikhususkan bagi perempuan pribumi.
1910: Sekolah ini direlokasi ke Jalan Ciguriang dan berganti nama menjadi Sakola Kaoetamaan Istri.
Baca juga: Kisah Raja Ali Haji di Balik Lahirnya Bahasa Indonesia
Kurikulum Nyata: Tak hanya diajarkan membaca, menulis, berhitung, dan agama, para murid juga dibekali keterampilan domestik seperti menjahit, memasak, dan mengelola keuangan agar menjadi wanita yang mandiri.
Sekolah ini berkembang masif. Pada tahun 1912, sembilan cabang telah berdiri di seluruh Jawa Barat, dan melebar hingga ke setiap kota/kabupaten pada tahun 1920. Pada tahun 1929, sekolah ini resmi bersalin nama menjadi Sakola Radén Déwi.
Warisan Pemikiran dan Penghargaan Dunia
Dewi Sartika menuangkan visi emansipasinya dalam buku bertajuk De Inlandsche Vrouw (Wanita Bumiputera). Ia menekankan konsep Sunda “cageur bageur”—yaitu membentuk anak yang sehat lahir-batin serta berperilaku baik melalui kesetaraan hak pendidikan.
Baca juga: KH Ahmad Sanusi, Sang Arsitek Pancasila
Atas dedikasi yang luar biasa, pemerintah Hindia Belanda menganugerahinya bintang jasa Orde van Oranje-Nassau. Kehidupan pribadinya pun penuh harmoni; pada tahun 1906, ia menikah dengan Raden Kanduruhan Agah Suriawinata, seorang guru yang mendukung penuh perjuangannya.
Akhir Hayat di Pengungsian: Saat Agresi Militer Belanda meletus pascakemerdekaan, kondisi kesehatan Dewi Sartika menurun drastis. Ia ikut mengungsi dan mengembuskan napas terakhirnya di Cineam, Tasikmalaya pada 11 September 1947. Jasadnya kemudian dipindahkan ke makam keluarga di Jalan Karang Anyar, Bandung.
Hingga hari ini, cita-cita luhurnya terus dijaga oleh Yayasan Dewi Sartika (berdiri sejak 1951) yang konsisten mengelola berbagai lembaga pendidikan formal demi melahirkan generasi perempuan yang cerdas dan berkarakter. (*)
Editor : S. Anwar