Kisah Raja Ali Haji di Balik Lahirnya Bahasa Indonesia

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Raja Ali Haji
Raja Ali Haji
grosir-buah-surabaya

Nama Raja Ali Haji tidak mungkin dipisahkan dari sejarah panjang jati diri bangsa Indonesia. Dari sebuah pulau mungil nan bersejarah bernama Pulau Penyengat di Kepulauan Riau, ia melahirkan gagasan-gagasan besar yang kelak menjadi fondasi utama bahasa nasional kita, Bahasa Indonesia.

Lahir sekitar tahun 1808, Raja Ali Haji adalah seorang ulama, sejarawan, dan sastrawan jenius yang mewarisi darah pejuang Bugis dan Melayu. Ia merupakan cucu dari pahlawan besar Raja Haji Fisabilillah. Namun, jika sang kakek membela tanah air di medan laga dengan hunjaman pedang, Raja Ali Haji memilih garis perjuangan yang berbeda: lewat goresan pena yang tajam, taktis, dan visioner.

Bapak Bahasa Indonesia: Peletak Dasar Tata Bahasa Melayu

Jauh sebelum para pemuda dari berbagai pelosok Nusantara berkumpul dan menggaungkan Sumpah Pemuda pada tahun 1928, Raja Ali Haji telah lebih dulu menyusun fondasi bahasa persatuan tersebut. Lewat buku Pedoman Bahasa, ia menjadi pencatat pertama dasar-dasar tata bahasa Melayu secara sistematis.

Tak berhenti di situ, ia juga menyusun Kitab Pengetahuan Bahasa, yang merupakan kamus ekabahasa (monolingual) pertama di Nusantara. Standar bahasa Melayu Riau-Lingga yang ia kodifikasi dan bukukan inilah yang kemudian disepakati oleh para pendiri bangsa sebagai akar dari Bahasa Indonesia. Hal ini menjadikan dirinya sebagai sosok sentral di balik keberadaan bahasa yang kita gunakan untuk berkomunikasi hari ini.

Mahakarya Gurindam Dua Belas dan Catatan Sejarah Dunia

Dunia sastra dan literasi Nusantara berutang besar pada mahakarya monumental beliau, Gurindam Dua Belas (1846). Karya ini bukan sekadar puisi lama atau rangkaian kata berima biasa, melainkan sebuah tuntunan moral, spiritual, dan etika yang mendalam bagi kehidupan bermasyarakat serta bernegara. Lewat Gurindam, Raja Ali Haji membawa arus pembaruan sastra pada zamannya, menggabungkan keindahan rima Melayu dengan nilai-nilai religius yang kuat.

Selain sebagai pujangga, ia adalah seorang sejarawan yang sangat produktif. Buku Tuhfat al-Nafis (Hadiah yang Berharga) karyanya hingga kini dianggap sebagai salah satu catatan sejarah Melayu terlengkap dan paling tepercaya. Buku tersebut merekam dinamika peristiwa di Selat Malaka dengan sangat mendetail, sebuah pencapaian luar biasa mengingat keterbatasan akses rujukan pada masa itu.

Penasihat Kerajaan yang Pakar Hukum Politik

Kecerdasan multidimensi yang dimiliki Raja Ali Haji membuatnya dipercaya sebagai penasihat utama di Kesultanan Lingga-Riau. Ia tidak hanya bergelut dengan estetika kata-kata, tetapi juga memikirkan nasib tata kelola pemerintahan dan hajat hidup rakyat.

Melalui karya tulisnya yang berjudul Mukaddimah fi Intizam, ia menumpahkan pemikirannya tentang hukum dan politik. Bagi Raja Ali Haji, sebuah pemerintahan atau kerajaan hanya akan berdiri dengan kuat jika didasari pada tatanan hukum yang adil, serta dipimpin oleh para pemegang kekuasaan yang berilmu dan bermoral tinggi.

Warisan Abadi Sang Pujangga Nusantara

Raja Ali Haji mengembuskan napas terakhirnya di Pulau Penyengat sekitar tahun 1873. Atas jasa-jasanya yang tak ternilai dalam membangun peradaban bahasa, sastra, dan budaya bangsa, Pemerintah Republik Indonesia secara resmi menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional pada 5 November 2004.

Kini, setiap kali kita berbicara, menulis, dan merajut persatuan dalam Bahasa Indonesia, sejatinya kita sedang merayakan warisan emas dari sang pujangga asal Pulau Penyengat. Raja Ali Haji telah membuktikan kepada dunia bahwa pena benar-benar bisa lebih tajam daripada pedang dalam menyatukan sebuah bangsa yang besar. (*)