Nama Prof. Dr. Sjafri Sairin, M.A., menempati posisi terhormat dalam jajaran intelektual dan pengamat sosial di Indonesia. Guru Besar Antropologi Universitas Gadjah Mada (UGM) ini dikenal sebagai ilmuwan yang tidak hanya matang di dunia akademik, tetapi juga memiliki rekam jejak panjang dalam memperkuat fondasi riset dan kebijakan publik di tingkat nasional maupun internasional.
Lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat, pada 14 Februari 1945, tokoh Minangkabau yang kini menginjak usia 81 tahun tersebut merupakan salah satu pilar pengembang ilmu antropologi modern di Indonesia, khususnya dalam membedah dinamika sosial budaya masyarakat.
Baca juga: Sosok Adi Utarini Bikin Dunia Tercengang
Pendidikan Kelas Dunia: Dari Australia hingga Universitas Cornell
Dahaga akademis yang kuat membawa Sjafri Sairin terbang ke berbagai belahan dunia untuk menimba ilmu. Setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya di tanah air, ia berhasil menembus salah satu kampus terbaik di belahan selatan bumi, Universitas Nasional Australia (ANU). Dari kampus bergengsi di Canberra tersebut, ia resmi meraih gelar Master of Arts (M.A.) pada awal tahun 1981.
Tak puas sampai di situ, Sjafri melanjutkan petualangan intelektualnya ke Amerika Serikat. Ia sukses merengkuh gelar Doktor (S3) dari Cornell University pada tahun 1991—sebuah universitas top dunia anggota Ivy League yang dikenal menelurkan banyak pakar legendaris tentang Asia Tenggara.
Puncak Pengabdian di Kampus Biru UGM
Kembali ke tanah air dengan bekal keilmuan yang matang, Sjafri mendedikasikan hidupnya untuk mengajar di almamater tercinta, Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Dedikasi, sumbangsih pemikiran, dan belasan karya ilmiah yang dilahirkannya mengantarkan Sjafri mencapai puncak karier akademis tertinggi. Pada tahun 1998, ia resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar (Profesor) Antropologi UGM.
Baca juga: Oemar Seno Adji, Anak Bupati yang Jadi Nakhoda Hukum
Di bawah bimbingannya, lahir generasi-generasi baru antropolog dan peneliti sosial yang kini tersebar di berbagai instansi pemerintahan, lembaga riset, hingga universitas-universitas di seluruh Indonesia.
Kiprah di Pemerintahan: Dipercaya Menristek Hatta Rajasa
Intelektualisme Sjafri Sairin tidak hanya berputar di dalam ruang kuliah dan laboratorium. Kompetensinya dalam memetakan masalah sosial membuat negara memanggilnya untuk ikut serta merumuskan kebijakan makro di jajaran pemerintahan.
Pada 7 Januari 2003, Sjafri resmi dilantik oleh Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) saat itu, Hatta Rajasa, untuk mengemban amanah penting sebagai Deputi Menristek Bidang Dinamika Masyarakat. Dalam posisi ini, ia bertanggung jawab menyelaraskan perkembangan sains dan teknologi agar sejalan dan membawa dampak positif bagi struktur serta dinamika kehidupan sosial masyarakat Indonesia.
Baca juga: Penafsiran yang Keliru atas Pernyataan Jusuf Kalla
Pengabdian Tanpa Batas di Kancah Internasional
Meski telah memasuki masa purnatugas di UGM, dedikasi Prof. Sjafri Sairin dalam dunia pendidikan seolah tidak pernah padam. Pengakuan atas kepakarannya melintasi batas negara. Namanya tetap aktif berkontribusi di kancah regional Asia Tenggara dengan menjadi pengajar dan dosen di Universiti Utara Malaysia (UUM).
Melalui kiprahnya yang melintasi benua dan negara, Prof. Dr. Sjafri Sairin adalah representasi nyata dari ilmuwan Indonesia sejati—seorang akademisi berwawasan global asal Ranah Minang yang tetap kukuh mengabdikan ilmunya demi kemanusiaan dan kemajuan bangsa. (*)
Editor : S. Anwar