Nurtanio Jadi Otak di Balik Pesawat Pertama Indonesia

Reporter : Redaksi
Nurtanio Pringgoadisuryo

Ia tak gugur di medan perang.
Namun jasanya membuat Indonesia mampu terbang dengan kakinya sendiri. Nama Nurtanio Pringgoadisuryo mungkin kalah populer dibanding pahlawan perang bersenjata. Padahal, tanpa dirinya, Indonesia mungkin tak pernah bermimpi memiliki industri dirgantara sendiri.

Lahir di Kandangan, Kalimantan Selatan pada tahun 1923, Nurtanio tumbuh di masa ketika bangsa ini bahkan belum merdeka. Di usia muda, ia sudah terobsesi pada satu hal: pesawat terbang. Saat Indonesia masih sibuk melawan penjajah, Nurtanio justru berpikir lebih jauh—bagaimana bangsa ini bisa mandiri secara teknologi.

Setelah kemerdekaan, Indonesia nyaris tidak memiliki apa-apa. Tidak ada pabrik pesawat, tidak ada insinyur dirgantara, bahkan tidak ada suku cadang. Tapi Nurtanio tidak menunggu negara kaya dulu untuk bermimpi besar. Bersama rekan-rekannya di Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI), Nurtanio mulai merakit pesawat dari rongsokan perang, suku cadang bekas, dan alat seadanya.

Dari bengkel sederhana di Bandung, lahirlah pesawat NU-200 “Sikumbang” pada tahun 1954. Inilah pesawat pertama yang dirancang dan dibuat oleh putra Indonesia sendiri. Bukan buatan Belanda. Bukan buatan Amerika. Tapi buatan bangsa yang baru belajar berdiri.

Tak berhenti di situ, Nurtanio menciptakan NU-225, lalu Belalang 89 dan Belalang 90, pesawat latih yang kelak digunakan militer Indonesia. Semua itu dilakukan saat anggaran minim, teknologi terbatas, dan Indonesia masih sibuk bertahan dari gejolak politik dan pemberontakan.

Ironisnya, Nurtanio wafat bukan karena perang, melainkan kecelakaan uji terbang pada tahun 1966. Ia gugur saat menguji pesawat ciptaannya sendiri. Ia meninggal dalam keadaan yang paling ia cintai: terbang demi kemajuan bangsanya.

Namun kematiannya bukan akhir.
Warisan Nurtanio menjadi fondasi lahirnya LAPIP, yang kemudian berkembang menjadi IPTN, dan kini dikenal sebagai PT Dirgantara Indonesia. Dari pemikiran Nurtanio pula, muncul sosok B.J. Habibie, yang meneruskan mimpi besar kedirgantaraan nasional.

Hari ini, ketika Indonesia mampu memproduksi pesawat CN, NC, dan N-series, sedikit yang sadar:
semua itu bermula dari satu orang yang berani bermimpi di tengah keterbatasan.

Nurtanio mengajarkan satu hal penting : kemerdekaan sejati bukan hanya soal wilayah, tapi kemampuan bangsa untuk berdiri di langitnya sendiri. (*)

Editor : Bambang Harianto

Peristiwa
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru