Jangan Ambil Saat Menemukan Tanduk Rusa di Hutan

Reporter : Redaksi
Tanduk Rusa

Tanduk rusa atau juga disebut ranggah (antler) sebenarnya merupakan tulang mati yang bercabang, tidak seperti tanduk lain (seperti pada sapi atau domba) yang terbuat dari keratin yang membungkus inti tulang hidup. Setiap tahun, tanduk rusa akan rontok dalam proses yang disebut "pelepasan" atau "casting". 

Ketika tanduk rusa pertama kali tumbuh kembali, tanduk tersebut ditutupi oleh "beludru", sejenis kulit khusus yang mengandung banyak pembuluh darah dan sel saraf. Setelah selesai tumbuh, beludru tersebut mati dan dihilangkan oleh rusa dengan cara menggosokkan tanduknya ke tanah atau ke cabang pohon. Proses ini dapat mengubah tulang putih tanduk menjadi warna yang lebih kecoklatan yang ditinggalkan oleh beludru dan sisa pembuluh darah.

Baca juga: Tim Subdit IV Tipidter Polda Jatim Tangkap Penjual Tanduk Rusa Timor

Tanduk rusa dianggap sebagai jaringan mamalia yang tumbuh paling cepat, dan pertumbuhannya dipicu oleh peningkatan kadar sinar matahari dan produksi testosteron. Tanduk yang lebih besar sering dianggap sebagai tanda usia, kekuatan, dan kebugaran genetik. Jantan biasanya menggunakannya selama musim kawin, ketika perkelahian bisa sangat agresif. Setelah musim kawin berakhir, kadar testosteron dalam darahnya menurun, menyebabkan tanduk rontok.

Meskipun mungkin menggoda untuk diambil, kita sebaiknya jangan mengambil tanduk rusa yang telah lepas di alam liar. Hal ini karena tanduk rusa merupakan bagian penting dari ekosistem yang menyediakan sumber kalsium berharga bagi hewan-hewan lain, terutama hewan pengerat dan mamalia kecil lainnya. 

Beberapa negara (seperti Amerika, India, dan sejumlah negara di Eropa) bahkan telah melarang pengambilan tanduk rusa yang lepas di alam liar. Larangan pengambilan tanduk rusa yang lepas sering diberlakukan selama bulan-bulan tertentu, yang penting untuk melindungi ekosistem, serta keselamatan satwa liar dan manusia. (*)

Editor : S. Anwar

Peristiwa
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru