Mengenal Harun Zain, Gubernur Legendaris yang Membangun Sumatra Barat

Reporter : Redaksi
Harun Zain

Sejarah pembangunan Sumatra Barat dan dunia ketenagakerjaan Indonesia tidak bisa dilepaskan dari nama besar Prof. Sutan Harun Al Rasyid Zain gelar Datuak Sinaro. Pria kelahiran 1 Maret 1927 ini adalah paket lengkap seorang tokoh bangsa: pejuang kemerdekaan, akademisi ulung, ekonom andal, sekaligus politikus bertangan dingin.

Menjabat sebagai Gubernur Sumatra Barat selama dua periode (1967–1977), menteri era Orde Baru, hingga rektor di dua universitas besar, kisah hidup putra Pariaman ini adalah teladan nyata pengabdian tanpa batas untuk republik.

Dari Kopral Penumpas Westerling hingga Lulusan Berkeley

Meskipun lahir dari keluarga intelektual terkemuka—putra dari pakar bahasa legendaris Indonesia, Prof. Sutan Muhammad Zain dan Siti Murin—masa muda Harun Zain justru penuh dengan aroma mesiu perjuangan. Saat Revolusi Fisik bergejolak, ia terjun langsung memanggul senjata di Surabaya bersama Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP).

Pada tahun 1950, kompinya dikirim ke Jakarta untuk menumpas pemberontakan berdarah APRA yang dipimpin oleh Raymond Westerling. Setelah misi tersebut berhasil, Harun memutuskan demobilisasi dan pensiun dari militer dengan pangkat terakhir Kopral.

Usai meletakkan senjata, ia beralih ke jalur pena. Harun meraih gelar Sarjana Ekonomi dari Universitas Indonesia (FE UI) pada tahun 1958. Kecerdasannya membawa Harun terbang ke Amerika Serikat untuk mendalami ilmu hubungan perburuhan dan industri di University of California, Berkeley hingga tahun 1960.

Menyelamatkan Pendidikan dan Memimpin Sumatra Barat

Sepulang dari Amerika, karier akademisnya melesat. Atas dorongan tokoh besar Chairul Saleh dan Hasyim Ning, Harun Zain dipercaya menjabat sebagai Rektor Universitas Andalas (Unand) Padang pada periode 1964–1966.

Kepiawaiannya memimpin universitas membuat radar Istana meliriknya. Pada 4 Juni 1966, ia resmi diangkat menjadi Gubernur Sumatra Barat. Di bawah kepemimpinannya selama 10 tahun, Sumatra Barat bangkit menata kembali roda ekonomi, infrastruktur, dan sosial pasca-pergolakan daerah.

Sebagai pemimpin yang menghormati nilai-nilai lokal, Harun juga mendukung penuh dunia pendidikan Islam tradisional. Bersama tokoh emansipasi Rahmah El Yunusiyah, ia meresmikan Fakultas Tarbiyah dan Dakwah Perguruan Tinggi Diniyyah Puteri Padang Panjang.

Atas pengabdiannya yang luar biasa, pada tahun 1977 ia dianugerahi Satyalancana Pembangunan. Di tahun yang sama, ia juga dinobatkan sebagai penghulu Suku Piliang Piaman Sabatang Panjang dengan gelar Datuak Sinaro. Sebelum turun takhta, ia mengusulkan sosok Brigjen TNI Azwar Anas untuk melanjutkan tongkat estafet kepemimpinannya.

Dipercaya Menjadi Menteri dan Rektor Pertama Mercu Buana

Latar belakang pendidikannya di Berkeley mengenai dunia perburuhan membuat Presiden Soeharto mendapuknya menjadi Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Menakertrans) dalam Kabinet Pembangunan III (1978–1983).

Setelah menuntaskan tugas di kabinet, Harun tidak lantas beristirahat. Ia ditarik menjadi Anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA-RI) periode 1983–1988 di bawah pimpinan Maraden Panggabean, serta tercatat menjadi Anggota MPR-RI selama empat periode berturut-turut.

Jiwa akademisnya kembali memanggil ketika ia didapuk menjadi Rektor Pertama Universitas Mercu Buana, Jakarta dari tahun 1985 hingga 1997, mencetak ribuan sarjana baru untuk masa depan Indonesia.

Akhir Perjalanan Sang Maestro Pembangunan

Harun Zain mengembuskan napas terakhirnya pada 19 Oktober 2014 dalam usia 87 tahun karena sakit tua. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam tidak hanya bagi masyarakat Sumatra Barat, tetapi juga bagi dunia akademis dan pemerintahan Indonesia.

Sebagai bentuk penghormatan tertinggi atas jasa besar dan pengabdiannya yang multidimensi bagi tanah air, jenazah sang Kopral Pejuang sekaligus Profesor Ekonomi ini dimakamkan dengan khidmat di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta Selatan. (*)

Editor : S. Anwar

Peristiwa
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru