Mudjono, Polisi Tentara Laut yang Sukses Jadi Mahkamah Agung

Reporter : Redaksi
Mudjono

Sejarah bangsa Indonesia mencatat banyak kisah inspiratif tentang tokoh-tokoh yang merangkak dari bawah hingga mencapai puncak karier tertinggi. Salah satu kisah yang jarang diketahui publik hari ini adalah perjalanan hidup Letnan Jenderal TNI (Purn.) Mudjono, S.H.

Siapa sangka, pria yang mengawali pengabdiannya sebagai seorang Polisi Tentara Laut (PTL) di daerah pelosok ini, kelak menjadi orang nomor satu di lembaga peradilan tertinggi negara: Mahkamah Agung (MA).

Baca juga: Faktor Penyebab Banyak Eksekutif Kalah di Meja Perundingan

Mengawali Karier dari Bawah di Karesidenan Besuki

Lahir pada 30 Juli 1927, Mudjono muda bukanlah siapa-siapa dalam dunia hukum. Ia memulai dedikasinya untuk tanah air dengan bergabung sebagai anggota Polisi Tentara Laut (PTL) di bawah Komando Angkatan Laut Karesidenan Besuki, Jawa Timur.

Kehidupan sebagai prajurit laut membentuk kedisiplinan dan mental baja dalam dirinya. Namun, garis tangan Mudjono mulai berubah ketika kepemimpinan dan kecerdasannya dilirik oleh pimpinan militer. Ia kemudian mendapatkan tugas penting yang menjadi titik balik hidupnya: mengikuti pendidikan di Akademi Hukum Militer (AHM) di Jakarta.

Melompat ke Dunia Hukum Militer dan Menembus Mahkamah Agung

Baca juga: Notula Suap Hakim Minyak Goreng di Tangan Zarof

Keputusan untuk mendalami hukum militer terbukti tepat. Setamat dari Akademi Hukum Militer, Mudjono tidak lagi kembali ke laut, melainkan ditarik ke pusat kekuasaan hukum Angkatan Darat. Ia dipercaya menjabat sebagai Asisten II Direktur Kehakiman Angkatan Darat di Jakarta.

Kariernya di dunia hukum terus meroket. Puncaknya terjadi pada 18 Februari 1981, ketika Letjen TNI Mudjono resmi dilantik menjadi Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia. Jabatan ini menjadi bukti nyata bahwa seorang prajurit dari daerah bisa memimpin korps kehakiman tertinggi di Indonesia berkat integritas dan kerja keras.

Akhir Perjalanan Sang Jenderal Penegak Keadilan

Baca juga: Sempat Divonis Bebas, AKBP Achiruddin Ditangkap Lagi

Namun, di tengah pengabdiannya yang gemilang, takdir berkata lain. Menjelang tahun ketiganya memimpin Mahkamah Agung, Letjen Mudjono harus berjuang melawan penyakit kanker tulang yang dideritanya.

Pada 14 April 1984, sang jenderal mengembuskan napas terakhirnya di Jakarta. Ia wafat dalam tugasnya sebagai Ketua MA aktif. Sebagai bentuk penghormatan atas dedikasi dan jasa besarnya yang luar biasa bagi hukum dan militer Indonesia, jenazah Letjen Mudjono dimakamkan dengan upacara militer di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta.

Kisah Letjen Mudjono adalah potret nyata bahwa dedikasi yang konsisten, dari seorang Polisi Tentara Laut hingga menjadi Ketua MA, akan selalu meninggalkan warisan berharga bagi sejarah bangsa. (*)

Editor : S. Anwar

Peristiwa
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru