Joao Havelange Membuat FIFA dan Piala Dunia Menjadi Komersil

Reporter : Redaksi
Joao Havelange

Piala Dunia sudah usai, namun ada satu sosok yang mungkin memiliki citra buruk yakni Presiden FIFA, Gianni Infantino yang dicap sebagai berikut : korup, standar ganda, penjilat, menganak emaskan pihak tertentu, mata duitan, munafik hingga terlalu komersil. FIFA dan Piala Dunia yang kini sangat komersil tidak lepas dari satu-satunya Presiden FIFA non-Eropa yang mengubah Piala Dunia dan FIFA selamanya.

Perebutan Kursi Presiden FIFA

Baca juga: Daftar Peserta Piala Dunia 2026

FIFA pada periode 1961 hingga 1974 dipimpin oleh mantan wasit asal Inggris yakni Sir Stanley Rous. Dibawah Rous keanggotaan FIFA bertambah setelah negara-negara dari Asia dan Afrika pelan-pelan membebaskan diri dari penjajah Eropa mereka sehingga FIFA terlihat lebih global dibanding sebelumnya yang dianggap Eropa-sentris. Setelah hampir satu dekade tanpa adanya persaingan, Rous tiba-tiba medapat tantangan dari pengacara sekaligus pengusaha asal Brazil, Joao Havelange untuk posisi orang nomor satu di FIFA.

Havelange, didampingi jagoan dari negaranya Pele bahkan selama 4 tahun berkeliling ke lebih dari 80 negara untuk meraup suara dalam pemilihan ketua.

Atlet Olimpiade ke Kursi Ketua

Jean-Marie Faustin Godefroid de Havelange lahir di Rio de Janeiro, Brazil pada 8 Mei 1916 dan merupakan putera seorang pedagang senjata kaya asal Belgia yang berimigrasi ke Brazil. Di usia muda, ia sempat menjadi atlet renang yang berlaga di Olimpiade 1936 di Berlin dan kemudian setelah Perang Dunia II, menjadi atlit polo air yang berlaga di Olimpiade 1952 di Helsinki. 

Havelange kemudian menjadi Konfederasi Olaharaga Brazil atau CBD sejak tahun 1958 hingga 1975 dimana dalam periode itu Timnas Brazil memenangkan tiga Piala Dunia di tahun 1958, 1962 hingga 1970. Prestasi inilah yang menjadi modal Havelange untuk bertanding melawan Rous dalam merebut posisi FIFA 1.

Memainkan Kartu Rasisme

Dengan sistem pemilihan 1 negara 1 vote dimana bahkan suara Jerman Barat setara dengan Bangladesh, Havelange tahu bahwa lumbung suaranya ada di negara-negara dunia ketiga dimana ia memainkan kartu as utama : diskriminasi dan rasisme serta tudingan FIFA yang Eropa-sentris. 

Ada dua isu utama yang dihembuskan untuk menyerang Rous: Piala Dunia 1966 yang disetting agar Inggris bertemu Jerman Barat di Final sehingga banyak keputusan wasit yang dianggap merugikan tim-tim non-Eropa dan dukungan Rous pada rezim apartheid Afrika Selatan yang membuat negara-negara Afrika menjadi tidak simpati padanya. Sebuah ironi karena Havelange diketahui dekat dengan rezim junta militer Brazil yang juga represif.

Terpilih Sebagai Ketua FIFA

Seperti yang dikatakan di atas, Havelange melakukan safari sejak tahun 1970 selama 4 tahun. Havelange juga menjanjikan kucuran dana untuk pengembangan sepakbola terutama di Afrika serta Piala Dunia kelompok umur. la juga membiayai perjalanan bagi para ketua federasi dari negara-negara Afrika, Asia dan Amerika Latin yang akan memilih. 

Hasilnya, Havelange terpilih sebagai ketua FIFA setelah mengalahkan Stanley Rous dua putaran. Havelangen kemudian menjatuhkan sanksi pada Afrika Selatan dengan dibekukan dari FIFA pada tahun 1976 dan selama masa kepemimpinannya, ia dua kali menambah jatah peserta Piala Dunia yakni 24 dari 16 tim pada Piala Dunia 1982 dan 32 tim pada Piala Dunia 1998

Kontrak Eksklusif Dengan Beberapa Merek

Namun, Havelange butuh uang untuk mewujudkan janji-janjinya pada pemilihnya dan disaat itu, munculah Horst Dassler, bos Adidas dan Patrick Nally, ahli marketing asal Inggris yang menawarkan Havelange kucuran dana dengan syarat Adidas menjadi pemegang hak tunggal untuk segala perlengkapan Piala Dunia, mulai dari bola hingga kostum wasit. Dan seperti yang kita tahu hingga kini Adidas menjadi sponsor utama dan penyalur segala kelengkapan Piala Dunia. 

Baca juga: Raja Playboy yang Memilih Pemain Skuad Timnas Rumania Untuk Piala Dunia

Havelange juga menunjuk seorang ahli marketing asal Swiss, Sepp Blatter untuk mencari sponsor lainnya. Hasilnya beberapa perusahaan raksasa dari Coca Cola hingga McDonald mau menjadi sponsor Piala Dunia, yang menjadikan kejuaraan ini menjadi lebih komersil dan lebih besar dimana FIFA menjual beberapa paket sponsor untuk merek-merek.

Dibentuknya Piala Dunia Junior

Mungkin salah satu pencapaian terbaik Havelange adalah ia menepati janjinya untuk mengadakan Piala Dunia kelompok umur. Selain ajang untuk pemain-pemain muda, Havelange ingin negara-negara, terutama di dunia ketiga berkesempatan menyelenggarakan Piala Dunia meski hanya kelompok umur. 

FIFA World Youth, yang kemudian menjadi Piala Dunia U20 dimulai pada tahun 1977 di Tunisia, negara yang dianggap "kecil" dalam kancah persepakbolaan. Piala Dunia U17 diselenggarakan pertama kali di Tiongkok pada tahun 1985. Filosofi sepakbola tanpa batas Havelange juga diwujudkan lewat Piala Dunia Wanita yang pertama kali diselenggarakan.

Beberapa Piala Dunia Kontroversial

Selama ia menjabat, ada 3 Piala Dunia yang bisa dibilang sangat kontroversial bagi Havelange. Pertama, Piala Dunia 1978 dimana FIFA dan Havelange mendapat kecaman keras karena negara tuan rumah, Argentina saat itu dikuasai oleh junta militer represif yang sedang memiliki masalah pelanggaran hak asasi manusia (HAM) berat namun FIFA seolah tutup mata dan membiarkan kejuaraan terus berjalan. 

Kedua, penunjukan AS sebagai tuan rumah Piala Dunia 1994 pada tahun 1988 atas lobi dari menlu Henry Kissinger dan atas nama komersial, padahal AS bukan negara sepak bola dan tidak punya liga profesional saat itu. 

Ketiga, penunjukan Jepang dan Korea Selatan sebagai tuan rumah Piala Dunia 2002 pada tahun 1996, dimana selain karena lobi bos Hyundai menyelenggarakan di dua negara yang dipisahkan lautan bisa jadi bencana logistik.

Baca juga: Jumlah Penonton Piala Dunia U-17 di Indonesia Lampaui Target FIFA

Tersandung Kasus Korupsi

Havelange purna tugas pada tahun 1998 dimana orang kepercayaannya Sepp Blatter terpilih sebagai Presiden FIFA setelah mengalahkan Presiden UEFA, Lennart Johansson dimana Johansson menuding adanya praktek suap sehingga Blatter "anak Havelange" terpilih. 

Havelange sempat menjadi Presiden Kehormatan FIFA, namun pada tahun 2012, ia bersama menantunya, Presiden Federasi Sepakbola Brazil, Ricardo Teixeira diketahui menerima suap dari perusahaan pemasaran olahraga gabungan Swiss dan Jepang, International Sport and Leisure (ISL) agar bisa memonopoli hak pemasaran Piala Dunia ketika ia masih menjadi Exco FIFA. Namun, baik Havelange maupun Teixeira tidak pernah merjalani hukuman.

Warisan yang Beragam

Joao Havelange wafat di usianya yang mencapai satu abad pada 16 Agustus 2016. Havelange meninggalkan beberapa warisan dimana ditangannya, Piala Dunia menjadi primadona yang menarik sponsor-sponsor kelas kakap sehinggan menjadi ladang bisnis menggiurkan dan mengubah sepakbola secara keseluruhan menjadi ladang bisnis dan kapitalisme dari semula permainan rakyat, hal yang kini dijalankan secara brutal termasuk oleh Infantino di FIFA. 

Disatu sisi, berkat Havelange, para pemain muda berkesempatan untuk tampil di Piala Dunia kelompok umur dan negara-negara dunia ketiga juga mulai unjuk gigi dan berkembang, meski isu korupsi terus membayangi dirinya. (*)

*) Source : Inspechistory

Editor : S. Anwar

Peristiwa
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru