Raden Otto Iskandardinata adalah salah satu pilar penting dalam fajar kemerdekaan Indonesia. Lahir di Bojongsoang, Kabupaten Bandung pada 31 Maret 1897, tokoh nasional asal Tanah Pasundan ini dikenal dengan julukan "Si Jalak Harupat"—metafora Sunda untuk menggambarkan sosok yang berani, tangguh, dan vokal. Sayang, akhir hayatnya berselimut tragedi saat ia diculik dan dinyatakan hilang di tengah pergolakan revolusi fisik pada Desember 1945.
Kiprah Politik dan Jasa bagi Kemerdekaan
Baca juga: Suzuki Menggelar Owners Fun Race 2025
Sebelum Indonesia merdeka, pria yang akrab disapa Otista ini sudah malang-melintang di berbagai organisasi pergerakan. Ia tercatat pernah menjadi Wakil Ketua Budi Utomo, Ketua Paguyuban Pasundan (1929–1942), hingga menjadi anggota Volksraad (Dewan Rakyat) yang terkenal vokal mengkritik pemerintah kolonial Hindia Belanda.
Memasuki masa pendudukan Jepang, Raden Otto Iskandardinata memimpin surat kabar Tjahaja dan terlibat aktif sebagai anggota BPUPKI serta PPKI untuk menyusun cetak biru kemerdekaan Indonesia.
Tragedi Laskar Hitam dan Akhir Hayat
Baca juga: Kisah Raja Ali Haji di Balik Lahirnya Bahasa Indonesia
Setelah proklamasi 17 Agustus 1945, Presiden Soekarno menunjuk Raden Otto Iskandardinata sebagai Menteri Negara dalam kabinet pertama RI. Tugas utamanya sangat krusial: menyatukan berbagai laskar rakyat ke dalam Badan Keamanan Rakyat (BKR).
Misteri Mauk
Proses penyatuan ini memicu ketidakpuasan. Pada Desember 1945, Raden Otto Iskandardinata diculik oleh milisi radikal bernama Laskar Hitam. Ia hilang tanpa jejak dan diperkirakan dibunuh secara keji di kawasan Mauk, Tangerang. Jasad sang pahlawan tidak pernah ditemukan hingga hari ini.
Baca juga: KH Ahmad Sanusi, Sang Arsitek Pancasila
Penghormatan dan Warisan
Atas jasa besarnya, Otto Iskandardinata diangkat sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 1973. Untuk mengenang perjuangannya, dibangunlah Monumen Pasir Pahlawan di Lembang. Di tanah kelahirannya, Kabupaten Bandung, namanya diabadikan sebagai nama jalan protokol, RSUD di Soreang, hingga julukannya yang abadi menjadi nama Stadion Si Jalak Harupat. Wajahnya pun sempat menghiasi uang kertas pecahan Rp 20.000 emisi 2004. (*)
Editor : S. Anwar