Sosok Adi Utarini Bikin Dunia Tercengang

Reporter : Ach. Maret S.
Adi Utarini

Jagat sains internasional dibuat terperangah oleh sebuah gebrakan medis yang lahir dari sudut kota Yogyakarta. Nama Profesor Adi Utarini, peneliti sekaligus guru besar dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM), sukses menembus panggung elite global.

Adi Utarini dinobatkan ke dalam daftar Time 100, sebuah apresiasi bergengsi untuk 100 Orang Paling Berpengaruh di Dunia versi Majalah TIME. Dunia tercengang bukan tanpa alasan. Perempuan yang akrab disapa "Prof Uut" ini berhasil memimpin sebuah proyek riset revolusioner yang sukses menjinakkan ancaman Demam Berdarah Dengue (DBD)—sebuah penyakit mematikan yang menginfeksi hampir 400 juta orang setiap tahunnya di seluruh dunia.

Baca juga: Oemar Seno Adji, Anak Bupati yang Jadi Nakhoda Hukum

Senjata Rahasia Bernama Bakteri Wolbachia

Lompatan besar yang dipimpin oleh Prof Uut dimulai ketika ia menjabat sebagai kepala ilmuwan Indonesia dalam uji terkontrol secara acak (Randomized Controlled Trial) berskala besar sejak tahun 2016. Langkah taktis yang ia lakukan adalah melepaskan nyamuk Aedes aegypti yang telah disuntik bakteri alami bernama Wolbachia ke pemukiman warga di Yogyakarta.

Bakteri Wolbachia ini bekerja bagaikan benteng pertahanan di dalam tubuh nyamuk. Saat bakteri ini menetap, virus dengue otomatis terlumpuhkan dan tidak bisa lagi mereplikasi diri. Hasil akhir dari penelitian lapangan ini melahirkan data klinis yang sangat mengejutkan para ahli epidemiologi dunia: Kasus DBD Anjlok 77%: Wilayah yang menjadi lokasi pelepasan nyamuk ber-Wolbachia mencatatkan penurunan angka penularan demam berdarah secara drastis hingga 77%.

"Bukti Terkuat" Abad Ini 

Jurnal ilmiah paling prestisius di dunia, Nature, secara khusus memuji riset Adi Utarini dan menyebutnya sebagai "bukti terkuat" yang pernah ada dalam sejarah pembuktian efektivitas Wolbachia.

Pujian dari Melinda Gates

Keberhasilan yang berdampak masif pada kesehatan publik ini mengundang decak kagum filantropi global, Melinda French Gates, yang secara terbuka menyebut Prof. Uut sebagai sosok perempuan yang sangat menginspirasi dunia.Sebelum dikukuhkan oleh Majalah TIME, jurnal Nature bahkan telah lebih dahulu memasukkan namanya ke dalam daftar Nature's 10 sebagai sepuluh ilmuwan paling berpengaruh di dunia.

Ketangguhan Menghadapi Badai Penolakan dan Duka

Di balik sorot lampu penghargaan internasional, jalan yang ditempuh Adi Utarini dipenuhi kerikil tajam. Pada awal pelepasan nyamuk, ia sempat menghadapi gelombang penolakan keras. 

Sebagian pihak merasa khawatir dan menuduh bahwa nyamuk Wolbachia adalah hasil rekayasa genetika berbahaya yang bisa memicu wabah baru seperti Japanese Encephalitis (JE) atau penyakit kaki gajah.

Bukannya mundur, dengan karakter yang dikenal rekan-rekannya sebagai sosok "pendiam namun persuasif", Prof. Uut memilih turun langsung ke akar rumput. Ia menggalang dukungan warga dengan pendekatan humanis: menggandeng seniman lokal untuk membuat mural edukasi di sudut gang, memproduksi video pendek, hingga mengetuk pintu rumah warga satu per satu demi meyakinkan mereka bahwa metode ini aman dan alami.

Namun, ujian terberatnya terjadi pada Maret 2020. Di tengah puncak ketegangan riset ilmiahnya, sang suami tercinta, Prof. Iwan Dwiprahasto yang juga merupakan guru besar UGM, berpulang akibat hantaman pandemi COVID-19. 

Baca juga: Sjafri Sairin, Begawan Antropologi UGM Lulusan Cornell Asal Bukittinggi

Didera duka yang teramat dalam, srikandi sains ini memilih tetap tegak berdiri. Ia melanjutkan sisa penelitian demi menuntaskan misi kemanusiaan yang telah mereka rintis bersama.

Simfoni Sains: Profesor yang Merayakan Musik

Kapasitas intelektual Prof. Uut di dunia kedokteran memang tak perlu diragukan. Usai lulus dari UGM pada 1989, ia berburu ilmu ke Eropa, menyabet dua gelar master di Inggris (1994) dan Swedia (1997), hingga merengkuh gelar Doktor (S3) di Universitas Umeå, Swedia pada tahun 2002.

Namun, ada sisi unik yang membuat publik makin mengagumi sosoknya. Di luar jubah laboratorium, Prof. Uut adalah seorang pianis klasik ulung.

1. Keyboardist Band Art Rock : 1985–1987

Di sela-sela padatnya jadwal kuliah kedokteran UGM, ia aktif menjadi pemain keyboard untuk band beraliran art rock bernama Surya Kartika Enterprise (SKE).

2. Selingan Lunch Concert: Studi di Eropa

Baca juga: Penafsiran yang Keliru atas Pernyataan Jusuf Kalla

Saat merantau menempuh studi S2 dan S3 di Inggris dan Swedia, ia selalu menyempatkan diri menyisipkan hobi musiknya dalam rangkaian konser makan siang kampus.

3. Mewujudkan Impian Orkestra : 2015

Impian masa kecilnya bermain dalam sebuah orkestra terwujud saat ia tampil menjadi pianis tamu bersama Gadjah Mada Chamber Orchestra (GMCO).Abadi dalam Karya dan Aksi SosialSebagai akademisi, ia juga menuangkan catatan hidupnya ke dalam buku memoar berjudul "Adi Utarini - Akademisi yang Merayakan Musik". 

Melalui buku dan panggung konser amalnya, Prof. Uut mendonasikan seluruh keuntungan tiket yang diperoleh untuk pembangunan rumah singgah bagi para penderita kanker di Yogyakarta.

Kisah Profesor Adi Utarini menjadi bukti nyata bagi dunia bahwa sains tertinggi tidak harus kaku dan berjarak dengan masyarakat. Di tangan srikandi asal Yogyakarta ini, ilmu pengetahuan diturunkan ke bumi lewat pendekatan budaya yang lembut, dirawat dengan ketangguhan mental seorang ibu, dan dirayakan dalam harmoni indah alunan melodi piano. (*)

*) Source : Nasrul Koto Psu

Editor : S. Anwar

Peristiwa
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru