Gubernur Belanda di Maluku, Robertus Padtbrugge, mengunjungi Manado. Kunjungan ini menghasilkan perjanjian pada 10 Januari di Benteng Belanda di Manado (sekarang Pasar Jengky) dengan para kepala suku Minahasa setempat. Minahasa diwakili oleh Supit, Lontoh dan Paat.
Perjanjian itu kemudian mengalami beberapa perubahan beberapa kali di mana pada akhirnya secara implisit Belanda mengakui keberadaan masyarakat Minahasa dan menempatkan Minahasa sebagai yang setara di sebelah Belanda.
Baca juga: Pemberontakan Rakyat Toli Toli di Tahun 1919
pengantar
Sebuah kontrak berakhir pada 10 Januari 1679, di mana para kepala Minahassa menyatakan: "ingin menjadi subjek dan pelajar yang loyal dari Perusahaan India Timur Belanda, dan Perusahaan India Timur Belanda sebagai Tuhan dan Tuan mereka, sebagai Penguasa mereka untuk taat dan menghormati "belum pulih. Hanya "Kontrak Nader" 10 September 1699.
Het nader kontrak van 10 september 1699
Kontrak dan Ketentuan disepakati antara ibu kota Paul de Breevinghe dan sub-pedagang Samuel Hattingh khususnya dan jalur bangsawan Gubernur Heer Salomon Lesage dan Direktur dewan Maluku dan kemudian para bangsawan terhormat Wilhelm van Oudhoorn Gubernur Jenderal dan dewan Wel Noble Lords dari India Belanda, mewakili Republik Tujuh Provinsi Bersatu oleh Perusahaan Hindia Timur di provinsi-provinsi ini dalam satu - dan tiga kepala desa, Mayor Soepit, Lonto dan Paat dan semua pemimpin masyarakat di desa-desa pedalaman di wilayah Manado.
Seni. I.
Tiga kepala desa, jurusan dan pencatat lainnya dari masing-masing desa dengan demikian berjanji di bawah ini di negara-negara pedalaman perjanjian yang dikontrak dan kontrak dengan penguasa bangsawan Gubernur Robbertus Padbrugge pada 16 Januari 1679 dibuat di sini di Manado dan memutuskan untuk mempertahankan yang tidak dapat dipecahkan dan untuk mempertahankan untuk menyimpang darinya, menjaganya tetap baru.
Seni. II
Mendeklarasikan untuk menjaga perjanjian kontrak yang dibuat untuk akhir September 1694 di hadapan sub-pedagang Pieter Alsteyn dan Stephanus Thierry dan mengasingkan David Haak dengan agen yang dititipkan dari Raja Bolaang yang telah meninggal, Loloda Mocoago di bawah janji dia datang dan mempertahankan perjanjian sebelumnya.
Seni. III.
Ketiga dan terutama, kepala desa, jurusan dan pencatat desa menyatakan untuk mereka dan keturunan mereka untuk selamanya dan selamanya keluar dari kehendak bebas dan tanpa syarat untuk meninggalkan dan meninggalkan tanah longsor biasa mereka, dalam perburuan atau mutilasi lain dari para terpidana pembunuh atau penjahat lainnya dan menyatakan perbuatan-perbuatan yang menyedihkan ini menjadi sangat ngeri dan menjijikkan, dan berjanji dan menerima dan untuk mengabarkan kepada keturunannya bahwa di bawah perintah mereka mereka tidak boleh, dengan alasan apa pun, seperti seseorang yang sekali lagi membunuh seseorang dengan pengayauan, tetapi untuk menyerahkan semua pembunuh , penjahat yang mendapat hukuman mati atau hukuman fisik, untuk menyerah pertama kali di tangan Perusahaan Mulia (VOC) untuk dituduh melakukan kejahatannya, telah menuntut mereka yang menjadi bagian dari "Pemimpin, Jurusan atau Pencatat di" saat ini atau di masa depan dapat tetap lalai dalam komitmen ini juga akan dihukum oleh Perusahaan Mulia sebagai pemecah obligasi di mana mereka harus tunduk sepenuhnya.
Seni. IV.
Dengan demikian berjanji untuk menyerahkan atau menyerahkan semua orang kepada Perusahaan Mulia (VOC) yang pada suatu saat dapat ditemukan dengan pengkhianatan atau mungkin telah diizinkan untuk mendekati musuh mereka atau telah mendorong beberapa raja dan sekutu di sekitarnya untuk tujuan ini, untuk dihukum oleh Perusahaan Mulia (VOC).
Seni. V.
Untuk alasan ini mereka berjanji; dalam hal ini, tidak ada warga negara Eropa lainnya, baik orang Spanyol, Portugis, Prancis, Inggris, Denmark atau Sweeden, atau Macassar, Jawa, Aceh, atau negara lain di luar wilayah pemerintah Maluku, dan musuh Perusahaan lainnya yang mungkin juga adalah diizinkan tidak ditoleransi di negara mereka, tetapi untuk mengarahkan mereka ke sultan Ternate, atau ke penduduk di sini.
Seni. VI.
Di mana pun mereka terhubung, mereka selalu berusaha untuk membantu teman-teman Perusahaan dan menjadi musuh musuh Perusahaan dan untuk membantu dan untuk dengan setia membantu sekutu negara lainnya dan untuk membantu, menyelamatkan dan melindungi mereka.
Seni. VII.
Untuk alasan apa pun Anda tidak diizinkan terlibat atau terlibat dalam peperangan tanpa lisensi Noble Company (VOC).
Seni. VIII.
Perselisihan yang timbul karena peta tanah tidak dapat diberhentikan oleh kepala desa dan akan dibahas di Company Lodge dan akan diperiksa oleh Residen. Jika dalam pertemuan itu tidak ada kesepakatan yang dapat dicapai, mereka harus menunggu kedatangan counsel penasihat komitmen Perusahaan ’, yang akan melakukan rekomendasi.
Seni. IX.
Dengan ini, Perusahaan Mulia (VOC) bertanggung jawab untuk selalu mengakui jemaat semua desa di bawah, atas, dan pedesaan sebagai sekutu mulia mereka dan selalu melindungi mereka dari semua kekerasan dan musuh.
Seni. X.
Akhirnya kepala desa, jurusan dan perekam berjanji untuk melakukan dan menghormati artikulasi dan kondisi yang dijelaskan di atas secara keseluruhan dan untuk disimpan dan tidak pernah atau setiap saat menoleransi siapa pun yang pernah, melanggar, dan menunjukkan bahwa hubungan kita dengan 'Noble Compagnie (VOC) dilakukan dari kehendak kami tanpa syarat dan untuk persatuan dan kemakmuran orang-orang kami dan keturunannya sehingga kami telah membuat konfirmasi dengan kontrak ini dengan gambar tanda tangan tulisan tangan bersama kami dan dengan atau dengan cara Alifuru yang khidmat.
Baca juga: Fakta di Balik Patung Raksasa di Ibu Kota Jakarta
Dengan demikian dikontrak dan ditutup di Manado di forteesse Lodge Loge Perusahaan Amsterdam pada 10 September 1699.
Pemberdayaan
"Kontrak Nader" 1699 ini tetap mengikat sepanjang seluruh periode VOC. Kontrak itu dikonfirmasi beberapa kali, yaitu pada tahun 1790, pada tahun 1791 dan bahkan dalam bahasa Inggris, pada tahun 1811.
Mengupas Kronik atas Mongondow Dan Minahasa
Inilah titik awal terpisahnya kesatuan Bolaang dan Minahasa di abad ke 17, setelah meninggalnya Datu Loloda Mokoagow. VOC mulai memainkan peran politiknya. VOC mendapat tempat yang layak di semenanjung utara Sulawesi melalui kontrak yang dibuat.
Saat Raja Jacobus Manoppo menggantikan kepemimpinan Ayahnya Loloda Mokoagow, kontrak itu kembali dibuat dengan penegasan Batas Poigar - Pontak - Buyat atas batas kontrak VOC dan kerajaan Bolaang.
Di masa Raja Salomon Manoppo, Eugenus Manoppo dan Christoffel Manoppo mulai muncul perlawanan atas monopoli VOC di Sulawesi Utara. Sebagian Walak Minahasa dan Raja Raja Bolaang menentang keras monopoli VOC atas Sulawesi Utara. Namun para Raja yang menolak perpanjangan kontrak selalu dituduh atas melawan hukum kesepakatan awal yang menyebabkan pengasingan ke tiga Raja Bolaang di atas ke Afrika Selatan.
Maka jangan heran ada pemukiman Minahasa tertua yang berpindah dari Minahasa ke Kerajaan Bolaang Mongondow yang saat ini masih ada antara lain Mariri, Bantik dan Poopo, bukti kuat ada kesatuan Bolaang dan Minahasa di masa lalu yang dipisah hampir 254 tahun oleh politik VOC dan kerajaan Belanda demi kepentingan ekonomi penjajah atas Sulawesi Utara.
Kontra politik makin kuat oleh kerajaan Belanda, dimana sejarah palsu diciptakan di Minahasa. Bahwa Bolaang adalah musuh Minahasa, makanya jangan heran banyak sejarah berseliwean di Minahasa bahwa Bolaang selalu menyerang Minahasa. Padahal tidak ada sejarah perang antara Walak Minahasa dan Raja raja Bolaang.
Sebaliknya, sejarah di Bolaang tidak pernah ada cerita Bolaang menyerang Minahasa. Justru yang ada adalah cerita Raja Bolaang terpaut cinta akan kecantikan gadis Minahasa, dimana Raja Bolaang rela memberi mahar atas tanah sejauh mata memandang yang sekarang dimiliki oleh Minahasa.
Memang secara hukum adat, di kerajaan Bolaang adat dan mahar perkawinan adalah wajib sebagai aturan undang undang perkwinan di Kerajaan Bolaang.
Dua cerita di atas antara perang dan cinta untuk menutupi sejarah mulusnya VOC dan Belanda mengijakan kakinya di Sulawesi Utara. Devide et Impera adalah pecah kekuatannya, hilangkan sejarahnya dan ambil keuntungan sebesar besarnya.
Maka wajar Benteng Forth Nieuw Ansterdam Manado adalah pusat untuk mengatur pendapatan emasnya kerajaan Bolaang di Ratatotok, Kotabunan, Goropahi Lanud, Mintu, dan juga Emas Dumoga yang sudah diatur sejak abad ke 17 oleh VOC.
Baca juga: Alih Fungsi Haji Lebih Ganas Dari 350 Tahun Penjajahan Belanda
Maka jangan heran adat Budaya di Minahasa sering di kultuskan sebagai perang. SEDangkan budaya di Mongondow selalu dikultuskan kepada adat. Jangan heran pula ada ribuan Suku Minahasa yang telah hidup menetap dan beranak pinak di tanah Totabuan, tidak dimusuhi karena memang tidak ada sejarah perang antara Mongondow dengan Minahasa.
Sebaliknya pula, sangat sulit menemukan perkampungan Mongondow di tanah Minahasa kecuali nama Desa Paputungan sebagai nama leluhur yang ada di Minahasa Utara dan Desa Torout pemukiman mayoritas orang Mongondow yang berada di Minahasa Selatan. Di Minahasa, Mongondow selalu terpinggirkan hanya karena sejarah palsu yang diciptakan Belanda.
254 tahun Minahasa dan Mongondow terpisah bukan karena sebab Poigar - Pontak - Buyat dijaga oleh pos Company VOC. Minahasa tak boleh ke Mongondow. Begitupula Mongondow, tak boleh ke Minahasa kecuali para Raja dan petinggi VOC dan Belanda. Itupun harus melaui persetujuan resmi di Benteng Forth Nieuw Amsterdam Manado.
Jika kerajaan Bolaang tujuannya Invasi ke Minahasa tujuannya apa? Bukankah setiap peradaban melakukan invasi karena faktor ekonomi? Tanah Totabuan masih lebih kaya dari pada tanah Minahasa..!
Dan jika memang Minahasa sebagai bangsa perang, kenapa mayoritas Minahasa yang tinggal dan menetap di Tanah Totabuan bukan dari hasil perang ? Tapi tanah pemberian Raja Bolaang yang sah..!
Kemajuan Minahasa hari ini bukan tanpa sebab pula dibandingkan di Mongondow hari ini. Di Minahasa, di masa VOC dan Belanda dibangun pusat pusat pendidikan sejak abad ke 17. Sedangkan di Bolaang, pendidikan bisa masuk nanti abak ke-19 tepatnya nanti di tahun 1901.
Misi sekolah ZNG (Zending Nedherlansch Genostchap) batu bisa masuk kerajaan Bolaang Mongondow hanya menjadi pusat tambangnya Belanda di Sulawesi Utara. Berton ton emas dikirim ke Amsterdam, namun Kerajaan Bolaang tak dibangun. Semestinya oleh Kerajaan Belanda, meskipun Belanda menjadi satu satuya sekutu Kerajaan Bolaang Mongondow.
Memang wajar karena Raja Raja Bolaang suka melawan kebijakan-kebijakan Belanda, dibuktikan dengan banyaknya Raja Raja Bolaang yang diasingkan oleh Kerajaan belanda.
Ratusan tahun, polarisasi ini telah terbentuk yang juga menyebabkan Mongondow menjadi warga kedua di Sulawesi Utara. Pahit memang mengungkapkannya..!
Itulah sejarah. Yang terpenting adalah wujud torang samua basudara itu adalah fakta..! Kronik yang terjadi atas sejarah Sulawesi Utara harus diluruskan untuk diketahui generasi selanjutnya agar tidak terjebak dalam polarisasi ego sentris semata.
Minahasa dan Mongondow dikaburkan sejarahnya. Masing-masing ribut atas jati dirinya. Para master politik dari Belanda duduk manis memanen hasilnya..!
Semoga sejarah kembali mengulang penyatuan "Motobatu" seperti di masa lalu antara Suku Minahasa dan Mongondow di Tanah Totabuan untuk membangun suatu peradaban secara bersama-sama yang maju wadahnya adalah Provinsi Bolaang Mongondow Raya..!
*) Sumber: Dutch Document Chanel
Editor : Bambang Harianto