Di balik nama Kefamenanu yang kini dikenal sebagai ibu kota Kabupaten Timor Tengah Utara, tersimpan sebuah kisah yang hidup dalam tradisi lisan masyarakat setempat. Pada masa awal kehadiran pemerintah kolonial Belanda di wilayah tersebut, sebuah peristiwa sederhana tanpa disadari menjadi awal lahirnya nama yang kemudian dikenang hingga hari ini.
Ketika sebuah rombongan Belanda tiba di kawasan Tele, salah seorang tentara mencari sumber air terdekat. Dalam pencariannya, ia bertemu dengan seorang warga Atoin Meto bernama Mnune Bani yang sedang membersihkan ladangnya. Dengan menggunakan Bahasa Melayu, tentara itu menanyakan keberadaan sumber air sambil menunjuk ke arah sebuah jurang yang kini dikenal sebagai Kali Oemenu.
Baca juga: Kronik Mongondow dan Minahasa
Karena tidak sepenuhnya memahami bahasa yang digunakan, Mnune Bani menjawab dalam Uab Meto (Bahasa Dawan), “Kefamnanu, Tuan. Nane kefamnanu,” yang berarti, “Jurang yang dalam, Tuan. Itu jurang yang dalam.” Jawaban tersebut merujuk pada kondisi geografis kawasan yang ditunjuk, sebuah lembah curam yang di dalamnya terdapat aliran air, air terjun kecil, dan kolam alami.
Baca juga: Pemberontakan Rakyat Toli Toli di Tahun 1919
Kata “Kefamnanu” rupanya menarik perhatian rombongan Belanda. Bunyinya dianggap khas, mudah diingat, dan memiliki keindahan tersendiri. Seiring berjalannya waktu, nama itu mulai digunakan untuk menyebut kawasan tersebut hingga akhirnya ditetapkan sebagai nama kota yang berkembang menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Timor Tengah Utara.
Baca juga: Fakta di Balik Patung Raksasa di Ibu Kota Jakarta
Dari sebuah penjelasan sederhana tentang sebuah jurang, lahirlah nama Kefamenanu—sebuah nama yang tidak hanya menunjukkan identitas wilayah, tetapi juga menyimpan jejak sejarah, bahasa, dan budaya masyarakat Atoin Meto yang diwariskan dari generasi ke generasi. (*)
Editor : Bambang Harianto