Di awal era 1970-an, Indonesia menghadapi tugas raksasa: membangkitkan kembali roda ekonomi yang hancur pasca-hiperinflasi. Di tengah situasi krusial itu, muncul sekelompok ekonom genius yang kelak mengubah total arah sejarah pembangunan bangsa. Salah satu motor utamanya adalah Prof. Dr. Ir. Mohammad Sadli.
Uniknya, Sadli bukanlah seorang ekonom murni sejak awal. Sebelum dikenal sebagai perancang kebijakan ekonomi makro, ia adalah seorang insinyur yang memilih "membelot" demi menyelamatkan kas negara yang sempat kosong.
Baca juga: Poerbatjaraka sang Duta Utama, Doktor tanpa Sarjana
Insinyur Teknik yang Jatuh Cinta pada Ilmu Ekonomi
Lahir pada 10 Juni 1922, Mohammad Sadli mengawali langkah akademisnya dengan meraih gelar Sarjana Teknik dari Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta pada tahun 1952. Setahun setelah lulus, ia mulai mengajar di Universitas Indonesia.
Hasrat belajar yang tinggi membawa Sadli terbang ke Amerika Serikat untuk meraih gelar Master of Science dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) pada tahun 1956. Namun, di sinilah titik balik hidupnya terjadi. Sadli merasa panggilan jiwanya justru ada pada ilmu ekonomi, bukan teknik.
Setahun setelah lulus dari MIT, Mohammad Sadli mengambil keputusan nekat untuk banting setir memperdalam ilmu ekonomi di University of California, Berkeley, AS pada tahun 1957. Langkah berani ini terbukti tepat. Ketajaman analisisnya membawa Sadli sukses meraih gelar Doktor (S-3) dari UI pada 1963—tahun yang sama saat ia dikukuhkan sebagai Guru Besar FEUI—dan melanjutkan studi doktoralnya ke Harvard University pada 1964.
Geng 'Mafia Berkeley' dan Karpet Merah Investasi Asing
Ketika pemerintahan Orde Baru di bawah Presiden Soeharto dimulai, Sadli dipanggil masuk ke dalam lingkaran inti istana. Bersama para ekonom legendaris seperti Widjojo Nitisastro, Ali Wardhana, dan Soemitro Djojohadikoesoemo, kelompok penasihat ekonomi ini dijuluki oleh publik sebagai "Mafia Berkeley" karena mayoritas anggotanya merupakan jebolan kampus Berkeley, Amerika Serikat.
Baca juga: Mengenang Hotma Sitompul Pengabdi Lembaga Bantuan Hukum
Peran Sadli di dalam tim arsitek ekonomi ini sangat vital. Ia ditunjuk langsung menjadi Ketua Komite Penanaman Modal Asing (PMA). Di pundaknyalah, regulasi dan strategi untuk menarik investor global dirancang demi mengisi kas negara dan membuka lapangan kerja massal.
Kinerjanya yang cemerlang membuat Sadli dipercaya masuk ke dalam kabinet di usia yang tergolong muda, belum genap 45 tahun. Ia berturut-turut memimpin dua kementerian strategis: sebagai Menteri Tenaga Kerja (1971–1973) dan Menteri Pertambangan (1973–1978).
Laris Manis di Dunia Korporasi hingga PBB
Usai menuntaskan pengabdiannya sebagai menteri, kepakaran Sadli tetap menjadi rebutan. Ia laris manis menduduki posisi puncak di berbagai korporasi besar dan lembaga keuangan nasional. Sadli tercatat pernah menjadi Penasihat Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo) pada 1978.
Baca juga: Sosok Adi Utarini Bikin Dunia Tercengang
Setahun kemudian, ia menjabat sebagai Presiden Komisaris di dua perusahaan sekaligus, yaitu PT Air Indonesia Transport dan raksasa pertambangan negara, PT Aneka Tambang (Antam). Pada tahun 1982, ia juga didaulat menjadi Presiden Komisaris PT Tifico. Tak hanya di dalam negeri, reputasi global Sadli diakui dunia internasional ketika ia terpilih menjadi Anggota Komite Perencanaan Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun 1984.
Berpulangnya sang Arsitek Pembangunan
Setelah mendedikasikan seluruh hidupnya untuk meletakkan fondasi ekonomi modern Indonesia, Mohammad Sadli mengandaskan perjalanan panjangnya pada usia 86 tahun. Sang ekonom senior mengembuskan napas terakhirnya pada Selasa malam, 8 Januari 2008.
Mohammad Sadli berpulang dengan meninggalkan seorang istri, anak, dan cucu tercinta. Meskipun raganya telah tiada, cetak biru kebijakan investasi dan ketetapan energinya saat menjabat sebagai menteri akan selalu dikenang sebagai pilar utama yang pernah menyelamatkan roda ekonomi Indonesia dari keterpurukan. (*)
Editor : Bambang Harianto