Sejarah Kawasan di Jakarta Kenapa Pakai Nama Hari

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Pasar Senen
Pasar Senen
grosir-buah-surabaya

Pasar Senen. Pasar Rebo. Pasar Minggu. Kita mungkin sudah hafal nama-nama itu sebagai nama dari beberapa kawasan di Jakarta, tapi pernah nggak kepikiran kenapa namanya nama hari? Jawabannya ada di abad ke-18, dan lebih menarik dari yang kita bayangkan.

Di bawah pemerintahan VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie atau Perusahaan Hindia Timur Belanda), aktivitas perdagangan di Batavia diatur dengan ketat. Sejumlah pasar dijadwalkan hanya beroperasi pada hari-hari tertentu agar arus pedagang lebih mudah diawasi dan aktivitas dagang tidak menumpuk di satu lokasi.

Kebijakan ini juga membantu menjaga ketertiban dan memperkuat kendali VOC atas perdagangan. Dari sinilah nama-nama kawasan itu mulai terbentuk. Setiap pasar memiliki hari bukanya sendiri, sehingga pedagang dan warga menyesuaikan aktivitas mereka dengan jadwal tersebut. Lama-kelamaan, orang lebih mengenal suatu tempat dari hari pasarnya. Sebutan itu pun bertahan hingga ratusan tahun dan menjadi nama kawasan yang masih kita kenal sekarang.

Contoh paling ikonik adalah Pasar Senen. Didirikan pada tahun 1735 oleh Justinus Vinck dengan nama Pasar Vinck. Namun karena hari pasarnya ditetapkan setiap Senin, warga lebih sering menyebutnya Pasar Senen. Seiring waktu, sebutan dari masyarakat itulah yang bertahan hingga menjadi nama kawasan.

Justinus Vinck juga mendirikan Pasar Sabtu pada 1735, yang sekarang kita kenal sebagai Tanah Abang. Tak jauh berbeda, Pasar Minggu awalnya bernama Tanjung Oost Passer. Karena hari pasarnya selalu jatuh pada hari Minggu, warga lebih akrab menyebutnya Pasar Minggu.

Seiring waktu, nama itulah yang bertahan, sementara nama resminya perlahan terlupakan.

Dalam catatan sejarah Jakarta, kawasan Jatinegara dulunya memiliki sebuah pasar berkala yang dikenal sebagai Pasar Kemis. Seiring berjalannya waktu, pasar ini lebih populer disebut Pasar Mester, mengambil nama dari Meester Cornelis, seorang guru agama sekaligus tuan tanah berpengaruh pada abad ke-17.

Pasar Rebo juga menyimpan jejak sejarah yang masih hidup hingga sekarang. Dahulu, pasar ini dikenal sebagai tempat berdagang yang ramai setiap hari Rabu di wilayah luar Batavia. Seiring berkembangnya Jakarta, pasar dan kawasan di sekitarnya terus berubah. Namun, nama Pasar Rebo tetap bertahan dan akhirnya diabadikan sebagai nama kecamatan di Jakarta Timur.

Pasar Jumat punya nasib yang berbeda. Pasar tradisionalnya perlahan menghilang seiring perkembangan Jakarta. Namun, nama Pasar Jumat tetap bertahan sebagai nama kawasan di Jakarta Selatan. Hingga kini, sebutan itu masih digunakan untuk menyebut simpang jalan, halte TransJakarta, dan area di sekitar Lebak Bulus.

Dalam sejumlah catatan sejarah, Pasar Selasa dikaitkan dengan kawasan yang kini dikenal sebagai Koja, Jakarta Utara. Seiring waktu, nama "Pasar Selasa menghilang dan digantikan oleh nama wilayahnya. Ada pula tradisi lisan yang menyebut masyarakat Betawi dulu menganggap hari Selasa kurang baik untuk berdagang, meski belum ada bukti sejarah yang memastikan hal tersebut.

Yang membuat sistem ini menarik, pasar bukan sekadar tempat jual beli. Begitu sebuah pasar dibuka, pedagang berdatangan, permukiman mulai tumbuh, jalan-jalan dibangun, dan kawasan baru perlahan berkembang. Dari sinilah banyak wilayah di luar pusat Batavia mulai hidup dan menjadi bagian dari kota yang terus meluas.

Di balik hiruk-pikuk Jakarta hari ini, nama-nama seperti Senen, Rebo, dan Minggu adalah warisan yang tetap bertahan. Jejak dari sistem pasar ratusan tahun lalu yang masih hidup dalam nama-nama kawasan ibu kota. (*)