Sejarah Jakarta Berulang Tahun Setiap 22 Juni
Ketika setiap tanggal 22 Juni masyarakat memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Jakarta, sebagian besar orang mungkin hanya melihatnya sebagai perayaan tahunan sebuah kota yang pernah menjadi ibu kota negara dan hingga kini masih menjadi pusat politik, ekonomi, budaya, serta salah satu kota terpenting di Asia Tenggara.
Namun di balik tanggal tersebut tersimpan sebuah perjalanan sejarah yang sangat panjang, jauh melampaui usia Republik Indonesia, jauh melampaui masa kolonial Belanda, bahkan jauh sebelum nama Jakarta dikenal oleh dunia.
Tanggal 22 Juni sesungguhnya merupakan simbol dari sebuah titik perubahan besar dalam sejarah pesisir utara Pulau Jawa, sebuah peristiwa yang tidak dapat dipahami tanpa melihat perkembangan perdagangan maritim Asia, kemunculan kerajaan-kerajaan Nusantara, persaingan kekuatan regional di Asia Tenggara, serta datangnya bangsa-bangsa Eropa yang mengubah wajah dunia pada awal zaman modern.
Oleh karena itu, untuk memahami mengapa Jakarta memperingati hari jadinya pada tanggal 22 Juni, kita harus memulai perjalanan jauh ke masa ketika lautan merupakan jalur komunikasi utama dunia dan ketika sebuah pelabuhan bernama Sunda Kelapa mulai memainkan peranan penting dalam jaringan perdagangan internasional.
Berabad-abad sebelum lahirnya Jayakarta pada tahun 1527, kawasan Asia Tenggara telah menjadi salah satu wilayah paling strategis dalam sistem perdagangan global. Para sejarawan modern sering menyebut Jaringan ini sebagai Maritime Silk Road atau Jalur Sutra Maritim, yaitu sistem perdagangan yang menghubungkan pesisir Tiongkok, Asia Tenggara, India, Timur Tengah, Afrika Timur, hingga Eropa melalui jalur laut. Tidak seperti dunia modern yang memiliki pesawat, kereta api, dan kapal bermesin, masyarakat masa lampau sangat bergantung pada pola angin muson atau monsoon winds.
Angin muson barat dan muson timur yang bertiup secara bergantian setiap tahun memungkinkan para pelaut berlayar melintasi samudra dengan tingkat kepastian yang cukup tinggi. Para pedagang Arab Persia, Gujarat, Tamil dari India Selatan, Bengali, Melayu, Jawa, Bugis, Tionghoa, Champa, hingga bangsa-bangsa dari Kepulauan Ryukyu memahami pola angin tersebut dan membangun jaringan perdagangan yang luar biasa luas jauh sebelum bangsa Eropa tiba di Asia.
Pada masa itu Asia Tenggara bukanlah wilayah pinggiran dunia sebagaimana sering digambarkan dalam perspektif Eropa. Sebaliknya, kawasan ini merupakan pusat aktivitas ekonomi internasional yang sangat dinamis. Berbagai pelabuhan berkembang menjadi kota kosmopolitan tempat bertemunya berbagai bahasa, agama, budaya, dan komoditas.
Para pedagang membawa tekstil katun dari Gujarat dan Coromandel, sutra dari Tiongkok, keramik Dinasti Ming, kuda dari Asia Tengah, perhiasan dari India, logam dari Asia Barat, serta berbagai hasil bumi dari kepulauan Nusantara. Yang paling penting di antara semua komoditas tersebut adalah rempah-rempah.
Pada abad pertengahan hingga awal zaman modern, rempah-rempah memiliki nilai ekonomi yang luar biasa tinggi. Lada (Piper nigrum), pala (Myristica fragrans), bunga pala (mace), cengkih (Syzygium aromaticum), kayu manis (cinnamon), kapulaga (cardamom), dan berbagai bahan aromatik lainnya bukan sekadar penyedap makanan.
Di Eropa, Timur Tengah, dan Asia Timur, rempah-rempah digunakan sebagai bahan pengawet makanan. obat-obatan, parfum, ritual keagamaan, hingga simbol kemewahan yang hanya dapat dinikmati oleh kalangan elite. Nilai jualnya yang sangat tinggi menjadikan Asia Tenggara sebagai salah satu wilayah paling dicari dalam perdagangan internasional.
Dalam konteks inilah Pulau Jawa mulai memperoleh posisi yang semakin penting. Sejak masa Kerajaan Tarumanagara sekitar abad ke-4 hingga ke-7, wilayah Jawa bagian barat telah terlibat dalam aktivitas perdagangan regional. Bukti mengenai hubungan dagang tersebut dapat ditemukan dalam berbagai sumber arkeologis maupun catatan asing.
Setelah masa Tarumanagara berakhir, wilayah Jawa Barat berkembang menjadi bagian dari Kerajaan Sunda yang kemudian mencapai puncak pengaruhnya melalui Kerajaan Pajajaran. Kerajaan ini memiliki pusat pemerintahan di Pakuan Pajajaran, yang lokasinya berada di sekitar Kota Bogor saat ini. Meskipun pusat pemerintahannya terletak di pedalaman, kekuatan ekonomi Kerajaan Sunda sangat bergantung pada pelabuhan-pelabuhan di pesisir utara Jawa Barat yang menghubungkan kerajaan dengan dunia luar.
Salah satu pelabuhan terpenting tersebut adalah Sunda Kelapa. Nama Sunda Kelapa telah muncul dalam berbagai sumber sejarah, termasuk catatan perjalanan bangsa Portugis pada awal ad ke-16. Pada masa itu Sunda Kelapa bukanlah sebuah kota besar seperti Jakarta sekarang, melainkan sebuah bandar dagang yang berkembang di muara Sungai Ciliwung.
Letaknya sangat strategis karena menjadi pintu keluar-masuk barang dari wilayah pedalaman Kerajaan Sunda menuju jaringan perdagangan internasional. Dari daerah pedalaman Jawa Barat mengalir berbagai komoditas yang kemudian diperdagangkan melalui pelabuhan ini, terutama lada yang menjadi komoditas ekspor utama kerajaan.
Lada dari wilayah Banten Lampung, dan berbagai daerah lain di bagian barat Nusantara sangat diminati oleh pedagang asing. Tidak mengherankan apabila Sunda Kelapa menjadi salah satu pelabuhan yang ramai dikunjungi oleh kapal-kapal dari berbagai bangsa.
Gambaran mengenai Sunda Kelapa pada awal abad ke-16 dapat ditemukan dalam catatan pelaut Portugis bernama Tomé Pires, seorang apoteker dan diplomat yang melakukan perjalanan ke Asia antara tahun 1512 hingga 1515. Dalam karya terkenalnya yang berjudul Suma Oriental, Tomé Pires menggambarkan Sunda Kelapa sebagai pelabuhan penting yang menjadi pusat perdagangan Kerajaan Sunda.
la mencatat bahwa pelabuhan tersebut menerima kedatangan kapal-kapal dari Sumatra, Malaka, Jawa, Kalimantan, hingga berbagai wilayah Asia lainnya. Catatan Tomé Pires sangat berharga karena memberikan gambaran langsung mengenai kondisi Nusantara sebelum kedatangan kolonialisme Eropa dalam skala besar. Dari sumber tersebut diketahui bahwa kawasan pesisir Jawa telah menjadi bagian dari ekonomi global jauh sebelum bangsa Belanda mendirikan Batavia.
Situasi mulai berubah secara drastis setelah tahun 1511 ketika Portugis berhasil merebut Penaklukan Malaka oleh Portugis.
Peristiwa ini menjadi salah satu titik balik terpenting dalam sejarah Asia Tenggara. Dengan menguasai Malaka, Portugis memperoleh kendali atas salah satu jalur perdagangan paling vital di dunia. Tujuan utama mereka adalah memonopoli perdagangan rempah-rempah dan memutus dominasi pedagang Muslim yang selama berabad-abad menguasai jalur perdagangan Samudra Hindia. Namun penguasaan Portugis atas Malaka juga memicu ketegangan politik baru di kawasan.
Banyak kerajaan dan pedagang yang merasa terancam oleh ambisi Portugis Di berbagai wilayah Nusantara muncul kekuatan kekuatan baru yang berusaha menentang pengaruh mereka.
Di Jawa bagian barat, Kerajaan Sunda pada awal abad ke-16 berada di bawah pemerintahan Raja Surawisesa, putra dari Sri Baduga Maharaja yang lebih dikenal dalam tradisi masyarakat Sunda sebagai Prabu Siliwangi. Setelah naik takhta sekitar tahun 1521, Surawisesa menghadapi situasi politik yang semakin rumit.
Selama beberapa dekade sebelumnya, jaringan perdagangan di pesisir utara Jawa mengalami perubahan besar akibat berkembangnya kesultanan-kesultanan Islam seperti Kesultanan Demak yang dipimpin Sultan Trenggana dan Kesultanan Cirebon yang dipimpin oleh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati.
Kedua kekuatan tersebut secara bertahap memperluas pengaruhnya di kawasan pesisir Jawa Barat yang selama ini berada dalam lingkup Kerajaan Sunda. Bagi Surawisesa, ancaman terbesar bukan berasal dari pedalaman, melainkan dari kemungkinan terputusnya akses kerajaan terhadap pelabuhan-pelabuhan dagang yang menjadi sumber utama pemasukan ekonomi kerajaan.
Setelah Portugis menguasai kota Malaka, mereka berusaha membangun jaringan perdagangan baru yang berada di bawah kendali Kerajaan Portugal. Karena Kerajaan Sunda merupakan salah satu penghasil lada terbesar di kawasan barat Nusantara, Portugis melihat peluang untuk menjalin hubungan langsung dengan penguasa Pajajaran.
Kontak resmi antara kedua pihak mencapai puncaknya pada tanggal 21 Agustus 1522 ketika seorang pejabat dan utusan Portugis bernama Henrique Leme tiba di Sunda Kelapa untuk mewakili Gubernur Portugis di Malaka, Jorge de Albuquerque.
Dalam pertemuan tersebut, Henrique Leme mewakili Raja João III dari Portugal, sementara pihak Kerajaan Sunda diwakili langsung oleh Raja Surawisesa. Hasil perundingan itu melahirkan sebuah kesepakatan yang kemudian dikenal dalam historiografi sebagai Perjanjian Sunda-Portugis 1522. Berdasarkan perjanjian tersebut, Portugis memperoleh hak untuk membeli lada dari wilayah Kerajaan Sunda serta mendapatkan izin untuk membangun sebuah benteng pertahanan di pelabuhan Sunda Kelapa. Sebagai imbalannya, Portugis berjanji akan membantu Kerajaan Sunda apabila menghadapi ancaman militer dari musuh-musuhnya.
Kabar mengenai perjanjian tersebut segera menyebar ke berbagai pusat kekuasaan di Jawa. Sultan Trenggana dari Demak dan Syarif Hidayatullah dari Cirebon memandang persekutuan antara Surawisesa dan Portugis sebagai ancaman yang serius.
Kekhawatiran mereka bukan tanpa alasan. Pengalaman di Malaka menunjukkan bahwa Portugis tidak hanya datang sebagai pedagang, tetapi juga membangun benteng, menempatkan garnisun militer, dan berusaha mengendalikan perdagangan secara monopoli. Jika benteng Portugis benar-benar berdiri di Sunda Kelapa, maka mereka akan memiliki pangkalan strategis di pintu masuk bagian barat Pulau Jawa. Situasi ini berpotensi mengubah keseimbangan politik dan ekonomi di seluruh kawasan.
Dalam situasi itulah muncul tokoh yang kemudian sangat erat dikaitkan dengan lahirnya Jakarta, yaitu Fatahillah, yang dalam berbagai sumber juga dikenal sebagai Faletehan atau Fadillah Khan. Meskipun detail biografinya masih menjadi perdebatan di kalangan sejarawan, perannya dalam ekspansi kekuatan Islam di Jawa Barat tidak diragukan lagi.
Dengan dukungan Kesultanan Demak dan Cirebon, Fatahillah memimpin ekspedisi militer ke wilayah pesisir Jawa Barat. Tujuan utamanya adalah mencegah Portugis membangun basis kekuatan di Sunda Kelapa serta memperluas pengaruh politik Islam di kawasan tersebut.
Puncak peristiwa tersebut terjadi pada tanggal 22 Juni 1527 Pada hari itulah pasukan Fatahillah berhasil menguasai Sunda Kelapa sebelum Portugis sempat memperkuat posisinya. Setelah kemenangan tersebut, nama Sunda Kelapa diganti menjadi Jayakarta, sebuah nama yang berasal dari bahasa Sanskerta. Kata jaya berarti kemenangan atau kejayaan, sedangkan karta berarti tercapai atau sempurna.
Secara umum Jayakarta dapat dimaknai sebagai "kemenangan yang sempurna" atau "kota kemenangan". Pergantian nama ini bukan sekadar perubahan administratif, melainkan simbol perubahan kekuasaan politik yang sangat penting dalam sejarah Jawa Barat.
Inilah alasan mendasar mengapa tanggal 22 Juni kemudian dipilih sebagai hari jadi Jakarta. Bukan karena pada tanggal tersebut lahir kota modern sebagaimana kita kenal sekarang, melainkan karena tanggal tersebut dianggap sebagai momen lahirnya identitas politik baru yang menjadi nenek moyang langsung Jakarta. Penetapan 22 Juni sebagai Hari Jadi Jakarta sendiri baru dilakukan pada abad ke-20 setelah Indonesia merdeka.
Para sejarawan Indonesia, termasuk Mohammad Yamin, menilai bahwa akar sejarah Jakarta lebih tepat ditelusuri dari lahirnya Jayakarta pada tahun 1527 daripada darni pendirian Batavia oleh Belanda pada tahun 1619 Pandangan ini kemudian diterima Pemerintah dan dijadikan dasar resmi peringatan ulang tahun Jakarta hingga saat ini.
Dengan demikian, setiap kali Jakarta merayakan hari Jadinya pada tanggal 22 Juni, yang sesungguhnya diperingati bukan hanya sebuah tanggal dalam kalender, melainkan sebuah perjalanan sejarah panjang yang dimulai dari jaringan perdagangan maritim Asia, berkembang melalui pelabuhan Sunda Kelapa yang ramai oleh pedagang dari berbagai bangsa, dipengaruhi persaingan kekuatan regional dan global pada era pelayaran samudra, hingga mencapai titik penting ketika Jayakarta lahir pada tahun 1527.
Dari sebuah bandar dagang di muara Sungai Ciliwung, wilayah tersebut kemudian berkembang menjadi Jayakarta, Batavia, Jakarta, dan akhirnya menjadi salah satu metropolitan terbesar di dunia. Sejarah itulah yang menjadikan tanggal 22 Juni bukan sekadar hari perayaan kota, melainkan sebuah pengingat akan posisi-strategis Nusantara dalam sejarah dunia selama berabad-abad. (*)
*) Source : Venezia membaca
Editor : Bambang Harianto