Jejak Pengabdian Adrin Kahar hingga Jadi Rektor Universitas Bung Hatta
Sejarah Sumatra Barat tidak pernah kekurangan figur-figur besar yang mendedikasikan hidupnya demi kemerdekaan dan kecerdasan bangsa. Salah satu nama yang menorehkan tinta emas dalam perjalanan ranah Minang adalah Drs. Adrin Kahar, Ph.D (Hon). Sosok multi-talenta ini dikenal luas tidak hanya sebagai pejuang kemerdekaan yang angkat senjata di masa revolusi, tetapi juga sebagai politikus ulung dan maestro pendidik yang ikut membidani lahirnya salah satu kampus swasta terbesar di Sumatra Barat.
Pria yang mendedikasikan dekade terakhir hidupnya untuk dunia akademis ini merupakan Rektor kedua Universitas Bung Hatta (UBH) Padang, sebuah institusi yang ia bangun bersama para tokoh daerah dengan menyandang nama besar sang Proklamator.
Lahir dari Rahim Keluarga Pejuang dan Pemimpin
Adrin Kahar lahir di Kota Solok pada 30 November 1929. Ia merupakan anak sulung dari pasangan legendaris, Kaharudin Datuak Rangkayo Basa dan Mariah, keluarga terpandang yang berasal dari Bayur, Maninjau, Kabupaten Agam. Sang ayah bukanlah sosok sembarangan; ia adalah Kepala Kepolisian Sumatra Tengah yang kemudian tercatat dalam sejarah sebagai Gubernur Sumatera Barat yang pertama.
Darah kepemimpinan dan pengabdian itu mengalir deras ke tubuh Adrin dan adik-adiknya. Salah satu adiknya, Djohari Kahar, di kemudian hari sukses menjabat sebagai Ketua DPRD Sumatera Barat selama dua periode sebelum melenggang ke DPR-RI. Sementara adiknya yang lain, Amrin Kahar, dipercaya menjadi Dirjen Tanaman Pangan dan Hortikultura Departemen Pertanian serta anggota DPR-RI.
Angkat Senjata Bersama Korps Tentara Pelajar
Perjalanan pendidikan Adrin Kahar muda dipenuhi liku-liku akibat pergolakan politik bangsa. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar di Padang pada masa pendudukan Jepang (1943) dan lulus SMP di Bukittinggi (1947), Adrin melanjutkan studinya ke jenjang SMA di kota yang sama.
Namun, petualangan akademisnya harus terhenti akibat meletusnya Agresi Militer Belanda II pada akhir tahun 1948. Jiwa patriotismenya bergejolak. Adrin memutuskan menanggalkan buku dan mengangkat senjata dengan bergabung ke dalam korps Tentara Pelajar (TP) Sumatra Tengah. Di garis depan perjuangan inilah ia bahu-membahu mempertahankan kemerdekaan, seangkatan dengan Awaluddin Djamin—sahabat seperjuangannya yang di masa depan menjabat sebagai Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri).
Seni Rupa ITB dan Pengabdian di Universitas Bung Hatta
Setelah perang kemerdekaan usai dan situasi nasional mulai kondusif, Adrin kembali ke bangku sekolah dan berhasil menamatkan SMA di Bukittinggi pada tahun 1951. Kecintaannya pada dunia estetika membawanya merantau ke tanah Jawa untuk mendalami ilmu di Jurusan Seni Rupa Institut Teknologi Bandung (ITB).
Kuliah di kampus bergengsi tersebut diselesaikannya pada tahun 1962. Masa studinya tergolong panjang bukan tanpa alasan; Adrin menjalani masa kuliah sambil bekerja keras mengajar di beberapa SMP dan SMA di Bandung, bahkan kemudian dipercaya menjadi asisten dosen di ITB. Pengalaman inilah yang menempa mentalnya sebagai seorang pendidik sejati.
Puncak pengabdian akademisnya di Sumatra Barat terjadi ketika ia terlibat aktif sebagai salah seorang pendiri Universitas Bung Hatta di Padang. Atas dedikasi dan kapasitas kepemimpinannya, Adrin Kahar dipercaya menjabat sebagai Rektor ke-2 UBH untuk periode 1985-1990, melanjutkan tongkat estafet kepemimpinan dari rektor pertama, Prof. Dr. H. Agustiar Syah Nur, MA. Di bawah nakhodanya, kampus ini meletakkan fondasi kuat sebagai pencetak intelektual muda di Sumatra Barat.
Berpulang dalam Kedamaian
Setelah mengarungi kehidupan yang penuh dengan pengabdian bagi negara, baik di medan perang, panggung politik, maupun dunia pendidikan, sang pejuang akhirnya berpulang. Drs. Adrin Kahar, Ph.D (Hon) mengembuskan napas terakhirnya pada 1 Desember 2009 dalam usia 80 tahun di Rumah Sakit Ibnu Sina Yarsi, Padang.
Jasadnya dikebumikan dengan penuh penghormatan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Tunggul Hitam, Padang. Ia beristirahat dalam kedamaian abadi, berdampingan dengan makam sang ayah, Kaharudin Datuak Rangkayo Basa. Kendati raganya telah tiada, warisan intelektual dan semangat perjuangan Adrin Kahar tetap hidup dan abadi di koridor-koridor kampus Universitas Bung Hatta serta dalam catatan sejarah emas Sumatra Barat. (*)
*) Source : Nasrul Koto
Editor : S. Anwar