Mendadak Biduan
Neneng Setrum adalah biduan kampung yang sedang naik daun. Setrum di belakang nama asli bukan sembarangan disematkan oleh Johan—si bos orkes. Nama nyerempet genit itu terbukti bawa tuah. Jika Neneng sudah bergoyang, para cecunguk kampung akan segera lupa diri.
Rupiah demi rupiah segera berhamburan memenuhi kantong sawer, meski para penyawer itu sejatinya lelaki miskin. Sebenarnya suara Neneng Setrum pas-pasan. Gak bisa dibilang merdu, tapi juga gak fals. Cukuplah bisa bernyanyi sedikit. Akan tetapi kekurangan itu pandai ia tutupi.
Ia berdandan menor, mengenakan rok ketat di atas lutut serta belahan dada yang terbuka. Ia pun ikutan zumba supaya goyang setrum yang ia ciptakan semakin gila. Alhasil, namanya pun kian melejit. Tawaran manggung datang silih berganti. Perlahan ia sudah tak lagi merasakan lapar.
Bahkan, ia mulai mencicil mobil Honda Brio warna kuning. Namun sebagai wanita, Neneng tetap saja risih. Ia kerap mendapat pelecehan. Sudah tak terhitung tangan-tangan jahil lelaki yang memaksa merogoh susunya, menyelipkan uang di balik behanya.
Kadang ada beberapa pemabuk yang tiba-tiba memeluk dari belakang, sengaja menggesek-gesekkan kelaminnya. Tak sedikit dari mereka yang sudah tua bangka dan sebentar lagi mati. Akan tetapi Neneng harus kuat-kuat menyabarkan diri. Semua demi uang.
Demi seorang anak yang masih duduk di kelas lima Sekolah Dasar (SD). Demi ibu yang sudah sakit-sakitan dan hanya bisa berbaring di ranjang. Setahun lalu, Neneng adalah ibu rumah tangga biasa sebelum suaminya mati. Sang suami ditemukan warga dengan kondisi tubuh mengerikan pada suatu pagi. Di dekat sawah.
Lehernya hampir putus dengan darah masih mengucur serta kelaminnya ditemukan beberapa meter di samping—terikat tali pancing yang dikaitkan pada bentangan bambu.
Yang mengherankan, pembunuhan itu terbilang rapi. Tak ada jejak, tak ada sidik jari. Benar-benar profesional. Anehnya, Neneng mensyukuri hal itu. Bukan tanpa sebab tentunya. Si suami memang doyan memukuli. Rumah tangga itu tak ubahnya ring tinju—dan Neneng yang jadi samsak.
Suaminya adalah residivis kelas teri. Selama sepuluh tahun jadi suami, ia tiga kali masuk bui. Perkaranya tentu saja mencuri. Kebanyakan adalah sapi dan kambing. Sewaktu suaminya ditemukan mati, Polisi dengan lekas mencurigai Neneng sebagai pelaku.
Motifnya jelas—dendam, sakit hati, serta jarang dikasih duit. Akan tetapi, semua menjadi buyar karena Neneng punya alibi yang tak terbantahkan. Di malam suaminya sedang dibunuh, Neneng sedang terkapar di kasurnya yang lusuh.
Wajahnya babak belur, bibirnya bengkak dan matanya sipit sebelah. Kata tetangga, sehari sebelum ditemukan mati, suaminya menggebuki Neneng sampai hampir mati. Si lelaki brengsek itu lekas-lekas pergi lantaran takut Neneng mati.
Ia hilang sebelum Pak Lurah dan tetangga datang membawa pentungan, parang, cangkul dan kayu. Pada akhirnya Neneng urung menjadi tersangka.
Ibunya? Jangankan mengangkat belati, makan nasi saja harus disuapi. Nenek tua itu sudah terlalu pikun. Ia justru meracau kalau dahulu mantan Gerwani. Bercerita panjang lebar kalau dia ahli berkelahi. Polisi karuan terkekeh. Jangankan berkelahi, berdiri saja si nenek itu gemetaran sampai hampir mati. Lima menit saja, napasnya nyaris lepas dari tenggorokan.
Petugas yang pandai kemudian lekas-lekas menutup kasus itu demi hematnya anggaran. Lagi pula, siapa yang peduli pada nasib pencuri kelas teri? Kematiannya lebih tepat disyukuri ketimbang diratapi.
Singkat kata, nama Neneng Setrum sebagai biduan kian melambung tinggi. Goyangannya yang dianggap memicu birahi segera saja dibenci para istri. Apalagi sewaktu ia bisa merenovasi rumah dan ke mana-mana menyetir low cost green car (LCGC). Bahkan, ustad-ustad pun dengan lekas menghakimi dengan neraka.
“Ah…peduli setan. Anak dan ibuku mati karena gak makan nasi, apa mereka mau mengurusi?” begitu gumamnya.
Nyinyiran ibu-ibu bukanlah perkara besar. Namun, Tejo, bukanlah gangguan main-main. Lelaki sok ganteng itu suka menguntit dan mengintip.
Ia adalah pekerja serabutan yang bermimpi menambah bini. Badannya kurus dan wajahnya kusam, tidak berbeda dengan isi dompetnya. Ia pertama kali berjumpa Neneng sewaktu menjaga keamanan hiburan hajatan kampung.
Sebagai anggota ormas, Tejo dan gerombolannya memang kerap diperbantukan sebagai penjaga keamanan tambahan. Sejak jumpa pertama, Tejo langsung melancarkan bujuk rayu. Neneng karuan saja menolak. Wajah Tejo terlalu mesum. Omongannya pun selalu cabul. Tejo kecewa. Gigit jari.
Birahinya semakin menjadi-jadi. Goyangan Neneng yang nyetrum di atas panggung membuat otaknya soak. Ia kemudian kerap bermasturbasi di kamar mandi. Istri tak lagi ia gagahi. Ia hanya ingin menyetubuhi Neneng walau barang sekali. Kian hari, si Tejo kian keblinger.
Ia mulai mencari cara agar bisa meluluhkan hati si Neneng. Orang bilang, cinta ditolak dukun bertindak. Namun, ulah Tejo lebih dari itu. Ia mendadak menjadi dukun. Ia mengaku mempunyai kesaktian melebihi para Kiyai.
Ia dengan lantang memproklamirkan bisa bicara dengan jin, setan, iblis, bahkan semut. Semua itu tentu saja agar Neneng terkagum-kagum. Mau gimana lagi, duit ia tak punya. Jabatan apalagi. Pendidikan jangan dikata. Ia tak naik kelas sewaktu Sekolah Menengah Atas (SMA) tiga kali.
Alih-alih terpesona, Neneng justru terbahak.
“Kalau kau memang bisa bicara dengan jin, mestinya kau tak miskin begini. Jimat bertuah yang kau jual pasti laris manis. Lah ini, proyek nguli aja jarang-jarang dapat panggilan. Cih. Ngapusi!”
Sejak penghinaan hari itu, Tejo memendam sakit hati. Ia menjadi terobsesi. Neneng mulai mendapat teror. Bangkai ayam, tikus mati dan telur busuk selalu ada setiap hari di depan pintu. Neneng mulai ketakutan. Tejo mulai menggedor-gedor jendela rumah setiap dini hari.
Mobil Brionya sering digembosi dan pakaian dalamnya kerap dicuri. Neneng bersikukuh, tak mau menerima pinangan Tejo yang merayu alih-alih dengan uang, tapi intimidasi. Puncaknya, anak Neneng diculik sepulang sekolah lengkap dengan surat ancaman.
Neneng harus kawin dengan Tejo barang sehari jika tak ingin anaknya mati. Polisi kebingungan, keberadaan Tejo tak diketahui. Sementara itu, tiap hari Neneng mendapat kiriman mulai dari kaos kaki, sobekan baju hingga rambut. Neneng menangis berhari-hari, khawatir anaknya mati.
Si ibu getir hatinya demi melihat Neneng penuh duka. Penderitaan anak semata wayangnya itu seakan tak ada habis-habisnya. Dahulu, ia punya suami bajingan. Sekarang, seorang lelaki brengsek memaksa jadi suami.
“Jangan risau nak. Kita berdoa saja, semoga Gusti Allah beri kemudahan,” ujarnya seraya membelai rambut Neneng hingga janda itu lelap di pangkuan.
Malam berlalu, keduanya terbaring di kamar ber-AC. Setelah berhari-hari gelisah memikirkan buah hati, entah kenapa Neneng malam itu tertidur nyenyak. Si ibu mendekapnya begitu erat, membuainya dengan lagu genjer-genjer.
Pikirannya kosong memikirkan sang cucu. Matanya nanar menatap tembok. Di situ, tergantung arit cangak peninggalan mendiang suami—ayahnya Neneng. Pada ahirnya ia lelap dengan lampu kamar yang temaram.
Lalu, keesokan siang, rumah Neneng mendadak heboh. Orang-orang berdatangan dengan petugas Polsek. Suatu keajaiban, anaknya Neneng diantar pulang. Bocah itu ditemukan di pasar dalam keadaan memprihatinkan. Selekasnya Neneng berhamburan memeluk si buah hati.
Si Nenek kepayahan menghampiri, dengan senyum getir dan mata berkaca-kaca. Yang lebih mencengangkan, Tejo ditemukan di sudut sawah. Lehernya hampir putus dan kelaminnya tersayat, persis mayat mendiang suami Neneng sebelumnya. (*)
*) Source : X : Bang Beben (@benbela)
Editor : Zainuddin Qodir