Kisah Salma, Jual Donat Modal Rp 500 Ribu Beromzet Rp 2 Juta Sehari
Usaha takkan mengkhianati hasil. Itulah yang dialami oleh Salma Almira Rahmawati, pemilik Dapoer Ernosa. Dapoer Ernosa merupakan usaha yang didirikan oleh Salma Almira Rahmawati, yang menyediakan aneka kue, roti, cake, donat, dan salad buah.
Dari modal awal Rp 500 ribu, kini omzetnya berkisar Rp 2 jutaan sehari. Modal Rp 500 ribu tersebut digunakan untuk membeli bahan kue. Tentu untuk bisa sampai ke tahap ini, Salma Almira Rahmawati menghadapi persoalan yang tidak mudah.
Sempat frustasi dan ingin menyerah, namun dia teringat akan perjuangan ibunya yang membesarkannya sejak kecil. Dia pun kembali menyemangati diri sendiri dan terus berjuang membesarkan usahanya, Dapoer Ernosa, yang beralamat di Jalan Botoran, Kecamatan Tulungagung, Kabupaten Tulungagung.
Salma Almira Rahmawati kini berusia 24 tahun. Lika-liku kehidupan dialaminya. Sejak kecil, dia diharuskan hidup mandiri. Ibunya seorang diri membesarkan ketiga anaknya, termasuk Salma Almira Rahmawati.
Ibu dan ayah Salma Almira Rahmawati berpisah sejak Salma Almira Rahmawati masih kecil. Salma Almira Rahmawati masih ingat, perpisahan kedua orangtuanya tersebut lantaran kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Ayah Salma Almira Rahmawati tidak menafkahi ibunya beserta 3 anaknya.
“Saya sejak kecil jadi saksi, ibu memperjuangkan anaknya sampai sekarang. Kakak saya sampai anak kedua mengalami KDRT. Sekarang saya bisa berdamai. Kadang di hati saya, kok bisa (ayah KDRT). Anaknya 3, dari kecil tidak mengayomi. Saya legowo seiring bertumbuhnya usia. Saya memaafkan ayah saya. Sekarang, kalau bertemu dengan beliau, menerima. Kalau dulu ogah,” ucap Salma Almira Rahmawati sambil meneteskan air matanya dikutip dari Pecah Telur.
Melihat ibunya yang susah payah membesarkan dan membiayai pendidikannya bersama kedua kakaknya, Salma Almira Rahmawati mencari berbagai cara supaya meringankan beban ibunya. Sejak duduk di Sekolah Menengah Pertama (SMP), Salma Almira Rahmawati mulai menunjukkan kemandiriannya. Dia berjualan sambil belajar.
Waktu SMP, Salma Almira Rahmawati berjualan masker organik dan tongkat narsis (tongsis). Barang-barang tersebut dia beli ke distributor kemudian dijualnya lagi ke teman-temannya. Merasakan keuntungan dari penjualan itu, Salma Almira Rahmawati mulai ketagihan berjualan.
“Saya belajar jualan dari SMP itu,” kata Salma Almira Rahmawati.
Selepas SMP dan memasuki Sekolah Menengah Atas (SMA), Salma Almira Rahmawati kembali berjualan. Jualannya bukan tongsis atau masker karena trennya sudah menurun. Saat SMA, Salma Almira Rahmawati berjualan salad buah.
Sistem penjualannya tidak langsung dibawa ke sekolah. Salma Almira Rahmawati membuat purchase order (PO) terlebih dahulu, mencatat pesanan. Keesokan harinya, pesanan tersebut dibawa ke sekolahnya.
“Misal di kelas ada teman mau order, ya saya catat. Kemudian malamnya saya persiapkan bahannya. Paginya saya buat, dan saya bawa ke sekolah,” kata Salma Almira Rahmawati.
Dari penjualan salad buah itu, Salma Almira Rahmawati bisa menghasilkan keuntungan yang cukup untuk kebutuhannya. Setelah lulus dari SMA, jiwa bisnis Salma Almira Rahmawati terus terasah.
Dari hasil keuntungan yang diperolehnya selama jualan, Salma Almira Rahmawati bisa mengurangi beban biaya yang dikeluarkan ibunya untuk mendaftarkannya ke bangku kuliah.
Saat kuliah pun, Salma Almira Rahmawati masih berjualan salad buah. Kemudian dia menambahkan menu nugget dan pisang chrispy topping. Antara waktu kuliah dan menyiapkan menu dagangan, Salma Almira Rahmawati awalnya cukup berat membagi waktunya. Tapi lama kelamaan, dia terbiasa dan bisa mengatur waktu.
“Bagi waktunya, kalau pisang bisa di frozen. Jadi, saya bikinnya langsung banyak. Dan saya frozen. Nanti kalau ada yang order, baru saya bikinkan. Cuma nanti menyesuaikan waktu saya. Kalau ada yang minat DO (delivery order) dan COD (cash on delivery), jadi waktunya menyesuaikan sebisanya saya. Saya antarnya sore,” katanya.
Setelah sekian lama berjualan dengan sistem DP dan PO yang dipromosikan dengan membuat status di Whatsapp dan di media sosial, barulah Salma Almira Rahmawati memberanikan diri untuk membuka lapak. Dia membuka lapak pertama kali saat Car Free Day di Alun Alun Kabupaten Tulungagung.
“Saat menyiapkan skripsi, saya banyak waktu luang. Saya sempatkan mulai berani jualan di lapak. Kurang lebih semester 6 dan 7. Dulu lapaknya seadanya, cuma meja belum ada tenda. Payung belum ada. Kalau jualan kepanasan, jadi risiko. Karena modalnya masih mengumpulkan, jadi pelan-pelan bertahap. Modalnya dari tabungan. Saya belikan bahan sama meja lipat. Paling banyak di bahan kue. Modal awal Rp 500 ribu. Sekarang, alhamdulillah bisa kebeli oven deck,” jelasnya.
Salma Almira Rahmawati berterima kasih kepada temannya yang dulu pernah membantunya meminjamkan oven deck saat dia tidak punya alat tersebut. Dia masih ingat, saat kebanjiran order kromboloni. Saat itu, dia tidak punya oven besar. Sedangkan order kromboloni saat itu sampai 100 pcs lebih. Jadinya, Salma Almira Rahmawati numpang pembuatan kromboloni di oven deck milik temannya.
“Saat dapat orderan kromboloni banyak, juga bingung. Belum punya alat. Tapi alhamdulillah, saya dapat bantuan pakai oven teman saya. Jadi bahan itu saya bawa ke rumah ke teman. Kromboloni viral, ada 2 bulan. 1 bulan pertama langsung kebeli oven deck. Viral di TikTok. Saya dapat orderan terbanyak saat viral kromboloni. Dari situ, saya sisihkan untuk ditabung dan beli oven deck,” katanya.
Harapan Salma Almira Rahmawati, dia ingin punya toko dan pabrik roti sendiri. Brand yang dipakai ialah Dapoer Ernosa. Brand tersebut dianggap sakral karena pemberian ibunya.
“Ketika saya jualan salad buah dan donat, saya ingin punya brand sendiri. Lalu konsultasi ke ibu. Ibu merestui. Terus diberi nama Ernosa. Ernosa singkatan dari 3 anak ibu, yaitu Erik, Noval, Salma. Salma itu saya. Jadi, pakai nama itu. Siapa tahu nanti usahanya semakin maju. Jadi saya tambahkan Dapeor Ernosa,” ujarnya.
Untuk mewujudkan agar punya toko roti sendiri, Salma Almira Rahmawati menyisikan keuntungannya untuk ditabung. Dia yakin, doa dari ibu dan perjuangan kerasnya, suatu saat akan punya toko roti dan pabrik roti sendiri.
“Saya buka usaha ingin membantu ibu, karena saya tahu sendiri perjuangan beliau membesarkan anak-anaknya tanpa bantuan ayah. Jadi itu bikin motivasi saya bisa mandiri dan punya usaha. Saya dititik sekarang karena doa beliau. Karena saya sejak kecil tidak dinafkahi ayah. Jadi itu bikin motivasi. Kalau bisa, saya harus mandiri. Usaha sama doa yang paling bikin kita berkembang. Kalau bisa, doa dibarengi usaha,” ucapnya. (*fin)
Editor : S. Anwar