Di Balik Jeruji Besi Polda Jawa Tengah, Api Perjuangan Botok Belum Padam

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Surat dari Supriyono alias Botok dan Teguh Istiyanto
Surat dari Supriyono alias Botok dan Teguh Istiyanto
grosir-buah-surabaya

Supriyono alias Botok (47 tahun) dan Teguh Istiyanto (49 tahun), dua orang yang dikenal sebagai aktivis dari Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) ditetapkan tersangka oleh Polresta Pati. Penetapan tersangka karena keduanya diduga melakukan pemblokiran Jalan Pantura Pati–Juwana, Kabupaten Pati, saat aksi massa kelompok kontra AMPB (Aliansi Masyarakat Pati Bersatu) pada Sidang Paripurna Hak Angket Bupati Pati, Jumat (31/10/2025).

Akibat dari pemblokiran tersebut, terjadi kemacetan selama sekitar 15 menit dan mengganggu aktivitas masyarakat. Supriyono alias Botok dan Teguh Istiyanto kini ditahan di sel tahanan Polda Jawa Tengah.

Supriyono alias Botok dan Teguh Istiyanto disangka dengan pasal berlapis, yaitu Pasal 192 ayat (1) KUHP tentang menghalangi atau merusak jalan umum dengan ancaman pidana hingga 9 tahun penjara, atau hingga 15 tahun bila mengakibatkan bahaya besar dan kematian.

Selain itu turut dikenakan Pasal 160 KUHP mengenai penghasutan dengan ancaman pidana hingga 6 tahun, Pasal 169 ayat (1) dan (2) KUHP tentang keikutsertaan dalam perkumpulan yang bertujuan melakukan tindak pidana dengan ancaman pidana hingga 6 tahun penjara, serta Pasal 55 KUHP terkait perbuatan dilakukan bersama-sama.

Meski raganya dijebloskan ke jeruji besi, namun api perjuangan Supriyono alias Botok dan Teguh Istiyanto tak pernah padam. Di balik jeruji besi, Supriyono alias Botok dan Teguh Istiyanto mengobarkan semangat untuk terus berjuang.

Kobaran perjuangan itu dirangkai kata demi kata dalam selembar kertas. Supriyono alias Botok dan Teguh Istiyanto berpesan kepada aktivis AMPB (Aliansi Masyarakat Pati Bersatu) tak pernah kendor untuk menyuarakan keadilan bagi masyarakat Pati.

Pesan lengkap yang ditulis Supriyono alias Botok dan Teguh Istiyanto seperti di bawah ini :

No: 02a/AMPB/II/2025

Hal: Himbauan Perjuangan

Kepada Yth:

1. Teman-teman Aliansi

2. Warga Pati

3. Rakyat Indonesia.

Bahwa sehubungan dengan kriminalisasi yang terjadi kepada kami dan adanya penahanan kami dan ditersangkakannya kami, kami Supriyono Botok dan Teguh Istiyanto menghimbau :

 1. Untuk jangan patah  semangat dalam berjuang.

 2. Tetap perkuat persaudaraan, persatuan, dan tetap solid untuk sama-sama berjuang.

 3. Tetap jaga sikap dan perbuatan, jangan melakukan perlawanan fisik kepada Aparat Kepolisian.

4.Jangan melakukan tindakan-tindakan yang tanpa koordinasi.

Demikian himbauan ini kami sampaikan kepada teman-teman AMPB, warga Pati dan seluruh Rakyat Indonesia.

"Perjuang tidak akan pernah mati, tetapi diam tentu hidup sampai kapanpun."

Mapolda , 02 November 2025

(Tanda tangan)

SUPRIYONO BOTOK

(Tanda tangan)

TEGUH ISTIYANTO

Bagi rakyat Kabupaten Pati, Supriyono alias Botok dan Teguh Istiyanto menjadi simbol keteguhan. Mereka bukan sekadar orator di mimbar jalanan, melainkan gambaran utuh dari sisa-sisa patriot yang masih berdiri tegak di tengah badai godaan zaman.


Jalan yang mereka pilih adalah jalan sunyi, penuh duri fitnah, tantangan terjal, dan resiko terbesar yang selalu mengintai. Mereka tahu betul, perjuangan murni membela aspirasi rakyat seringkali berujung pahit.

Dan benar saja, di saat mayoritas mungkin sudah terbuai oleh banjir fasilitas dan iming-iming kenyamanan, Botok dan Teguh justru harus merasakan dinginnya lantai penjara, bukan hangatnya pelukan keberhasilan.

Namun, di sinilah keharuan dan kebesaran jiwa mereka terpancar.

Dari dalam sel Mapolda Jawa Tengah yang dingin dan lembab, tempat di mana harapan seringkali meredup, Botok dan Teguh justru tidak meratapi nasib atau menyesali pilihan. Pena mereka, yang mestinya menulis tentang kebebasan, justru menorehkan surat terbuka yang penuh kepedulian.

Surat itu adalah bukti nyata bahwa hati seorang pejuang tidak pernah terbelenggu jeruji besi. Alih-alih memikirkan diri sendiri, pikiran mereka melayang jauh kepada rekan-rekan seperjuangan dan masyarakat Pati yang masih menanti. Sebuah pesan terakhir yang mendesak: jaga persatuan, hindari kekerasan fisik, dan teruskan perjuangan.

Surat yang dikirimkan kepada seluruh masyarakat Pati dan aktivis pembela rakyat di seluruh Indonesia ini bukan sekadar himbauan, melainkan manifesto keikhlasan. 

Supriyono alias Botok dan Teguh Istiyanto telah menjadi pelita, mengajarkan bahwa integritas tidak dapat dibeli dan semangat membela rakyat tidak bisa dipadamkan—bahkan ketika tubuh terkurung di balik tembok.

Botok dan Teguh telah memilih untuk hidup abadi dalam sanubari rakyat, karena, sebagaimana mereka tulis:

"Perjuangan tidak akan pernah mati, tetapi diam tentu hidup sampai kapanpun." (*)