Terungkap Penyebab Siswi SD Negeri 150 Sungai Tenang Memerah

avatar Mula Eka P.
  • URL berhasil dicopy
Erna dan Fatiyah sebelum dirawat di Rumah Sakit Bari
Erna dan Fatiyah sebelum dirawat di Rumah Sakit Bari
grosir-buah-surabaya

Seorang siswi SD Negeri 150 Sungai Tenang, Kecamatan Gandus, Palembang, bernama Fatiyah, matanya memerah. Diduga pembuluh darah di sekitar matanya pecah dan mengakibatkan lebam di sekitar matanya.

Kejadian yang menimpa Fatiyah ini mendapat perhatian khusus dari Walikota Palembang, Ratu Dewa. Ratu Dewa sempat mendatangi SD Negeri 150 Sungai Tenang untuk mengklarifikasi terhadap guru dan Wali Kelas Fatiyah.

Ratu Dewa juga memerintahkan agar Fatiyah segera ditangani dokter untuk perawatan matanya. Saat ini, Fatiyah menjalani perawatan dan pengobatan secara intensif di Rumah Sakit (RS) Bari Kota Palembang.

Informasi perihal penyebab Fatiyah mengalami mata merah masih simpang siur. Pihak SD Negeri 150 Sungai Tenang membantah jika mata merah Fatiyah disebabkan karena kekerasan di sekolah.

Kepala SD Negeri 150 Sungai Tenang, Eka Octa Nugraha menegaskan, mata merah yang dialami Fatiyah terjadi sebelum Fatiyah masuk sekolah. Eka Octa Nugraha membantah pengakuan murid yang menyebut dipukul guru menggunakan cincin, karena tidak ada guru yang memakai cincin. Eka Octa Nugraha juga belum menerima hasil pemeriksaan resmi dari rumah sakit.

“Kami siap memberikan keterangan jika kembali diperlukan,” kata Eka Octa Nugraha pada Senin, 3 November 2025.

Dari pihak keluarga Fatiyah, disebutkan kronologi kejadian hingga mata Fatiyah ditemukan merah. Kejadian bermula pada Senin, 27 Oktober 2025. Ketika itu, Erna selaku ibu dari Fatiyah berjalan menuju sekolah Fatiyah, di SD Negeri 150 Sungai Tenang.

Saat tiba di SD Negeri 150 Sungai Tenang, Erna terkejut ketika menjemput putrinya sekolah, tiba-tiba dalam keadaan kedua matanya merah dan lebam di sekitaran mata.

Erna terkejut. Sontak Erna langsung menanyakan kepada guru SD Negeri 150 Sungai Tenang yang ada di kelas tersebut atas apa yang terjadi kepada Fatiyah. Tetapi guru di kelas itu bilang, "Bukan aku".

Dan ketika ditanya kepada guru yang lain, jawabannya "Tidak tahu". 

Bahkan ada yang bilang, "Mungkin karna efek main handphone".

Tetapi Erna tidak percaya kalau merah di mata Fatiyah itu karna menatap layar handphone. Karena Fatiyah sangat jarang sekali memegang handphone, dan lukanya juga memar seperti kena pukulan / benda tumpul.

Ketika Erna bilang ingin melaporkan ke pihak berwajib (Polisi), respon salah satu gurunya, "Jangan asal tuduh. Nanti kamu bisa dilaporin balik".

Erna takut untuk melaporkan hal tersebut karna tidak ada bukti CCTV dan tidak ada saksi. Karena semua murid disana ketika ditanyakan, hanya menjawab tidak tahu.

Fatiyah sendiri mengalami trauma berat. Setiap ditanyakan "Siapa yang pukul adek? matanya kena apa?", ia tidak pernah menjawab dan berlari ketakutan.

Keesokan harinya pada Selasa 28 Oktober 2025, Fatiyah dibawa ke RS Bunda untuk melakukan pemeriksaan. Hasilnya pemeriksaan sangat membuat kaget.

Hasil pemeriksaan menunjukkan pembuluh darah di area sekitar mata Fatiyah pecah, diduga kena pukulan/benda tumpul. Hingga tanggal 2 November 2025, kedua mata Fatiyah masih terasa sakit dan merahnya belum juga hilang. Padahal sudah minum obat.

“Kalau siang dia tidak terlalu rewel, tapi setiap malam dia selalu merintih kesakitan,” kata Erna, ibu Fatiyah.

Fatiyah berharap kasus ini bisa ditindak tegas dan mengetahui apa yang terjadi dengan putrinya.

Fatiyah saat ini masih terbaring di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bari. Fatiyah belum bisa menceritakan kejadian yang menimpanya hingga matanya memerah dan lebam.

“Fatiyah lemes dan belum masuk makan,” kata Vira, yang mendampingi Fatiyah. (*)