Mengenang Sri Redjeki Sumaryoto, Sosok Menteri Penggerak Hak Perempuan

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Sri Redjeki Sumaryoto
Sri Redjeki Sumaryoto
grosir-buah-surabaya

Sejarah perjuangan kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari nama Hj. Sri Redjeki Sumaryoto, S.H. Perempuan tangguh kelahiran 10 Oktober 1950 ini merupakan salah satu tokoh nasional yang mendedikasikan hidupnya untuk memperkuat posisi perempuan di ranah publik dan domestik.

Meskipun beliau telah berpulang pada 2 November 2017 di usia 67 tahun, warisan kebijakan dan semangatnya dalam membela hak-hak kaum perempuan masih terus dirasakan hingga hari ini.

Fondasi Hukum Sejak Muda di Universitas Indonesia

Minat Sri Redjeki terhadap dunia keadilan dan advokasi sudah terbentuk sejak masa mudanya. Ia memilih jalur hukum sebagai dasar perjuangannya:

Pendidikan: Sri Redjeki menempuh pendidikan tinggi di salah satu kampus paling bergengsi di Indonesia. Ia berhasil meraih gelar Sarjana Hukum (S.H.) dari Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FHUI) pada tahun 1973.

Modal Pemikiran: Latar belakang ilmu hukum inilah yang kemudian membentuk pola pikirnya yang kritis, sistematis, dan tegas dalam menyusun regulasi yang berpihak pada keadilan sosial, terutama bagi kaum perempuan yang kerap menjadi kelompok rentan.

Dipercaya Megawati Memimpin Kementerian Pemberdayaan Wanita

Puncak pengabdian Sri Redjeki di level pemerintahan terjadi pada awal era Reformasi. Ia dipercaya oleh Presiden Megawati Soekarnoputri untuk masuk dalam jajaran Kabinet Gotong Royong.

Ia mengemban amanah sebagai Menteri Negara Pemberdayaan Wanita dengan masa jabatan dari 10 Agustus 2001 hingga 20 Oktober 2004.

Selama tiga tahun masa jabatannya, Sri Redjeki dihadapkan pada berbagai tantangan besar pasca-krisis, mulai dari isu perdagangan manusia (human trafficking), perlindungan tenaga kerja wanita (TKW) di luar negeri, hingga peningkatan keterwakilan perempuan di parlemen.

Warisan Perjuangan dan Akhir Hayat

Bagi kolega dan masyarakat yang mengenalnya, Sri Redjeki dikenal sebagai sosok menteri yang bersahaja namun tak segan bersuara lantang jika menyangkut diskriminasi gender. Keberadaannya di kabinet saat itu menjadi simbol penting bahwa perempuan memiliki kapasitas penuh untuk menjadi pembuat kebijakan di tingkat tertinggi negara.

Pada 2 November 2017, Sri Redjeki Sumaryoto mengembuskan napas terakhirnya. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi dunia pergerakan perempuan di Indonesia. Kendati demikian, dedikasi yang pernah ia torehkan di lembaran sejarah bangsa akan selalu menjadi inspirasi bagi generasi perempuan masa kini untuk terus maju dan berdaya. (*)