Efek Domino Dampak Serangan Israel ke South Pars dan Ras Laffan
Perang antara Republik Islam Iran dengan Amerika Serikat - Israel memicu kerusakan tidak hanya infrastruktur militer, tapi juga merambah ke pusat energi di kawasan Teluk. Pusat energi Iran, South Pars, diserang oleh pesawat pembom Israel pada Rabu, 19 Maret 2026.
Atas serangan terhadap fasilitas energi Iran tersebut, Perusahaan Gas Nasional Iran mengkonfirmasi bahwa meskipun terjadi serangan Amerika Serikat -Israel pada Rabu pagi yang menargetkan fasilitas gas di Iran Selatan, tidak ada wilayah di negara itu yang menghadapi kendala pasokan gas.
“Agresi tersebut, yang terjadi sekitar pukul 14:00 waktu setempat, menyebabkan kerusakan pada beberapa unit penyulingan, tetapi tidak ada korban jiwa yang dilaporkan, dan semua personel tetap aman dan dalam kondisi baik, menurut perusahaan tersebut,” demikian pernyataan Perusahaan Gas Nasional Iran.
Ditambahkan bahwa tim dari Perusahaan Gas Nasional Iran berada di lokasi untuk mengelola situasi dan memulihkan kondisi normal, dan produksi gas terus berlanjut di bawah protokol keselamatan penuh, begitu pula jaringan gas Iran.
Kebakaran akibat agresi Amerika Serikat -Israel di ladang gas South Pars telah dipadamkan, menurut pernyataan tersebut, dan operasi pendinginan peralatan sedang berlangsung.
Balasan Iran
Sebagai balasan serangan Amerika Serikat -Israel di ladang gas South Pars, Iran meluncurkan roket dan drone ke beberapa fasilitas energi yang terafiliasi dengan Amerika Serikat. Salah satu yang menjadi target ialah kawasan industri Ras Laffan milik QatarEnergy di sebelah utara Doha. Ras Laffan adalah salah satu fasilitas ekspor gas alam cair terbesar di dunia. Fasilitas ini merupakan titik penting dalam rantai pasokan energi global yang memasok Eropa dan Asia.
Lokasi utama Qatar memproduksi gas alam cair dan gas-ke-cair, serta terminal ekspor LNG terbesar di dunia, telah menjadi sasaran utama rudal balistik yang ditembakkan oleh Iran pada Rabu malam, 18 Maret 2026. QatarEnergy melaporkan kerusakan yang luas pada lokasi dan beberapa fasilitas.
Data satelit NASA FIRMS menguatkan adanya kebakaran di Ras Laffan, Qatar, termasuk di pabrik Shell Pearl GTL, fasilitas gas-ke-cair terbesar di dunia, dan kilang QatarEnergy Condensate. Deteksi anomali termal MODIS dari tanggal 18 Maret 2026 menunjukkan dua titik api dengan tingkat kepercayaan 100%, dengan pembacaan Daya Radiasi Api lebih dari 1.400 megawatt.
Sebagai konteks, itu adalah kebakaran industri yang sangat besar. Kementerian Dalam Negeri Qatar telah mengkonfirmasi kebakaran tersebut menyusul dugaan serangan rudal Iran. Ras Laffan memasok sebagian besar LNG global. Shell Pearl sendiri memproses 140.000 barel produk cair per hari.
QatarEnergy mengkonfirmasi bahwa Kota Industri Ras Laffan telah menjadi sasaran serangan rudal.
“Tim tanggap darurat segera dikerahkan untuk memadamkan kebakaran yang terjadi, karena kerusakan yang ditimbulkan sangat luas. Seluruh personel telah dipastikan keberadaannya dan tidak ada korban jiwa yang dilaporkan saat ini. QatarEnergy akan terus menyampaikan informasi terbaru yang tersedia,” tulis laporan Qatar Energy.
Kementerian Luar Negeri Qatar, menyatakan kecaman dan penolakan kerasnya terhadap serangan Iran yang terang-terangan yang menargetkan Kota Industri Ras Laffan, yang menyebabkan kebakaran dan kerusakan signifikan pada fasilitas tersebut.
Serangan tersebut digambarkan sebagai eskalasi yang berbahaya, pelanggaran kedaulatan negara yang mencolok, dan ancaman langsung terhadap keamanan nasional dan stabilitas regionalnya.
Kementerian Luar Negeri Qatar menegaskan bahwa meskipun kebijakan Qatar untuk menjauhkan diri dari perang ini sejak awal dan komitmennya untuk menghindari eskalasi apa pun, pihak Iran terus menargetkan Qatar dan negara-negara tetangganya dengan pendekatan yang tidak bertanggung jawab yang merusak keamanan regional dan mengancam perdamaian internasional.
Kementerian Luar Negeri Qatar menekankan bahwa Qatar telah berulang kali menyerukan perlunya menahan diri dari menargetkan fasilitas sipil dan energi, termasuk di wilayah Republik Islam Iran, untuk melestarikan sumber daya rakyat di kawasan tersebut dan menjaga perdamaian dan keamanan internasional.
Namun, pihak Iran terus melanjutkan kebijakan eskalasi yang mendorong kawasan tersebut ke ambang kehancuran dan menyeret negara-negara yang bukan pihak dalam krisis ini ke zona konflik.
Kementerian Luar Negeri Qatar menegaskan bahwa serangan ini merupakan pelanggaran terhadap Resolusi Dewan Keamanan PBB (Perserikatan Bangsa Bangsa) nomor (2817), dan kembali menyerukan kepada Dewan untuk memikul tanggung jawabnya dalam menjaga perdamaian dan keamanan internasional serta mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menghentikan pelanggaran serius ini dan mencegah para pelakunya.
Kementerian Luar Negeri Qatar juga menegaskan kembali bahwa Negara Qatar berhak untuk menanggapi sesuai dengan Pasal (51) Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa dan hak untuk membela diri sebagaimana dijamin oleh hukum internasional, dan menekankan bahwa pihaknya tidak akan ragu untuk mengambil semua tindakan yang diperlukan untuk melindungi kedaulatan, keamanan, dan keselamatan warga negara dan penduduknya.
Presiden Prancis, Emmanuel Macron turut menanggapi serangan Iran terhadap kawasan industri Ras Laffan milik QatarEnergy.
Emmanuel Macron berkata, “Saya baru saja berbicara dengan Emir Qatar dan Presiden Trump menyusul serangan yang menghantam fasilitas produksi gas di Iran dan Qatar hari ini. Merupakan kepentingan bersama kita untuk segera menerapkan moratorium terhadap serangan yang menargetkan infrastruktur sipil, khususnya fasilitas energi dan pasokan air. Populasi sipil dan kebutuhan pokok mereka, serta keamanan pasokan energi, harus dilindungi dari eskalasi militer.”
Ras Laffan terletak 80 kilometer di utara Doha di pantai timur laut Qatar. Ini adalah fasilitas ekspor LNG terbesar di dunia, dibangun di sekitar cadangan gas North Field Qatar.
Kompleks ini mengoperasikan 14 unit pencairan gas dengan kapasitas gabungan 77 juta ton LNG per tahun – sekitar 25 persen dari seluruh LNG yang diperdagangkan secara global. Pada tahun 2024, fasilitas ini memuat 1.655 kargo tanker, beroperasi pada tingkat pemanfaatan kapasitas 100 persen.
Pelabuhan ini mencakup area seluas 56 kilometer persegi dan merupakan pelabuhan buatan terbesar di dunia. Pelabuhan ini dibangun khusus untuk menangani kapal pengangkut LNG terbesar di dunia. Sekitar 115.000 orang bekerja di sana.
Fasilitas ini bukan hanya terminal ekspor. Fasilitas ini memproses gas dari North Field, yang dimiliki Qatar bersama dengan South Pars Iran – ladang yang sama yang diserang Israel pada 18 Maret. North Field merupakan sumber 80 persen pendapatan pemerintah Qatar. Qatar sudah melakukan ekspansi. Rencana telah disusun untuk meningkatkan produksi hingga 142 juta ton per tahun pada akhir dekade ini.
Rencana tersebut kini ditunda. Fasilitas yang memasok listrik bagi negara Qatar, mendanai kekayaan negaranya, dan memanaskan rumah-rumah dari Tokyo hingga Rotterdam, kini terbengkalai sementara rudal berjatuhan di sekitarnya.
Dampak ke harga minyak
Harga minyak tidak akan pernah tetap di $103. Ini adalah rantai domino yang akan meningkatkannya ke harga $300. Inilah yang terjadi hari ini, Rabu 18 Maret 2026.
Israel dan Amerika Serikar membom South Pars di Iran. Itu bukanlah fasilitas sembarangan. Itu adalah ladang gas alam terbesar di dunia.
Iran tidak membutuhkan waktu 24 jam untuk merespons. Mereka menyebutkan 5 kilang minyak di Teluk dan mengatakan kilang-kilang tersebut akan terkena dampaknya "dalam beberapa jam mendatang."
Efek Domino
Langkah 1 : Selat Hormuz tertutup - 15 juta barel per hari terblokir.
Langkah 2 : IEA ( International Energy Agency) mengkonfirmasi 8 juta barel/hari hilang - kehilangan pasokan terbesar dalam sejarah.
Langkah 3 : South Pars dibom - Infrastruktur energi Iran runtuh.
Langkah 4 : Kilang-kilang Teluk terancam - Samref (400.000 b/d), Ras Laffan (305.000 b/d).
Langkah 5 : Iran menyerang kilang minyak - kilang-kilang itu akan hilang minimal selama 18 hingga 36 bulan.
Langkah 6 : Tidak ada kapasitas cadangan untuk mengisi kesenjangan — Arab Saudi + UEA memiliki gabungan 2,5 juta barel per hari.
Langkah 7 : Defisit pasokan menjadi permanen — penemuan harga menjadi vertical.
Ini tidak seperti tahun 2008, ketika harga minyak mencapai $147 dan kemudian pulih kembali. Pada tahun 2008, kilang-kilang minyak itu masih berdiri. Pada tahun 2008, Selat Hormuz dibuka. Pada tahun 2008, terdapat kapasitas berlebih.
Semua itu tidak benar lagi saat ini. Embargo minyak pada tahun 1973 mengurangi produksi sebesar 4 juta barel per hari. Harga naik empat kali lipat dari $3 menjadi $12 dalam beberapa bulan.
Gangguan saat ini mencapai 8 juta barel per hari. Dua kali lebih buruk. Dengan setengah kapasitas cadangan. Dan sekarang mereka mengincar kilang-kilang minyak.
Goldman Sachs mengatakan ini, "bukan krisis rantai pasokan."
Goldman Sachs juga mengatakan bahwa hipotek subprime aman pada tahun 2007. Angka $ 200 sudah menjadi topik diskusi utama para analis di CNBC.
$300 adalah angka ketika kilang-kilang tersebut benar-benar terbakar. Pasar mengetahui hal ini. Harga Brent hari ini adalah $110. Dana lindung nilai berada pada titik optimisme tertinggi mereka terhadap minyak sejak tahun 2020. Dan belum sampai pada bagian terburuknya. (*)
Editor : S. Anwar