KH Ahmad Marzuqi Zahid, Sang Arsitek Kemajuan Pesantren Langitan
Lahir di Desa Kauman, Kabupaten Lamongan, pada 10 Juni 1909 Masehi (22 Jumadal Ula 1327 Hijriyah), KH Ahmad Marzuqi Zahid adalah putra kesembilan dari pasangan KH Zahid dan Nyai 'Alimah.
Tumbuh dalam buaian tradisi keilmuan pesantren yang kuat, nilai-nilai dasar Islam dan ketawadhuan telah mendarah daging dalam jiwa beliau sejak masih balita di bawah bimbingan langsung sang ayahanda.
Menginjak usia 10 tahun, KH Ahmad Marzuqi Zahid mulai nyantri dan mematangkan ilmu agama di Pondok Pesantren Langitan, Tuban, di bawah asuhan sang kakak kandung, KH Abdul Hadi Zahid. Tak hanya menetap di Langitan, dahaga keilmuannya menuntun beliau nyantri pasanan (ngaji kilat bulan Ramadhan) ke Pesantren Tebuireng demi mereguk keberkahan ilmu langsung dari Hadratussyaikh KH Hasyim Asy'ari.
KH Ahmad Marzuqi Zahid juga dikenal memiliki cita rasa seni yang halus, terbukti dengan kegigihannya memperdalam ilmu kaligrafi kepada K.H. Basuni di Blitar.
Kiprah Kiai Marzuqi bagi umat sangatlah monumental. Berkat kealimannya dan kecakapannya dalam ilmu manajemen organisasi, KH Ahmad Marzuqi Zahid diangkat menjadi Kepala Madrasah Al-Falahiyah (1949), sukses membawa lembaga tersebut menjadi sangat progresif.
Puncak pengabdiannya adalah ketika KH Ahmad Marzuqi Zahid dipercaya memegang tongkat kepengasuhan Pondok Pesantren Langitan bersama KH Abdullah Faqih pada rentang 1971 hingga 2000. Di tangannyalah wajah Pesantren Langitan bertransformasi dengan gemilang tanpa kehilangan jati diri salaf-nya.
KH Ahmad Marzuqi Zahid melahirkan banyak gebrakan; mulai dari merintis Pusat Pelatihan Bahasa Arab, kursus komputer dan jurnalistik, hingga membangun kemandirian ekonomi melalui Badan Usaha Milik Pondok (BUMP). Semua inovasi ini dijiwai oleh prinsip agung pesantren: "Al-Muhafazhatu 'alal qadim as-shalih wal akhdzu bil jadid al-ashlah" (memelihara tradisi lama yang baik, dan mengambil inovasi baru yang lebih baik).
KH Ahmad Marzuqi Zahid juga pernah berjuang di jalur politik kerakyatan sebagai anggota DPRD Tuban (Pemilu 1955) mewakili panji Nahdlatul Ulama.
Di balik kesuksesan sang kiai, hadir ketangguhan sang istri, Nyai Halimah, yang senantiasa mendampingi perjuangannya. Dari pernikahan ini, lahir para penerus estafet dakwah Islam, di antaranya KH Abdullah Munif dan KH Muhammad Ali. Setelah 29 tahun penuh dedikasi mengasuh Pesantren Langitan, sang pembaharu yang bersahaja ini berpulang ke hadirat Allah SWT pada Sabtu, 24 Juni 2000 Masehi dalam usia 91 tahun. Lahumul fatihah...
*) Source : Pecinta Ulama Nusantara
Editor : S. Anwar