Brasil Jalin Kerjasama dengan Maroko untuk Pasok Pupuk Fosfat
Brasil merupakan kekuatan besar di sektor pertanian, namun negara ini masih sangat bergantung pada impor pupuk. Kini, Pemerintah Brasil telah menjalin kerja sama dengan perusahaan Maroko, OCP Nutricrops, dengan angka yang seketika mengubah skala pembicaraan: 3,8 juta ton pupuk fosfat.
Pada hari Jumat, 18 September, Kementerian Pertanian dan Peternakan Brasil menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan OCP Nutricrops saat kunjungan Menteri André de Paula ke kompleks industri perusahaan tersebut di Jorf Lasfar, Maroko. Nota kesepahaman ini menetapkan volume acuan sebesar 3,8 juta ton untuk pasokan pupuk fosfat bagi para pelaku usaha di Brasil, yang dimulai tahun ini.
Pemerintah Brasil memproyeksikan adanya defisit pupuk sebesar 5 juta ton untuk musim tanam 2026/2027 mendatang; artinya, volume acuan dalam nota kesepahaman tersebut setara dengan 76�ri perkiraan defisit tersebut. Namun, ada perbedaan krusial di balik tajuk berita tersebut.
Ini adalah nota kesepahaman awal, bukan kontrak pembelian final. Pembelian aktual akan bergantung pada negosiasi komersial antara OCP Nutricrops dan pelaku usaha Brasil yang nantinya akan merampungkan transaksi tersebut. Oleh karena itu, angka 3,8 juta ton merupakan kerangka kerja pasokan utama, bukan berarti 3,8 juta ton tersebut sudah terjual atau terikat kontrak.
Kesepakatan ini juga mencakup kerja sama teknis di bidang pertanian berkelanjutan, pemetaan tanah, bio-input, pupuk hayati, serta berbagai solusi bagi Brasil. Selain itu, kesepakatan ini membuka peluang investasi di sektor produksi, pengolahan, penyimpanan, dan logistik, serta pertukaran informasi pasar.
OCP Nutricrops berbasis di Jorf Lasfar. Lokasi ini mencakup area seluas 2.000 hektare, memiliki kapasitas produksi tahunan sebesar 15 juta ton, dan memproduksi lebih dari 100 formulasi pupuk.
Sekitar 92% pupuk yang dikonsumsi di Brasil berasal dari luar negeri. Menurut pihak Kementerian, konflik antara Iran dan Amerika Serikat yang bermula pada bulan Februari telah mengganggu jalur pengangkutan pupuk dan meningkatkan kekhawatiran mengenai ketersediaan global, sehingga menambah tekanan terhadap jadwal musim tanam di Brasil.
Dalam wawancara dengan CNN Agro News, Menteri André de Paula menyatakan bahwa melalui kemitraan dengan Maroko ini, "ancaman kekurangan pasokan dapat dipastikan tidak akan terjadi." Pemerintah menempuh dua jalur: mengamankan pasokan jangka pendek sembari meningkatkan produksi pupuk dalam negeri—termasuk upaya mengaktifkan kembali pabrik pupuk dan menjalankan program insentif Profert yang disetujui pada awal September.
Jadi, intinya sederhana: 3,8 juta ton dari Maroko.
Namun, realitas pasarnya lebih kompleks: angka 3,8 juta ton tersebut merupakan volume acuan dalam kesepakatan awal, sedangkan realisasi pengirimannya masih bergantung pada negosiasi komersial.
Bagi Brasil, pesannya jelas. Ketika sebuah negara yang mengimpor sekitar 92% kebutuhan pupuknya mencari pasokan alternatif dalam skala sebesar ini, ketahanan pupuk menjadi bagian sentral dari strategi ketahanan pangan. (*)
Editor : S. Anwar