Dr Soekardjo, Perantau yang Mengabdikan Hidupnya untuk Tasikmalaya

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
dr Soekardjo
dr Soekardjo
grosir-buah-surabaya

Dokter (dr) Soekardjo lahir di lingkungan Keraton Surakarta pada tahun 1864. Ayahnya bernama Raden Ngabehi Prawisentana, berasal dari kalangan priyayi Mataram.

Setelah lulus sekolah kedokteran, beliau memilih merantau dan mengabdikan hidupnya di Tasikmalaya. Karena dihormati masyarakat, Soekardjo dikenal dengan sebutan Juragan Mas Soekardjo.

Dokter Pribumi Pertama yang Jadi Direktur Rumah Sakit

Tahun 1925, dr Soekardjo dipercaya menjadi Direktur Provinciale Ziekenhuis, rumah sakit yang sekarang dikenal sebagai RSUD dr Soekardjo. Yang bikin keren, beliau adalah dokter pribumi pertama yang memimpin rumah sakit tersebut selama 13 tahun (1925-1938). Di masa itu, beliau harus menghadapi berbagai wabah, mulai dari penyakit Malaria, penyakit kulit serta Penyakit kelamin

Kerjanya Nggak Kenal Libur

Selain memimpin rumah sakit, dr Soekardjo juga buka praktik di rumahnya yang berada di Jalan Heerenstraat No.18 (sekarang Jalan Yudanegara), dekat Masjid Agung Tasikmalaya.

Soekardjo praktik setiap hari, kecuali Senin dan Kamis. Kenapa? Karena dua hari itu beliau harus berangkat dinas sampai Pangandaran untuk melayani masyarakat disana. Hebatnya lagi, beliau juga mendirikan rumah sakit swasta (partikelir) di kawasan Javaveem, yang sekarang menjadi Jalan RE Martadinata.

Bukan Cuma Dokter, Tapi Juga Aktivis

dr. Soekardjo nggak cuma sibuk mengobati pasien. Beliau juga aktif di organisasi Paguyuban Pasundan, salah satu organisasi penting pada zamannya. Bahkan, namanya pernah masuk sebagai calon anggota dewan Tasikmalaya dari kalangan profesional. Artinya, Soekardjo juga ikut berjuang membangun daerah lewat jalur politik dan organisasi.

Saat Perang, Beliau Tetap Berdiri di Garis Depan

Setelah Indonesia merdeka, Agresi Militer Belanda membuat kondisi Tasikmalaya jadi kacau. Di tengah situasi berbahaya itu, dr. Soekardjo memimpin tim sukarelawan medis untuk mengobati para pejuang yang terluka.

Soekardjo juga mendirikan pos kesehatan darurat di kaki Gunung Galunggung, tepatnya di sekitar Tawang Banteng dan Sinagar, untuk membantu pejuang serta masyarakat yang mengungsi

Dapat Penghargaan dari Negara

Atas keberanian dan pengabdiannya selama masa perjuangan, Pemerintah Republik Indonesia memberikan Bintang Gerilya kepada dr. Soekardjo. Penghargaan ini diberikan karena jasa beliau yang nyata membantu perjuangan pada masa Agresi Militer Belanda I dan II.

Soekardjo membuktikan kalau perjuangan nggak selalu dilakukan dengan mengangkat senjata. Menyelamatkan nyawa juga adalah bentuk perjuangan

Namanya Diabadikan Sampai Sekarang

Sebagai bentuk penghormatan atas jasanya: Tahun 2016, nama beliau resmi digunakan sebagai nama RSUD dr. Soekardjo Kota Tasikmalaya. Namanya juga diabadikan menjadi Jalan Dokter Soekardjo, yang lebih akrab disebut warga sebagai Jalan Dokar. Jalan ini membentang dari Simpang Lima hingga Jalan HZ Mustofa, dan setiap hari dilalui ribuan kendaraan.

dr. Soekardjo membuktikan bahwa pengabdian nggak ditentukan dari mana kita berasal. Meski lahir di Surakarta, beliau memilih mengabdikan hidupnya untuk masyarakat Tasikmalaya sebagai dokter, pemimpin rumah sakit, pejuang kemerdekaan, dan tokoh masyarakat.

Jadi, setiap kali kamu melewati Jalan Dokar atau melihat RSUD dr. Soekardjo, ingatlah bahwa di balik nama itu ada sosok luar biasa yang pernah mengabdikan seluruh hidupnya untuk Tasikmalaya. (*)