Kala Jenazah Halim Perdanakusuma Ditemukan di Pantai Lumut Malaya

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Makam  Halim Perdanakusuma
Makam Halim Perdanakusuma
grosir-buah-surabaya

Pada satu pagi di bulan Desember 1947, Haji Moh Nurrurdin Tak selaku ketua partai di Malaya daerah Lumut tiba-tiba mendapat laporan dari para pemuda anak buahnya yang telah menemukan jenasah yang terdampar di pantai. Segera Nurrurdin Tak mengadakan pengecekkan dan benar ia mendapati jenazah tersebut.

Jenasah masih memakai seragam pilot, berambut pendek. Lalu Nurrurdin Tak memeriksa kantong jenasah tersebut dan mendapati tanda pengenal dan tertera "Komodor Halim Perdana kusuma, AURI", dari situ dapat pastikan bahwa jenazah tersebut adalah pejuang dari Indonesia.

Segera kemudian Nurrurdin melaporkan kejadian ini pada polisi dan jenazah itupun dibawa ke Rumah Sakit. Setelah itu Nurrurdin menghubungi konsul Indonesia Oetoyo di Singapura untuk memberitahukan perihal jenazah tadi, tetapi gagal. Memang pada waktu itu Malaysia masih berada di bawah tekanan Inggris. Sedang Indonesia baru saja memerdekakan diri.

Jujur Nurrurdin Tak mengakui bahwa dirinya mendapat inspirasi perjuangan perjuangan bangsa Indonesia, maka ia merasa satu dengan Indonesia, dan berpendapat bahwa pahlawan Indonesia adalah Malaya juga.

Untuk memudahkan pemakaman jenasah "Pahlawan" Malaya itu bahkan Haji Moh. Nurrurdin Tak mengakui sebagai ahli waris dari jenazah tersebut agar bisa keluar dari rumah sakit dan dimakamkan secara wajar dengan penghormatan walau Haji Moh. Nurrurdin Tak sempat di interogasi polisi Malaya hampir 3 jam.

Setelah debat seru, akhirnya polisi mengizinkan dengan syarat bahwa jenasah Halim Perdanakusuma di bawa dan diarak tanpa bendera.

Seperti kebiasaan di Malaysia, jika jenazah tidak mempunyai ahli waris maka penguburannya dilakukan oleh pemerintah dalam hal ini pemerintah Inggris, tanpa penghormatan, tetapi Nurrudin Tak yang waktu itu menjabat Ketua II Partai Kebangsaan Melayu Malaya cabang Dinding (Lumut), tidak rela jenazah Halim Perdanakusuma dikebumikan dengan begitu saja tanpa penghormatan.

lapun mendapat telegram sekitar jam 08.30 dari Ketua Partainya Yusuf Muhammad yang memerintahkan agar menguburkan jenazah Halim dengan penghormatan sebagai pahlawan.

Partai Kebangsaan Melayu Malaya, menurut Haji Moh. Nurrurdin Tak mempunyai azas yang menginginkan persatuan dengan Indonesia sehingga mereka mengakui bendera Merah Putih, lagu kebangsaan Indonesia Raya sebagai lambang perjuangannya.

Partai itu menganggap perjuangan bangsa Indonesia adalah perjuangan partainya dan pahlawan pahlawan Indonesia adalah Pahlawannya, sehingga dengan dasar itu maka Halim Perdanakusuma yang gugur di Malaysia diakui sebagai saudara mereka dan dapat dimakamkan dengan penghormatan sebagai mana biasanya terhadap seorang Pahlawan, sekalipun mendapat rintangan-rintangan dari penguasa Inggris.

Demikianlah jenazah Halim Perdanakusuma benar-benar mendapat penghormatan dalam upacara pemakamannya, di mana pemuda-pemuda dan masyarakat Lumut mengadakan arak-arakan jenazah dengan bendera merah putih yang berkibar. Hadir pula dalam upacara tersebut para pimpinan-pimpinan partai dan pimpinan-pimpinan kampung.

Tempat pemakaman terletak di pinggir pantai menghadap pulau Sumatera, dekat sebuah mesjid Lumut.

Sampai akhirnya pada tahun 1974, jenasah Komodor Halim Perdanakusuma dipindahkan ke TMP kalibata dalam sebuah upacara Militer penuh walau sempat waktu negosiasi antara pemerintah Indonesia dengan Malaysia untuk pemulangan jenasah perintis TNI Angkatan Udara ini para penduduk Lumut Malaysia keberatan karena mereka sudah menganggap Komodor Abdul Halim Perdanakusuma adalah juga Pahlawan mereka.

Saat itu Haji Moh. Nurrurdin Tak hadir sebagai tamu undangan TNI Angkatan Udara.

Tepat pukul 10.00 WIB, tanggal 10 Nopember 1974, suasana hening dan penuh khidmad dalam suatu upacara dan tepat di Hari Pahlawan di Taman Makam Pahlawan Nasional Kalibata.

Haji Moh. Nurrurdin Tak menghadiri kembali upacara pemakaman "Pahlawan" yang ia temukan di pantai tahun 1947 lalu dengan tak sadar matanya tiba-tiba basah dan ia menangis dengan air matanya menetes perlahan.

"Saya belum pernah melihat upacara demikian khidmad seperti di negara-negara lain. Manakala hari sudah pukul 00.00. tentu sudah ternyenyak, lampu-lampu dimatikan dan suasana hening sepi, kembali saya teringat jenazah Halim Perdanakusuma yang tergolek di pantai, jauh dari anak isteri, saudara dan bangsanya," tutur Haji Moh. Nurrurdin Tak sembari mengusap titik air matanya.

Haji Moh. Nurrurdin Tak hari itu juga menyerahkan Bendera Merah Putih yang dulu dipakai saat pemakaman Komodor Abdul Halim Perdanakusuma di dekat Masjid pinggir pantai wilayah Lumut Malaysia pada Desember 1947 kepada Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Udara. (*)

*) Sumber : Majalah Angkasa terbitan 1974