Kisah Rasidin Karyana Mendirikan PO Sinar Jaya

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Rasidin Karyana
Rasidin Karyana
grosir-buah-surabaya

Rasidin Karyana sudah membantu mengurus truk sejak usia 8 tahun, di bisnis angkutan barang milik keluarga Herman Rusly. 18 November 1982, mereka berdua mendirikan Perusahaan Otobus (PO) Sinar Jaya, cuma bermodal 14 unit bus medium untuk rute Cikarang-Pulo Gadung. 

Nama perusahaan ini bahkan diusulkan langsung oleh ibu Herman, berharap usahanya terus berkembang. Dari situ, Sinar Jaya terus memperkuat standar keamanan dan kenyamanan penumpang lewat jargon “Aman, Terjangkau, Terpercaya”, sambil terus meluas ke rute Antar Kota Antar Provinsi (AKAP), bus wisata, sampai bus antar jemput karyawan.

Sekarang Sinar Jaya mengoperasikan lebih dari 1.000 unit armada, menjangkau Pulau Jawa, Sumatra, dan Kalimantan, bahkan memegang rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) untuk pelayanan terbaik secara berturut-turut. Ini kisah Herman Rusly dan H Rasidin Karyana.

Dimulai dari Bisnis Truk Keluarga

Rasidin Karyana sudah membantu mengurus truk sejak usia 8 tahun, di bisnis angkutan barang milik ayah Herman Rusly, pamannya sendiri. Herman kemudian mengelola penuh bisnis keluarga itu, sebelum akhirnya beralih fokus ke bisnis bus.

Nama yang Diberikan Sang Ibu

18 November 1982, Herman Rusly dan Rasidin Karyana resmi mendirikan PO Sinar Jaya, bermodal 14 unit bus medium untuk rute Cikarang-Pulo Gadung. Nama "Sinar Jaya" sendiri diusulkan oleh ibu Herman, dengan harapan usaha yang diberi nama itu bisa terus berkembang.

Julukan yang Tidak Diinginkan

Di era tahun 1990 sampai 2000-an, bus-bus di jalur Pantura kerap adu cepat satu sama lain. Sinar Jaya jadi salah satu yang dijuluki "Raja Jalanan", bersaing ugal-ugalan dengan banyak PO lain. Banyak insiden yang melibatkan Sinar Jaya justru membuat mereka sadar harus berubah.

Keputusan Melawan Arus

Alih-alih mempertahankan citra "raja jalanan" yang berbahaya, Rasidin dan Herman memilih arah sebaliknya, meluncurkan jargon "Aman, Terjangkau, Terpercaya". Keputusan ini yang membuat Sinar Jaya kemudian dijuluki "bus keong" karena kecepatannya yang jauh lebih pelan dibanding PO lain.

Terus Berkembang Lintas Layanan

Dari cuma bus AKDP, Sinar Jaya terus meluas ke rute AKAP antarprovinsi, bus wisata, bus antar jemput karyawan, sampai bus kota. Tahun 1994, mereka bahkan membangun SPBU sendiri lewat PT Sinar Jaya Kilang Mandiri, demi menjamin kualitas bahan bakar armada mereka sendiri.

Estafet ke Generasi Berikutnya

Setelah Herman Rusly berpulang, kepemimpinan diteruskan putranya, Teddy Kurniawan Rusly, yang mengambil alih tahun 1997 sepulang menempuh pendidikan di Jerman. Di bawah kepemimpinannya, fokus keamanan dan kenyamanan penumpang terus diperkuat.

Diakui Lewat Rekor MURI

Sinar Jaya kini mengoperasikan lebih dari 1.000 unit armada, menjangkau Jawa, Sumatra, dan Kalimantan, bahkan memegang rekor MURI untuk pelayanan terbaik secara berturut-turut. Dari reputasi "raja jalanan" yang ugal-ugalan, mereka berhasil membalik citra jadi salah satu PO paling dipercaya di Indonesia.

Herman Rusly dan Rasidin Karyana tidak mempertahankan reputasi "raja jalanan" yang sempat melekat ke bisnis mereka, meski itu bisa saja dianggap gagah di masanya. Mereka memilih arah yang lebih sulit, jadi lebih lambat dan lebih aman, demi kepercayaan jangka panjang. (*)