Kisah Sukses Yoyok Hery Wahyono Dirikan Waroeng SS
Waroeng SS yang memiliki banyak cabang saat ini, memiliki kisah haru bagi pendirinya, yaitu Yoyok Hery Wahyono. Sebelum usaha di bidang kuliner, Yoyok Hery Wahyono selama 20 semester kuliah di Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada (UGM) dan tak kunjung lulus.
Meski demikian, Yoyok Hery Wahyono tak patah arang. Dia malah buka warung tenda bermodal Rp 9 juta. Dari warung tenda tersebut, kini Waroeng SS punya 98 cabang tanpa pinjaman bank sepeserpun. Ini kisah Yoyok Hery Wahyono, pendiri Waroeng SS.
Kuliah yang Mandek
Yoyok Hery Wahyono kuliah di Jurusan Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada (UGM) dengan cita-cita jadi engineer. Tapi studinya mandek sampai 20 semester, terancam tidak lulus. Dia mulai khawatir, kalau tidak lulus, bagaimana caranya mendapat pekerjaan yang layak?
Penghasilan yang Tidak Menentu
Sebelum jualan sambal, Yoyok Hery Wahyono sudah punya usaha event organizer (EO) bernama InSed Production. Penghasilannya lumayan besar, tapi tidak tetap. Kadang ada proyek, kadang kosong. Dia ingin sesuatu yang menghasilkan pemasukan rutin, meski jumlahnya tidak sebesar EO.
Modal Rp 9 Juta
20 Agustus 2002, Yoyok Hery Wahyono membuka warung tenda pertama di Jalan Kaliurang, Yogyakarta, sebelah barat Grha Sabha Pramana UGM. Modalnya cuma Rp 9 juta. Rp3 juta dari tabungan sendiri dan Rp 6 juta dari sepupunya.
Dia memilih sambal sebagai menu utama, karena pasar sambal di Yogyakarta saat itu masih didominasi rasa pedas manis.
Laris Tapi Belum Untung
Warung tenda itu langsung ramai pengunjung. Tapi laris bukan berarti untung. Selama satu setengah tahun, Yoyok Hery Wahyono belum mendapat keuntungan sama sekali, meski omzetnya sudah mencapai Rp 30 juta per bulan. Usahanya tetap jalan karena uang penjualan terus diputar sebagai modal.
Untung dari Efisiensi
Yoyok Hery Wahyono akhirnya mendapat keuntungan bukan dengan menaikkan harga, tapi lewat efisiensi. Dia perbaiki cara pembelian bahan baku, metode memasak, sampai penghematan bahan bakar. Semua dipelajari secara otodidak sambil terus berjualan.
Waralaba yang Ditinggalkan
Tahun 2007, Yoyok Hery Wahyono sempat membuka cabang dengan sistem waralaba. Tapi cuma berjalan tiga tahun sebelum dia hentikan, karena pengelolaan resto oleh manajemen berbeda justru bikin standar rasa dan pelayanan sulit dijaga. Dia pilih kembali ke sistem kelola sendiri, meski itu berarti pertumbuhan lebih lambat.
Hasilnya, sejak berdiri tahun 2002 sampai sekarang, Waroeng SS tidak pernah mengambil pinjaman dari bank. Dari satu warung tenda dengan 5 karyawan, sekarang berkembang jadi 98 cabang dengan sekitar 3.600 karyawan, tersebar di lebih dari 40 kota di Jawa, Bali, sampai Kuala Lumpur. Semua cabang dikelola sendiri, tidak ada satu pun yang waralaba.
Yoyok Hery Wahyono tidak pernah menargetkan angka pertumbuhan. Dia pilih jalan pelan lewat efisiensi dan kendali penuh atas kualitas, bukan jalan cepat lewat waralaba atau pinjaman bank. (*)
Editor : S. Anwar