Terkuak Alasan AQUA Delisting dan Pilih Go Private

avatar Mula Eka P.
  • URL berhasil dicopy
Pabrik AQUA
Pabrik AQUA
grosir-buah-surabaya

Buat yang familiar sama dunia saham, pasti pernah bepikir : "Kok produk sebesar AQUA tidak ada sahamnya di BEI (Bursa Efek Indonesia) ?"

Jawabannya, dulu ada, tapi sekarang sudah tidak bisa dibeli lagi karena mereka memutuskan buat go private. Kok bisa? Kenapa?

Ceritanya bermula di tahun 1990. PT Aqua Golden Mississippi mendaftarkan sahamnya di lantai bursa dengan kode emiten AQUA. Waktu itu, masuk bursa adalah langkah strategis buat memperbesar kapasitas produksi dan memperluas jaringan distribusi air minum dalam kemasan di seluruh Indonesia.

Kenapa dulu AQUA butuh go public? Sederhana: butuh modal cepat.

Di era tahun 1980-1990-an, kebiasaan minum air kemasan mulai melejit. Biar bisnisnya tidak disalip kompetitor, almarhum Tirto Utomo (pendiri AQUA) butuh dana segar untuk bangun pabrik baru dan beli mesin canggih.

Pasar modal jadi solusinya. Tapi peta permainan berubah total pada tahun 1998.

Raksasa makanan dan minuman asal Prancis, Danone, masuk mengambil alih saham mayoritas AQUA melalui PT Tirta Investama. Sejak saat itu, AQUA punya "pintu modal" yang jauh lebih besar dan kuat langsung dari induk usahanya.

Masuknya Danone perlahan memicu pertanyaan besar di internal manajemen :

"Kalau modal sudah melimpah dari induk usaha, buat apa kita tetap bertahan jadi perusahaan publik?"

Dari sinilah ide untuk voluntary delisting (go private) mulai digulirkan. Ada 3 alasan utama kenapa AQUA ngebet mau keluar dari bursa :

Alasan 1 : Tidak Butuh Dana Publik

AQUA sudah punya cash flow yang sangat sehat dan dukungan finansial tanpa batas dari Danone. Fasilitas pinjaman bank atau dana internal sudah lebih dari cukup buat ekspansi.

Alasan 2 : Saham Kurang Likuid (Sering "Tidur")

Kepemilikan saham publik di AQUA sangat kecil, hanya sekitar 5,65%, sementara sisanya dikuasai Tirta Investama. Akibatnya, transaksi saham AQUA di bursa tergolong sepi karena jarang ada orang yang mau menjual sahamnya.

Alasan 3 : Efisiensi & Kerahasiaan Strategi

Perusahaan Tbk (terbuka) wajib transparan melaporkan keuangan, rencana margin, hingga margin keuntungan secara berkala ke publik. Bagi perusahaan yang mendominasi pasar, fleksibilitas menyusun strategi tanpa "diintip" kompetitor jadi jauh lebih berharga. Namun, jalan menuju go private ternyata tidak semulus yang dikira. Drama penolakan terjadi berulang kali:

Tahun 2001: Penawaran tender offer Rp 35.000/saham ditolak investor minoritas.

Tahun 2005: Penawaran dinaikkan ke Rp100.000/saham, tapi tetap mental.

Investor publik tahu betapa berharganya saham AQUA dan enggan melepaskannya begitu saja. Puncaknya terjadi pada periode 2009-2010.

Awalnya AQUA menawarkan harga Rp 450.000 per saham. Namun, Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) sempat alot karena ada investor yang minta hingga Rp 1.000.000. Setelah negosiasi panjang, akhirnya disepakati harga R p500.000 per saham.

Tirta Investama merogoh kocek hingga lebih dari Rp 370 miliar hanya untuk membeli sisa saham publik tersebut. Tepat pada 1 April 2011, saham AQUA resmi dihapus dari lantai Bursa Efek Indonesia.

AQUA resmi kembali menjadi perusahaan tertutup penuh. Langkah ini tercatat sebagai salah satu aksi voluntary delisting paling ikonik dan bernilai fantastis dalam sejarah pasar modal Indonesia. (*)