Sutan Aswar, Pemuda Jenius Selamatkan Pesawat Indonesia dari Kelumpuhan
Bayangkan sebuah situasi di mana sebuah negara yang baru merdeka dikepung rapat oleh penjajah. Jalur pasokan diputus, dan armada pesawat terbang militer satu-satunya yang dimiliki terancam lumpuh total karena kehabisan bahan bakar. Apa yang akan Anda lakukan?
Di tengah situasi kritis pada tahun 1947 itu, seorang pemuda jenius berusia 22 tahun asal Kota Padang, Sumatera Barat, mengambil langkah gila yang mengubah jalannya sejarah dirgantara Indonesia. Sutan Aswar adalah Sutan Aswar (23 Juni 1925 – 27 Agustus 2006), salah satu pionir berdirinya Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) yang sukses menciptakan bensin pesawat (Avtur) pertama di Indonesia!
Mantan Mahasiswa ITB yang Turun ke Medan Juang
Sutan Aswar bukanlah pemuda biasa. Sebelum terjun penuh dalam perang kemerdekaan, beliau adalah mahasiswa di Technische Hoogeschool (sekarang Institut Teknologi Bandung / ITB). Berbekal dasar ilmu teknik itulah, takdir membawanya pada sebuah misi rahasia yang diberikan langsung oleh Komodor Udara Halim Perdanakusuma.
Misi tersebut adalah mengolah cairan kimia Tetra Ethyl Fluid (TEL) sisa peninggalan tahun 1942 menjadi bensin udara. Lokasi proyek: sebuah kilang darurat di Jambi.
Dikepung Keterbatasan: Ahli Menolak, Alat Seadanya
Tugas ini layaknya sebuah misi mustahil. Fasilitas yang tersedia di Jambi hanyalah instalasi darurat peninggalan Jepang yang sangat minim dan jauh dari standar baku.
Bahkan, para ahli minyak senior dari Sawahlunto secara terang-terangan menolak ikut serta. Mereka menilai proyek Sutan Aswar terlalu berisiko tinggi dan tidak masuk akal dilakukan dengan peralatan seadanya. Satu-satunya tim yang mendampingi Sutan Aswar (yang kala itu berpangkat Opsir Muda Udara II) hanyalah Sersan Mayor Udara Mardjoeki dan seorang tukang lokal yang cuma tahu cara menghidupkan mesin.
"Dengan nyawa sebagai taruhannya—karena jika salah racik, pesawat bisa meledak di udara—Sutan Aswar memberanikan diri melangsungkan proses kimia pembuatan bensin udara tersebut. Seluruh tanggung jawab dipikul sendiri di pundaknya."
Ujian Nyata Pesawat Avro Anson
Setelah melalui eksperimen melelahkan, hasil pertama didapat pada akhir Februari 1948. Ujian sejati tiba sebulan kemudian, Maret 1948, ketika sebuah pesawat militer jenis Avro Anson mendarat di Jambi dalam kondisi tangki bahan bakar sekarat.
Bermodal keyakinan dan kalkulasi teknisnya, Sutan Aswar maju dan menyatakan bahwa bensin buatannya siap dipakai. Keajaiban pun terjadi! Burung besi tersebut berhasil lepas landas dan mengangkasa dengan mulus menggunakan bahan bakar racikan lokal pertama di Indonesia.
Sejak hari bersejarah itu, bensin udara buatan Sutan Aswar resmi memasok kebutuhan bahan bakar militer di seluruh Indonesia. Beliau sukses menciptakan tiga varian bahan bakar:
Bensin Udara 91 Oktan: Untuk pesawat Avro Anson.
Bensin Udara C-47: Untuk pesawat angkut legendaris Dakota.
Bensin Udara 80 Oktan: Untuk pesawat pengintai Stinson.
Menjadi Hakim Mahmilub hingga Anggota Parlemen
Setelah badai perang reda, dedikasi sang jenderal tidak pudar. Berkat ketegasan dan integritasnya yang tinggi, Marsekal Pertama TNI (Purn.) Sutan Aswar kemudian dipercaya menjadi Anggota Hakim Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub) untuk mengadili kasus-kasus krusial negara. Sutan Aswar juga mengabdi di Senayan sebagai Anggota MPR-DPR RI dari Fraksi ABRI selama satu dekade penuh (1966–1976).
Kisah hidup Sutan Aswar adalah bukti nyata yang tercatat dalam dokumen sejarah Markas Besar Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI-AU) (Buku Sewindu Auri 1946-1954). Sutan Aswar memberikan pelajaran berharga bagi generasi muda Sumatera Barat hari ini: Bahwa keterbatasan teknologi dan fasilitas bukanlah alasan untuk menyerah. Di tangan orang yang kreatif dan berani, kemandirian bangsa bisa diwujudkan dari hal yang paling mustahil. (*)
Editor : S. Anwar