Pertempuran Heroik di Gunung Sembulungan Muncar
Siapa sangka, di balik tenangnya laut dan rimbunnya Gunung Sembulungan Muncar, terkubur rahasia pertempuran heroik. Hanya bermodal kapal tua dan taktik cerdik dari balik hutan, pejuang Republik Indonesia dengan gagah berani berhasil menenggelamkan kapal perang raksasa Belanda.
Sebuah kisah perjuangan nyata yang luar biasa dari pesisir Banyuwangi Timur. Simak kisahnya !
Pada awal tahun 1947, pesisir Banyuwangi Timur berada dalam status siaga tinggi setelah serdadu kolonial Belanda mendarat di Bali. Menghadapi ancaman ini, pasukan Tentara Republik Indonesia (TRI) mengadakan latihan militer di perairan Sembulungan pada 2 Pebruari 1947. Sebanyak 38 siswa pejuang berangkat menggunakan kapal tua MB Baluran yang hanya berbekal senapan mesin 12,7.
Namun, latihan rutin, itu seketika berubah mencekam. Sebuah kapal patroli musuh dari arah Bali tiba-tiba muncul dan menyerang dengan membabi buta. Kalah dari segi persenjataan, MB Baluran. terdesak gempuran peluru di tengah lautan biru Sembulungan.
Di tengah hujan peluru dan kondisi MB Baluran yang semakin kritis, Sersan Mayor Soenardjo mengambil keputusan nekat mematikan mesin kapal dan memerintahkan seluruh awak terjun ke laut. Mereka berenang menuju pantai Sembulungan untuk mencari bantuan dan menyusun strategi baru dari darat
Esok paginya, 3 Februari 1947 pukul 04.00 taktik pun berubah. Para prajurit artileri kini bersiaga penuh di pos pertahanan meriam 15 cm yang tersembunyi di lebatnya Gunung Sembulungan. Dengan peluh dan ketegangan, mereka menyiapkan meriam raksasa tersebut, menunggu target yang terpantau bergerak mendekat dari ufuk timur
Matahari baru saja naik ketika target itu terlihat jelas: kapal perang musuh tipe YT 6! Kapal ini jauh lebih besar dan bersenjata meriam berat dibanding kapal patroli sebelumnya. Tanpa menyadari intaian dari atas gunung, kapal YT 6 terus bergerak mendekati posisi meriam Sembulungan.
Soenardjo tidak membuang waktu emas. Tembak! Peluru meriam 15 cm meluncur membelah udara: Pada tembakan keempat, peluru menghantam telak sasaran! Ledakan dahsyat terjadi, asap hitam pekat membubung ke langit, dan Kapal YT 6 perlahan ditarik ke dasar, samudera bersama serdadu kolonialnya. Pagi itu, sorak-sorai kemenangan rakyat dan pejuang menggema di pesisir Muncar!
Kemenangan gemilang itu membuat Belanda murka besar. Tepat pada 4 April 1947, musuh melancarkan gempuran balasan yang masif dan serentak! Armada kapal perang memuntahkan meriam dari lautan, sementara tiga pesawat tempur menghujani Sembulungan dengan tembakan maut dan bom pembakar dari udara. Hutan pun berkobar.
Demi menghindari jatuhnya banyak korban. Komandan Pasukan menginstruksikan mundur taktis ke dalam lebatnya hutan. Namun, mundur bukan berarti menyerah. Dari balik pepohonan dan bayang-bayang hutan, dengan tekad baja yang tak pernah luntur, prajurit putra Indonesia terus melancarkan serangan meriam. jarak jauh yang mematikan, terus mengganggu dan melumpuhkan armada kolonial di perairan Banyuwangi.
Tak hanya menjadi saksi, Alas Purwo adalah bagian dari sejarah kemerdekaan. Di setiap sudutnya, tersimpan jejak perjuangan. Perjuangan yang pernah menggema Sembulungan, dan terus hidup di antara rimbunnya hutan Alas Purwo. (*)
Editor : S. Anwar