Menyingkap Tabir lyus Sugirman alias Mama Ghufron
Bahasa Langit atau Fabrikasi Bumi? Klaim bisa menelepon Malaikat hingga berbicara dengan semut telah membius ribuan orang. Namun, di balik jubah "Al-Bantani" yang ia sandang, tersimpan rahasia identitas yang sengaja dikaburkan.
Mari kita bongkar siapa sebenarnya sosok di balik fenomena ini.
Lahir di Bandung, bukan di Banten. Jauh dari citra "Al-Bantani" yang agung, data kependudukan mengonfirmasi Mama Ghufron lahir dengan nama lyus Sugirman di Cibadak, Kabupaten Bandung, pada 25 Desember 1963.
Nama "Ghufron" dan gelar mentereng lainnya barulah polesan yang muncul kemudian melalui proses "spiritual" yang ia klaim sendiri. lyus Sugirman sendiri diketahui tidak menamatkan pendidikan dasar (SD) karena kabur dari rumah, sebuah fakta yang ia tutupi dengan narasi "ilmu laduni".
Bukan Cicit Syekh Nawawi
Legitimasi terbesar lyus dibangun di atas pengakuan sebagai keturunan langsung ulama besar Masjidil Haram, Syekh Nawawi Al-Bantani. Klaim ini ia gunakan untuk menuntut kepatuhan mutlak dari para pengikutnya di akar rumput.
K.H. Majazi Banten, keturunan sah sang Syekh, secara tegas membantah adanya jalur nasab yang menghubungkan lyus Sugirman dengan keluarga mereka. Pengakuan nasab ini hanyalah cara untuk mencuri modal simbolik dari ulama besar
Misteri 21 Tahun Perjalanan
Dalam bukunya, lyus Sugirman mengklaim telah mengembara selama 21 tahun dan berguru pada kiai-kiai besar seperti Mbah Arwani Kudus hingga Aang Nuh Cianjur. Namun, tak satu pun bukti fisik seperti ijazah sanad tertulis yang bisa ia tunjukkan.
Ketiadaan rekan seperguruan yang muncul untuk memvalidasi masa mudanya tersebut semakin memperkuat dugaan bahwa masa lalu ini hanyalah fabrikasi. la meminjam nama tokoh-tokoh besar yang sudah wafat agar klaimnya sulit diverifikasi secara langsung.
Maqoli: Bunyi Tanpa Makna
lyus Sugirman mengklaim menguasai Bahasa Suryani, bahasa yang ia sebut sebagai bahasa Malaikat. Namun, analisis menunjukkan ucapannya hanyalah rangkaian bunyi yang meniru intonasi Arab namun tak memiliki arti semantik yang koheren.
Para ahli bahasa dan ulama sepakat bahwa istilah "Maqoli" yang ia agungkan tidak ditemukan dalam kamus bahasa Arab maupun Suryani asli. Bahkan, aksara "Suryani" yang ia tunjukkan dalam kitabnya sangat mirip dengan simbol mistik Yahudi yang disalin secara keliru dari internet.
Dari Mana Aliran Dananya?
Pondok Pesantren (Ponpes) UNIQ Nusantara beroperasi dengan kebijakan biaya nol rupiah bagi ribuan santrinya mulai dari makan, asrama, hingga pendidikan. Di saat pesantren lain harus memiliki unit bisnis raksasa untuk bertahan, UNIQ tidak menunjukkan adanya sumber pendapatan yang jelas.
Tanpa unit yang transparan, ketiadaan biaya ini memunculkan pertanyaan besar tentang sumber dana operasional yang sangat masif. Apakah murni kedermawanan, atau ada patronase eksternal yang tersembunyi di balik layar?
Imunitas Hukum yang Membingungkan
Berbeda dengan tokoh "sesat" lain yang cepat diproses hukum, lyus Sugirman tampak menikmati impunitas yang luar biasa. Padahal, Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU0 telah menyebut ajarannya menyimpang secara akidah.
Ketahanan institusional ini diduga karena kedekatan strukturalnya dengan elemen kekuasaan. la secara terbuka memuji pemerintah dan menggunakan narasi "Islam Pancasila" untuk menciptakan benteng pertahanan politik agar aparat enggan menyentuhnya.
Aset Strategis Negara?
Anomali besar terjadi pada Desember 2018 ketika Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Wakapolri mengunjungi pesantren lyus Sugirman secara resmi. Dalam protokol keamanan, kunjungan tingkat tinggi ke pesantren baru dan kontroversial seperti UNIQ adalah hal yang sangat tidak lazim. Kehadiran pucuk pimpinan militer dan polisi mengisyaratkan bahwa sosok lyus mungkin dianggap sebagai aset untuk mengimbangi gerakan radikalisme tertentu
Distraksi di Tengah Krisis
Video-video keanehan lyus Sugirman alias Mama Ghufron meledak secara serentak di media sosial saat publik sedang marah atas kasus Vina Cirebon dan peretasan Pusat Data Nasional pada pertengahan 2024. Absurditas "bahasa semut" dan "video call malaikat" membanjiri algoritma, memaksa isu besar negara tenggelam oleh diskusi teologis yang tak berujung. lyus seolah menjadi "karung tinju" publik yang menyerap energi kemarahan masyarakat.
Cermin Sosial Kita
Fenomena lyus Sugirman alias Mama Ghufron adalah cermin dari kondisi masyarakat yang mudah terpukau kemasan luar kesalehan. Di saat yang sama, ia adalah bukti bagaimana kekuasaan bersedia memelihara irasionalitas demi stabilitas politik jangka pendek. Berhentilah mengikuti tanpa nalar. Agama tidak pernah dibangun di atas kebohongan nasab. SAVE untuk menjaga kewarasan berpikir. ". (*)
*) Source : Sudut Gelap
Editor : S. Anwar