Sejarah Berdirinya Kabupaten Nganjuk
A. Kiprah Wong Nganjuk dalam Sejarah Kerajaan
Kata Nganjuk berasal dari singkatan mangan karo ngunjuk. Berarti daerah Nganjuk tersedia panganan dan unjukan yang berlimpah ruah. Cukup sandang pangan papan, gemah ripah loh jinawi. Loh subur kang sarwa tinandur, jinawi murah kang sarwa tinuku. Wajar sekali karena wilayah Nganjuk dikelilingi gunung Renteng, gunung Pandhan, gunung Wilis. Dari gunung-gunung yang indah ini mancur sumber air yang mengalir lewat Kali Widas dan Kali Brantas.
Persawahan yang luas dan subur ini menandakan Wong Nganjuk aktif dalam mewujudkan ketahanan pangan. Sementara daerah gunung Wilis cocok untuk kebun teh, kopi, jeruk, pisang, pepaya, manggis. Sedangkan wilayah lereng gunung Pandan dan gunung Renteng terdapat hektaran hutan jati bermutu tinggi. Padi gogo yang gurih enak tumbuh dengan baik.
Hidup pula satwa aneka burung: ada perkutut, penthet, jalak oren, jalak penyu, glathik, jekithut, sribombok, bethet, manyar. Suara kung dan oceh-ocehannya nyaring. Nganjuk memiliki kekayaan alam yang mengagumkan. Setiap ada perjalanan sejarah, wong Nganjuk selalu berperan serta untuk ikut menyumbang tenaga dan pikiran atau cancut tali wanda, sesumbang udhu bau suku.
Pada jaman Kerajaan Medang Kamulan orang Nganjuk mulai belajar menulis dan membaca huruf Jawa. Prabu Ajisaka memberi pelajaran kepada orang Nganjuk, tahun 13 Saka supaya dapat menggunakan aksara Jawa untuk membangun peradaban. Tempat belajarnya di pendopo Bledeg Kuwu, Purwodadi, wilayah kerajaan Medang Kamulan.
Kitab Mahabarata dan Adiparwa ditulis dengan menggunakan aksara Jawa. Sampai sekarang wong Nganjuk gemar nonton dan nanggap wayang.
Kecukupan logistik sandang pangan menyebabkan wong Nganjuk bisa menyumbang kepada sesama. Pembangunan candi Borobudur dan Prambanan tak lepas dari peranan wong Nganjuk. Warga Ngetos dan Candirejo sejak dulu trampil dalam bidang pertukangan. Mereka ahli menata bangunan batu. Atas undangan Raja Syaelendra tahun 746 Masehi, wong Nganjuk dipercaya turut membangun candi Borobudur.
Empat jiwa tukang dari Nganjuk itu bernama Ponijo, Wagiran, Paidi dan Tugimin. Utusan dari wilayah Nganjuk giat bekerja. Kerajaan Mataram Dulangmas memberi penghargaan kepada tukang dari Ngetos dan Candirejo. Hubungan Mataram dengan Nganjuk semakin erat, setelah Raja Syaelendra memberi gamelan laras slendro pada orang Loceret. Itulah awal wong Loceret memiliki kemahiran membuat industri gamelan.
Prestasi gemilang ditunjukkan wong Nganjuk pada tahun 1051. Tokoh Nganjuk bernama Darmo Pamujo dipercaya oleh Prabu Airlangga untuk menjadi tim penyusunan Kitab Kakawin Arjuna Wiwaha yang dipimpin oleh Empu Kanwa. Kerajaan Kahuripan mengangkat Darmo Pamujo untuk menulis adegan Kahyangan Junggring Salaka.
Empu Kanwa merasa senang karena Darmo Pamujo orangnya tekun, rendah hati, ramah dan ahli sastra. Maklum Darmo Pamujo yang tinggal di Ploso itu mahir main gamelan dan wayang. Order tanggapannya semakin laris manis.
Wanita Nganjuk pun tampil cukup mengagumkan. Pada tahun 1235 Ken Dedes, permaisuri raja Singosari siram jamas di Grojogan Sedudo. Turut mendampingi yaitu Nunuk Lestari dari Ngrejeg. Nunuk Lestari terkenal sebagai juru sumbaga atau pakar tata rias.
Dia pintar njoged tari gambyong, ngadi salira dan ngadi busana. Begitu terpikatnya maka Napa Dwita kerajaan Singosari mengajak kota Malang. Di sana Ken Dedes memberi kepercayaan pada Nunuk Lestari sebagai Ketua taman Keputren.
Dunia terus bergerak. Sampailah pada saatnya Prabu Joyoboyo membaca tanda-tanda jaman. Prabu Joyoboyo raja Kediri ini adalah narendra gung binathara, yang waskitha ngerti sakdurunge winarah. Dalam menjalankan tugas, prabu Joyoboyo dibantu oleh carik kinasih. Namanya Ki Joyo Suparto dari Payaman.
Pada tahun 1273 Ki Joyo Suparto mengikuti Prabu Joyoboyo ke kali Kedungaron untuk melakukan topo broto. Joyo Suparto di Nganjuk ini menjadi abdi dalem setia di kerajaan Kediri yang beribukota di Dahono Puro.
Dalam lintasan sejarah Kerajaan Majapahit, tenaga dan pikiran wong Nganjuk selalu diperhitungkan. Patih Gajahmada kerap menjalankan lelaku di Ngliman. Sumpah Palapa yang diucapkan Patih Gajahmada merupakan inspirasi dari lereng gunung Wilis. Turut menyertai Patih Gajahmada yaitu Kyai Wasito Jati, yang berasal dari Bagor. Adanya desa Mojorembun itu yang memberi nama juga Patih Gajahmada. Saat itu Gajahmada mampir untuk kembul bujana andrawina dan wilujengan.
Beliau berjalan menuju Bedander Bojonegoro. Peristiwa ini terjadi pada tahun 1350. Pada masa kejayaan kraton Majapahit wong Nganjuk selalu caos glondhong pangareng-areng, peni peni raja peni, guru bakal guru dadi, emas picis raja brana.
Pada jaman Kasultanan Bintoro tahun 1470 orang Prambon Nganjuk banyak yang belajar agama di Peguron Kadilangu. Mereka ngangsu kawruh kepada Kanjeng Sunan Kalijogo. Guru suci Tanah Jawi ini mengajari ngelmu sangkan paraning dumadi, satataning panembah dan manunggaling kawula Gusti.
Berguru kepada Wali Sanga di Masjid Agung Demak sebagai bekal kehidupan sejati. Kadang-kadang juga diberi wejangan ngelmu kanuragan guno kasantikan.
Kasultanan Pajang yang dipimpin oleh Joko Tingkir atau Sultan Hadiwijaya tahun 1547 cukup mengesankan buat warga Nganjuk. Sebetulnya para pejabat lurah, camat, wedana dan pembesar di Nganjuk saat ini masih keturunan Joko Tingkir. Mereka umumnya memiliki sifat momong, momor, momot, yaitu persuasif, komunikatif dan akomodatif. Wong Nganjuk percaya bahwa kepemimpinan pasti terkait dengan gen asal-usul, trahing kusuma rembesing madu, wijining atapa, tedhaking andana warih.
Kerajaan Mataram menjadi babak baru bagi Wong Nganjuk. Setiap kali ada pagelaran wayang, wong Nganjuk selalu mengumandangkan sinom parijatha. Mereka mengutip syair penting nulada laku utama, tumraping wong tanah Jawi, wong agung ing Ngeksiganda, Panembahan Senopati. Bagi wong Nganjuk Panembahan Senopati amat populer.
Sejak menjabat raja Mataram tahun 1575 – 1601 ini, keteladanan dan keutamaannya menjadi rujukan wong-wong Nganjuk. Hidup di dunia ini sebaiknya amemangun karyenak tyasing sesama.
B. Paugeran ingkang Utama
Dalam pagelaran wayang kerap dilantunkan gendhing gula klapa. Bait syairnya berbunyi budi luhur kulinakna, watak asor singkirana. Pitutur luhur ini dihayati benar oleh segala lapisan sosial. Bagi masyarakat Jawa, pendapa kabupaten masih dianggap sakral. Mendapat undangan dari Kanjeng Ndoro Bupati merupakan kebanggaan karena tak semua orang bisa memperolehnya. Peparing dari bupati dianggap sebagai beja kemayangan, seperti ketiban wahyu keprabon.
Jasmerah, jangan sekali-kali melupakan sejarah. Orang Nganjuk diharapkan selalu eling marang bibit kawitane. Secara kronologis Kabupaten Nganjuk pernah diperintah oleh kerajaan Medang, Kahuripan, Doho, Jenggolo, Singosari, Majapahit, Demak dan Mataram. Karena letaknya jauh dari ibukota, maka dinamika pembangunan teritorial kurang dominan. Cuma dapat rembesan saja. Itu pun sudah beruntung dan luwung. Dalam perancangan dan pengambilan keputusan jelas tidak dilibatkan sehingga tidak ikut panen hasilnya.
Kabupaten Nganjuk secara geografis bisa dikelompokkan menjadi tiga bagian: perkotaan, pedesaan dan pegunungan. Wilayah perkotaan ditandai dengan adanya kantor bupati, alun-alun, masjid agung, pasar dan deretan toko yang menjadi pusat bisnis. Kanan-kiri kawasan ini merupakan pemukiman penduduk yang tertata rapi.
Dari gaya bangunan rumahnya, bisa ditebak penghuninya adalah kelas menengah yang mempunyai penghasilan lumayan tinggi. Alat dan kendaraan yang dimiliki sudah menunjukkan sosial ekonomi mapan. Orang desa menyebut mereka kelompok priyayi dan ndoro.
Maca owah gingsire jaman. Alun-alun termasuk sarana umum yang menjadi kebanggaan bersama. Pagi, sore, siang dan malam selalu ramai untuk ngenggar-enggar penggalih, sambil jajan aneka panganan dan minuman, cenil, samplok, nagasari, gethuk, ketan, gandhos, mendut dan utri.
Para bakul amat cekatan dan ramah melayani pembeli. Ketika malam mulai larut, bakul sego pecel telaten jagongan bersama pelanggannya. Krupuk, rempeyek, tempe dan tahu berbaur dengan kuluban kembang turi, capar dan godhong tela. Begitulah rutinitas kota Nganjuk sehari-hari.
Desa mawa cara, negara mawa tata. Berbeda dengan wilayah perkotaan, suasana pedesaan memang agak tenang dan sepi. Sawah dan tanduran merupakan hiasan utama. Kadang-kadang tampak ternak sapi dan kambing. Di tengah-tengah pemukiman biasa dijumpai ayam yang berkeliaran. Dari segi sosial ekonomi, kehidupan orang desa Nganjuk boleh dikatakan masih perlu perhatian. Lapangan kerja yang monoton membuat para muda-mudinya pergi merantau untuk mengadu nasib.
Rupa-rupanya mereka kurang tertarik untuk berkarir di desanya. Kemungkinan besar ketrampilan mereka tidak bisa diterapkan di kampung halamannya. Mereka perlu wadah baru, supaya keinginannya bisa di kampung. Kayaknya hanya kota besar yang cocok buat kehidupan mereka. Tata lahir amakarti, jroning batin angesthi Gusti.
Tata praja diatur sesuai dengan paugeran kang utama. Perjalanan sejarah keberadaan Kabupaten Berbek sebagai cikal-bakal Kabupaten Nganjuk sekarang ini. Dikatakan cikal-bakal oleh karena ternyata kemudian bahwa alur sejarah keberadaan Kabupaten Nganjuk adalah berangkat dari keberadaan Kabupaten Berbek di bawah kepemimpinan Kanjeng Raden Tumenggung Sosrokoesoemo I.
Pada masa pemerintahan beliau telah dapat diselesaikan sebuah bangunan Masjid kuno yang bercorak Hinduistis disebut Masjid Yoni Al Mubarok. Agama ageming aji. Setelah Kanjeng Raden Tumenggung Sosrokoesoemo I meninggal dunia pada tahun 1760, sebagai penggantinya adalah Raden Tumenggung Sosrodirdjo tahun 1811. Kemudian Bupati Berbek dijabat Kanjeng Raden Tumenggung Sosrokoesoemo II. Kanjeng Adipati menggunakan etika kekuasaan sesuai dengan tuntunan sastra piwulang.
Penggantinya adalah Raden Tumenggung Pringgodikdo. Untuk itu
kewibawaan adegan wayang diawali dengan suluk pathet nem Ageng. Setelah beliau mangkat digantikan oleh Raden Tumenggung Soemowilojo. Lantas diteruskan Kanjeng Raden Tumenggung Sosrokoesoemo III. Putranya laki-laki tertua: Raden Mas Sosrohadikoesoemo menggantikan menduduki jabatan sebagai Bupati Berbek. Pada masa jabatan Kanjeng Raden Tumenggung Sosrohadikoesoemo mulai digunakannya itulah bang pengalum aluming praja.
C. Para Bupati Nganjuk
1. KRT Sosrokoesoemo I (1719 – 1760)
Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono I di kraton Kartasura. Patihnya dijabat oleh KRA Sindurejo I.
2. KRT Sosrodirdjo, (1760-1811)
Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono III di kraton Surakarta. Patihnya dijabat oleh KRA Mangkupraja I.
3. KRT Sosronegoro II (1811-1830)
Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono IV di kraton Surakarta. Patihnya dijabat oleh KRA Cakranegara.
4. KRT Sosrokoesoemo II (1830-1852)
Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono VII di kraton Surakarta. Patihnya dijabat oleh KRA Sosrodiningrat II.
5. KRT Pringgodikdo (1852 – 1866)
Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono VII di kraton Surakarta. Patihnya dijabat oleh KRA Sosrodiningrat III.
6. KRT Soemowilojo (1866 – 1878)
Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono IX di kraton Surakarta. Patihnya dijabat oleh KRA Sosronagara I.
7. KRT Sosrokoesoemo III (1878 – 1890)
Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono IX di kraton Surakarta. Patihnya dijabat oleh KRA Mangunkusuma.
8. KRT Sosrohadikoesoemo (1890 – 1936)
Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono IX di kraton Surakarta. Patihnya dijabat oleh KRA Sosrodiningrat IV.
9. KRT Prawiro Widjojo (1936 – 1942)
Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono X di kraton Surakarta. Patihnya dijabat oleh KRA Sosrodiningrat IV.
10. KRT Mochtar Praboe Mangkoenegoro (1943 – 1947)
Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono XI di kraton Surakarta. Patihnya dijabat oleh KRA Sosrodiningrat IV.
11. Mr. R. Iskandar Gondowardojo (1947 – 1949)
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno. Wakilnya dijabat oleh Muhammad Hatta.
12. R.M. Djojokoesoemo (1949 – 1951)
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno. Wakilnya dijabat oleh Muhammad Hatta.
13. K.I. Soeroso Atmohadiredjo (1951 – 1955)
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno. Wakilnya dijabat oleh Muhammad Hatta.
14. M. Abdoel Sjoekoer Djojodiprodjo (1955 – 1958)
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno. Wakilnya dijabat oleh Muhammad Hatta.
15. M. Poegoeh Tjokrosoemarto (1958 – 1960)
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.
16. Soendoro Hardjoamidjojo, SH (1960 – 1968)
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.
17. Soeprapto, BA (1968 – 1978)
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soeharto.
18. Drs. Soemari (1978 – 1983)
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soeharto. Wakil Presiden dijabat oleh Adam Malik.
19. Drs. Ibnu Salam (1983 – 1993)
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soeharto. Wakil Presiden dijabat oleh Umar Wirahadikusuma.
20. Dr. Soetrisno R., M.Si (1993 – 2003)
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soeharto, Habibie, Gus Dur dan Megawati. Wakil Presiden dijabat oleh Tri Sutrisno, Habibie, Megawati dan Hamzah Has. Pada masa kepemimpinan Soetrisno ini memang sedang mengalami suksesi kepemimpinan nasional berkali-kali.
21. Ir. Siti Nurhayati, MM (2003 – 2008)
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Megawati dan Susilo Bambang Yudoyono. Wakil Presiden dijabat oleh Hamzah Has dan Jusuf Kalla.
22. Drs. H.M. Taufiqurrohman (2008 – 2018)
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudoyono dan Joko Widodo. Wakil Presiden dijabat oleh Boediono dan Jusuf Kalla.
23. Novi Rahman Hidayat, S.Sos. M.M, (2018 – sekarang)
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo. Wakil Presiden dijabat oleh Jusuf Kalla dan Ma’ruf Amin.
Pendapa Kabupaten yang megah, alun-alun yang luas, pasar Wage, Masjid Agung sebenarnya bantuan dari Kraton Surakarta Hadiningrat. Hampir semua pendapa agung di seluruh tanah Jawa merupakan warisan Kraton Surakarta. Sudah sewajarnya bila orang Nganjuk mengucapkan terima kasih, karena telah berhutang budi.
Masyarakat Kabupaten Nganjuk menyebar ke seluruh kawasan nusantara. Njajah desa milang kori, njalak paningal mlaya bumi. Artinya mencari daya penghidupan, demi kejayaan masa depan. Warga Nganjuk akan menjadi wong sugih, kajen keringan, ayem tentrem lahir batin. (*)
*) Source : Dr Purwadi M. Hum (Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara – LOKANTARA)
Editor : S. Anwar