Kisah Johny Lumintang Menjabat Pangkostrad Selama 17 Jam
Letnan Jenderal TNI (Purn.) Johny Lumintang merupakan sosok perwira tinggi militer legendaris yang memegang rekam jejak penuh dinamika dalam sejarah pertahanan Indonesia.
Lahir di Desa Noongan, Minahasa pada Juni 1947, ia tumbuh besar dalam pelukan tradisi keluarga etnis Minahasa yang menggantungkan hidup dari sektor pertanian.
Titik awal kehidupannya dibentuk dari kesederhanaan hasil bertani orang tuanya yang harus memeras keringat demi bisa membiayai pendidikan anak-anak mereka.
Keteguhan hati membawanya lulus dari AKABRI pada tahun 1970 dan mulai menapaki berbagai penugasan militer yang menantang di lapangan. Keberaniannya teruji nyata saat ia terlibat dalam Operasi Pembebasan Sandera Mapenduma untuk menyelamatkan Tim Ekspedisi Lorenz di Irian Jaya pada tahun 1996.
Sesaat setelah dilantik menjadi Pangdam VIII/Trikora, ia bahkan memimpin langsung operasi kilat yang berhasil membebaskan belasan karyawan PT Jayanti yang disandera oleh kelompok bersenjata di Timika.
Sebuah titik balik yang sangat bersejarah dan mendebarkan dalam garis hidupnya terjadi di tengah situasi genting mundurnya Presiden Soeharto pada Mei 1998. Ia dipercaya untuk memegang tongkat komando tertinggi sebagai Panglima Komando Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) menggantikan Letjen TNI Prabowo Subianto yang kala itu dikenal sebagai perwira yang tengah naik daun.
Meskipun waktu penugasan tersebut tercatat sebagai salah satu yang paling singkat dalam sejarah karena hanya berlangsung selama 17 jam, momen itu menjadi waktu yang paling menentukan bagi perjalanan bangsa.
Karier militernya terus melesat dengan menduduki posisi strategis sebagai Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Darat, Gubernur Lemhannas, hingga Sekretaris Jenderal Departemen Pertahanan.
Pengabdiannya kepada negara tidak berhenti di dunia militer saja, karena ia kemudian dipercaya oleh presiden untuk mengemban misi diplomasi sebagai Duta Besar Republik Indonesia untuk Filipina periode 2014 hingga 2018.
Di balik pangkat bintang tiga dan rentetan jabatan mentereng yang pernah disandangnya, ia memiliki sisi humanis yang sangat bersahaja dan lekat dengan tanah kelahirannya.
Setelah tidak lagi mengenakan seragam militer, ia sangat menikmati aktivitas berkebun dan tidak segan berjalan kaki menenteng beberapa sisir pisang serta kelapa di jalan raya Desa Tosuraya.
Melalui kesederhanaan di masa pensiunnya tersebut, ia ingin memberikan teladan nyata kepada masyarakat agar tidak malas menjalani profesi sebagai petani karena kesuksesan besar yang diraihnya pun bermula dari hasil bertani.
Kini di usianya yang telah memasuki 79 tahun, figur jenderal bersahaja ini masih aktif mengabdikan diri di bidang olahraga dengan memimpin Pengurus Besar Persatuan Olahraga Maesa. (*)
Editor : Bambang Harianto