Johannes Leimena, Orang Paling Jujur di Republik Indonesia

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Johannes Leimena
Johannes Leimena
grosir-buah-surabaya

Kalau ada orang paling jujur di Republik Indonesia ini, Johannes Leimena adalah orangnya." Begitu kata Soekarno, Presiden yang terkenal sulit memuji orang lain tanpa syarat. 

Johannes Leimena lahir di Ambon, 6 Maret 1905, anak kedua dari empat bersaudara pasangan guru sekolah dasar, Dominggus Leimena dan Elizabeth Sulilatu. Ia sekolah lintas Ambon dan Batavia, lalu masuk STOVIA, sekolah kedokteran tempat lahirnya banyak tokoh pergerakan, dan lulus jadi dokter tahun 1930. 

Pertemuannya dengan Soekarno terjadi 1945, saat Leimena merawat korban peristiwa Lengkong yang dijenguk Sukarno. Dua bulan kemudian ia diangkat Menteri Muda Kesehatan. Sejak dilantik 12 Maret 1946, namanya nyaris tidak pernah absen dari kabinet selama 20 tahun berikutnya, duduk di 18 kabinet berbeda: 8 kali Menteri Kesehatan, juga Menteri Sosial, Menteri Negara, dan Wakil Perdana Menteri. Ia turut jadi delegasi dalam Perjanjian Linggarjati, Perundingan Renville, dan Konferensi Meja Bundar. 

Salah satu gagasannya yang paling berdampak lahir bukan dari kursi menteri, tapi dari pengalamannya sebagai dokter di Bandung tahun 1950: konsep pusat kesehatan masyarakat terpadu yang kelak, 18 tahun kemudian, dibangun jadi Puskesmas di bawah Menteri Kesehatan G.A. Siwabessy. 

Kepercayaan Soekarno padanya begitu besar hingga Leimena 7 kali dipercaya jadi pejabat Presiden setiap kali Soekarno ke luar negeri, meski ia seorang Kristen di negara mayoritas muslim. 

Di lingkungan istana ia disapa Om Jo, dan Soekarno sendiri menjulukinya "Mijn Dominee", pendetaku, karena caranya menenangkan rapat kabinet yang panas dengan ucapan "rustig, rustig", tenang, tenang. 

Om Jo pernah menyarankan Soekarno mengungsi ke Bogor saat G30S (gerakan 30 September) meletus, dan memilih tetap menutup sidang kabinet lebih dulu ketika istana dikepung pasukan tak dikenal pada 11 Maret 1966, sesaat sebelum Supersemar ditandatangani. Saat kekuasaan berpindah ke Orde Baru dan banyak menteri era Sukarno ditangkap, Leimena termasuk yang tidak ditangkap. 

Leimena terus dipercaya jadi Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Agung sampai 1973, lalu aktif di Partai Demokrasi Indonesia (PDI) hingga wafat di Jakarta, 29 Maret 1977, dalam usia 72 tahun. 

Johannes Leimena ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 2010, dan patungnya berdiri di Ambon sejak tahun 2012. Yang membuat kariernya berbeda bukan jabatan tertingginya, tapi konsistensinya bertahan dua dekade lintas rezim yang saling curiga, bukan lewat ambisi berkuasa, tapi lewat kepercayaan yang dijaga rapi tahun demi tahun. (*)