Kisah Shinta, Tolak Tawaran Kerja Dengan Gaji Fantastis Demi Dirikan Lemonilo

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Shinta Nurfauzia
Shinta Nurfauzia
grosir-buah-surabaya

Lemonilo merupakan mie instan yang kerap di temui di rak rak super market dan minimarket. Mie instan tersebut menjadi alternatif makanan bagi segala usia khususnya anak-anak. 

Salah satu pendiri dari Lemonilo ialah Shinta Nurfauzia. Shinta lulusan Fakultas Hukum Universitas lndonesia yang mendapat beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) untuk S2 Hukum Bisnis di Harvard Law School, Amerika Serikat. Di sanalah ia jatuh cinta pada dunia eksekusi bisnis.

"Saya sama partner saya ini kita dua-duanya udah dapat tawaran kerjaan gajinya oke-oke," katanya. 

Saat itu ia sudah di World Bank, partnernya sudah jadi konsultan di Korea. Agustus 2015, keduanya nekat pulang ke Indonesia untuk memulai startup

Dari riset serta evaluasi dari ide bisnis sebelumnya, mereka menemukan fakta miris : 60 persen kematian di Indonesia disebabkan penyakit tidak menular akibat gaya hidup tidak sehat, sementara produk makanan sehat saat itu mahal karena hampir semuanya impor

Dari situ, tahun 2016, brand Lemonilo lahir. Namanya didapat dari survei sederhana ke 300 responden lewat Google Forms. 

"Nanilo artinya Victorious. Jadi Lemonilo itu Warrior of Health," katanya.

Ditantang Balik oleh Suplier Sendiri

Awalnya Lemonilo hanya situs kurasi produk sehat dari Usaha Kecil Menengah (UKM) lokal. Tapi UKM mitra sering enggan memperbaiki kemasan dan formula sesuai masukan mereka.

Satu suplier menantang balik : "Daripada produk aya diotak-atik, mending bikin produk sendiri aja.”

Dari tantangan itulah, tahun 2017, lahir produk pertama mereka sendiri: mie instan hijau alami.

Ditempel Stiker oleh Tangan Sendiri

Banyak yang meremehkan mereka bertiga sebaga "anak ingusan" yang mustahil bersaing dengan raksasa mie instan bermodal triliunan rupiah. Karena keterbatasan modal, mie generasi pertama Lemonilo dikemas manual, stikernya ditempel satu per satu oleh para founder sendiri. 

"Saya masih nempel-nempel sendiri pakai sarung tangan. Bumbunya juga cuma satu, karena kalau dipisah harus invest mesin baru dan kita nggak bisa," kenang Shinta.

Bukan Sekadar Jualan Mi

Konsumsi mie instan di Indonesia mencapai belasan miliar bungkus setahun, rata-rata 48 bungkus per orang per tahun. Bagi Shinta, angka besar itu bukan cuma soal pasar. 

“Tapi kesempatan. "Instant noodle-nya Lemonilo itu sebenarnya adalah pemantik bahwa kita harus hidup sehat di Indonesia," katanya

Hasilnya, dari dua kali gagal menemukan product-market fit, Lemonilo kini merambah pasar Amerika Serikat, Qatar, Malaysia, dan Australia, masuk ke jaringan ritel besar seperti Costco dan Al-Meera, serta mencapai profitabilitas di tahun kedelapan operasinya.

Tahun 2024, Shinta dinobatkan sebagai Most Promising Entrepreneur oleh Metro TV People of The Year, dan menjadi finalis EY Entrepreneur of The Year 2025.

Lemonilo tidak lahir dari rencana besar yang mulus sejak awal, tapi dari kegagalan pertama yang dievaluasi jujur, dan tantangan dari suplier yang justru jadi titik balik.

Kadang produk paling sukses bukan yang direncanakan matang dari hari pertama, tapi yang ahir dari keberanian mengakui rencana awal tidak perjalan, lalu tetap mencoba jalan lain. (*)