Akhir Perjalanan Abdulmecid di Kota Nabi

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Abdulmecid
Abdulmecid
grosir-buah-surabaya

Setelah Kesultanan Utsmaniyah dihapuskan oleh Ataturk pada tahun 1924, Sultan Utsmaniyah Abdulmecid II diasingkan ke Prancis.

Ia diberitahu mengenai keputusan tersebut saat berada di Istana Dolmabahçe di tepi Selat Bosphorus dan hanya diberi waktu beberapa jam untuk bersiap-siap. Malam itu, ia dibawa dengan mobil polisi ke Çatalca, lalu menaiki kereta Orient Express menuju Swiss bersama keluarganya—bagian dari rombongan yang terdiri atas sekitar 150 pangeran dan putri Utsmaniyah yang semuanya diusir menggunakan paspor yang tidak mengizinkan mereka untuk kembali.

Raja Fuad I dari Mesir menolak untuk menampung anggota dinasti Utsmaniyah mana pun, termasuk perempuan dan anak-anak. Akibatnya, Abdulmecid menetap di Nice, wilayah French Riviera; di sana ia menjalani kehidupan yang sederhana, bepergian antar-kota di Eropa, serta mengandalkan bantuan keuangan yang dikirimkan oleh sejumlah negara Islam.

Mir Osman Ali Khan—Nizam Hyderabad di India sekaligus salah satu orang terkaya pada masanya—mengambil tanggung jawab untuk memberikan tunjangan bulanan bagi Abdülmecid dan anggota keluarganya. Ketika Abdülmecid wafat di Paris pada tahun 1944, sebuah krisis baru pun muncul:

Pemerintah Turki menolak mengizinkan pemakamannya di Istanbul—atau bahkan di wilayah Turki mana pun—meskipun ia adalah cucu Sultan Abdülaziz dan orang terakhir yang menyandang gelar "Khalifah Umat Islam."

Sepuluh tahun setelah pemakaman awalnya di Masjid Agung di Prancis, Raja Saud bin Abdulaziz Al Saud turun tangan. Ia mengabulkan permohonan keluarga Utsmaniyah untuk memindahkan jenazah sang Sultan ke Madinah; di sana, ia dimakamkan di pemakaman Al-Baqi'—tempat peristirahatan terakhir bagi banyak Sahabat Nabi dan generasi setelahnya.

Banyak sejarawan memandang keputusan Raja Saud sebagai penghormatan simbolis terhadap Kesultanan Islam yang bersejarah, serta bentuk penghormatan terhadap sosok yang menghabiskan sisa hidupnya dalam pengasingan yang sepi setelah sebelumnya pernah menjadi Sultan bagi umat Islam.

Demikianlah akhir perjalanan seorang Sultan Muslim di Kota Nabi (SAW), setelah pintu tanah airnya sendiri tertutup baginya. (*)