Kisah Perjuangan Fatmawati Jahit Bendera Merah Putih Jelang Proklamasi

avatar M Ruslan
  • URL berhasil dicopy
Fatmawati menjahit Bendera Merah Putih
Fatmawati menjahit Bendera Merah Putih
grosir-buah-surabaya

Di balik pekik merdeka yang membahana pada 17 Agustus 1945, ada sekelumit kisah sunyi yang sarat akan air mata, keteguhan hati, dan pengorbanan di sudut sebuah rumah di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56. Jauh sebelum sang saka berkumandang di ujung tiang, seorang perempuan muda berkebaya tengah duduk bersimpuh, menahan sakit, sembari menggerakkan jemarinya di atas lembaran kain merah dan putih.

Perempuan itu adalah Fatmawati, Ibu Negara pertama Republik Indonesia. Kisah di balik lahirnya Bendera Pusaka Merah Putih bukan sekadar cerita tentang jarum dan benang, melainkan saksi bisu perjuangan fisik dan batin seorang ibu yang sedang hamil tua di tengah himpitan situasi darurat menjelang fajar kemerdekaan.

Menjahit Manual dalam Deru Air Mata dan Fisik yang Lemah

Pada akhir tahun 1944, tanda-tanda kekalahan Jepang dalam Perang Dunia II mulai terpampang nyata. Harapan akan kemerdekaan Indonesia yang dinantikan ratusan tahun kian membubung tinggi. Menyadari momen sakral itu kian dekat, Fatmawati berpikir jauh ke depan: Indonesia harus memiliki bendera resmi yang akan dikibarkan saat proklamasi tiba.

Namun, mencari kain berkualitas baik dengan warna merah dan putih murni di masa pendudukan Jepang adalah perkara yang teramat sulit. Berkat bantuan dari Lukas Kastaryo—yang memesan kain melalui seorang perwira Jepang bernama Shimizu—Fatmawati akhirnya mendapatkan dua blok kain katun primissima (katun kualitas terbaik kala itu) berwarna merah dan putih murni.

Di sinilah kisah haru itu bermula.

Saat mulai menyatukan kedua warna tersebut, Fatmawati sedang dalam kondisi hamil tua mengandung anak pertamanya, Guntur Soekarnoputri. Fisiknya sangat lemah, badannya kerap terasa linu, dan dokter melarangnya untuk menggunakan mesin jahit kaki yang berat karena berisiko bagi kandungannya.

Tanpa mengeluh, Fatmawati memilih memutar mesin jahit merk Singer miliknya menggunakan tangan secara manual. Setiap kayuhan tangan dan tusukan jarum diiringi oleh tetesan air mata haru. Dalam memoar pribadinya, ia mengisahkan betapa perasaannya bergejolak hebat, menangis sembari membayangkan apakah anak yang dikandungnya kelak akan lahir di bumi Indonesia yang sudah merdeka atau justru masih berada dalam cengkeraman penjajah. [Akhir 1944: Pencarian Kain]

Setiap Jengkal Jahitan Adalah Doa Kemerdekaan

Darah Bengkulu yang mengalir di tubuh Fatmawati—putri dari tokoh Muhammadiyah, Hassan Din—membentuknya menjadi sosok srikandi yang bermental baja. Baginya, setiap jengkal kain yang ia satukan bukan sekadar formalitas upacara, melainkan doa, harapan, dan martabat seluruh bangsa yang sedang dipertaruhkan.

Dengan berurai air mata, ia menuntaskan jahitan bendera berukuran $274 times 196 text{ cm}$ tersebut tepat waktu. Kain itulah yang kemudian dikibarkan oleh Latief Hendraningrat, Suhud Sastro Kusumo, dan SK Trimurti sesaat setelah Bung Karno membacakan teks Proklamasi Kemerdekaan.

"Bendera yang saya jahit itu adalah lambang kedaulatan. Setiap jahitannya adalah doa agar bangsa ini tegak berdiri di atas kakinya sendiri, tanpa harus membungkuk pada siapapun."

Fatmawati berpulang pada 14 Mei 1980, namun warisan jari jemarinya terus berkibar abadi. Setiap kali kita melihat bendera Merah Putih berkibar gagah di ujung tiang tertinggi, ingatlah selalu ada pengorbanan tak ternilai dari seorang ibu yang menjahitnya dengan cucuran air mata demi kemerdekaan yang kita nikmati hari ini. (*)