Bong Chandra, Dulu Pakai Karet Gelang Buat Penghapus, Kini Jadi Raja Properti

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Bong Chandra
Bong Chandra
grosir-buah-surabaya

Sukses besar di usia muda dengan mendirikan Triniti Land, bukanlah sebuah kebetulan, melainkan hasil tempaan badai kehidupan yang ekstrem. Bagi Anda yang sedang merintis usaha atau hampir putus asa karena keadaan, kisah hidup Bong Chandra ini bisa menjadi tamparan keras sekaligus suntikan motivasi yang luar biasa.

Siapa sangka, pria yang pernah menggebrak panggung internasional sebagai "Motivator Termuda se-Asia" di usia 23 tahun ini, dulunya adalah seorang anak yang harus bertahan hidup di tengah puing-puing kebangkrutan keluarga akibat krisis moneter 1998.

Bertahan di Tengah Badai Krisis 1998

Tahun 1998 menjadi memori kelam bagi banyak keluarga di Indonesia, termasuk keluarga Bong Chandra. Badai finansial kala itu mengempas pabrik kue milik ayahnya hingga nyaris gulung tikar. Rumah tinggal mereka pun berada di ambang penyitaan.

Bong Chandra yang saat itu baru berusia 11 tahun terpaksa dewasa sebelum waktunya. Demi menghemat biaya dan tidak membebani orang tua, ia memutar otak untuk memenuhi kebutuhan sekolahnya sendiri. Jangankan membeli buku baru, Bong Chandra memilih menyalin buku pelajaran milik temannya di atas kertas bekas.

"Saya bahkan menggunakan karet gelang yang digulung untuk dijadikan penghapus," kenang Bong Chandra mengingat masa-masa sulitnya.

Tak sampai di situ, dengan kondisi fisik yang ringkih akibat penyakit asma, Bong Chandra kecil harus menahan urat malunya demi menjajakan sisa potongan kue dari pabrik ayahnya ke teman-teman sekolah. Cemoohan dan sindiran dari teman sebaya menjadi "makanan" sehari-harinya. Namun, alih-alih tumbang, mental bajanya justru mulai terbentuk di sini.

Modal "Kepercayaan" dan Nekat Kulakan ke Bandung

Menginjak masa SMA, insting bisnis B Bong Chandra semakin menggila. Bersama seorang sahabatnya, ia nekat pergi ke Bandung untuk kulakan pakaian. Modalnya? Bukan uang tunai, melainkan murni kepercayaan dari penyuplai.

Pagi hari ia berangkat ke Bandung, sorenya ia sudah kembali ke Jakarta untuk menggelar lapak baju kaki lima di kawasan Senayan dan Pasar Taman Puring, Jakarta Selatan. Saat remaja lain asyik menghabiskan uang orang tua untuk bersenang-senang, Bong sudah sibuk memikirkan perputaran modal.

Kecintaannya membaca buku-buku motivator dunia akhirnya membuka jalan baru. Bong Chandra sadar ia punya bakat alami untuk membakar semangat orang lain. Bersama rekan-rekannya, ia mendirikan Event Organizer (EO) untuk pelatihan motivasi. Dua tahun pertama ia jalani tanpa mengambil untung demi membangun jaringan (networking).

Pilihan Ekstrem: Drop Out Kuliah demi Fokus Sukses

Keyakinan Bong pada impiannya begitu bulat hingga ia mengambil keputusan yang dinilai banyak orang sangat berisiko: keluar (drop out) dari Jurusan Desain Grafis Universitas Bina Nusantara (Binus). Bagi Bong Chandra, ketika jembatan di belakangnya sudah dibakar, maka jalan satu-satunya hanyalah maju menjadi orang sukses.

Keputusan nekat itu terbayar lunas. Lewat jaringan bisnis terpercaya yang ia bangun dari puluhan ribu peserta seminarnya, Bong Chandra yang awalnya sering mengajar di kalangan pengusaha realestat akhirnya dilirik oleh investor kakap.

Di usianya yang masih sangat muda, ia dipercaya menjalankan proyek properti raksasa senilai Rp 180 miliar. Kini, kerajaan bisnisnya terus menggurita, mulai dari sektor realestat (Triniti Land), industri kuliner, hingga jaringan pencucian mobil Free Car Wash di Serpong dan Bandung dengan ratusan karyawan.

Menariknya, meski mampu menyihir belasan ribu orang lewat kata-katanya di atas panggung, Bong Chandra mengaku bahwa aslinya ia adalah seorang introver yang tertutup. Namun di balik sifat tertutupnya itu, ia membuktikan bahwa trauma krisis masa kecil bisa diubah menjadi bahan bakar untuk membangun imperium bisnis raksasa. (*)