Sosok Tukang Bangunan Asal Kudus yang Menolak Hadir di MUI Awards
Di kampungnya di Kabupaten Kudus, dia hanya dikenal sebagai tukang bangunan. Saat tidak bekerja, dia lebih sering memancing di sungai seperti warga lainnya. Namun di balik kesederhanaannya, sosok yang akrab dipanggil Mbah Riyan ini ternyata dikenal dunia Islam dengan nama pena Ibnu Harjo Al-Jawi, seorang ulama muhaqqiq yang karya-karyanya menjadi rujukan internasional.
Nama aslinya Suprianto, dikenal dengan panggilan Mbah Riyan. Sebagai Ulama Muhaqqiq, tugas beliau bukan sekadar menulis kitab, tetapi meneliti, mengoreksi, dan menjaga keaslian manuskrip ulama terdahulu. Hingga kini beliau telah melahirkan 12 jilid kitab tahqiq dan lebih dari 100 karya ilmiah yang menjadi referensi para akademisi dan ulama di berbagai negara.
Beberapa karyanya yang dikenal luas di antaranya Al-Istihsan, Haqiqotuhu wa Hujjiyyatuhu, Rodd Al-Hadits Al-Dla'if bi Al-Kulliyyah, Is'af Al-Mutholi' karya Syaikh Mahfudz At-Tarmasi, Tahqiq Al-Kalimat fi Al-Ushul Al-Fiqhiyyah, serta Al-Taufiq Al-Jaliy Bain Al-Asy'ariy wa Al-Hambaliy. Karya-karya ini menjadi rujukan penting dalam kajian ushul fiqih, hadis, akidah, dan tasawuf.
Yang membuat banyak orang kagum, semua pencapaian itu tidak mengubah cara hidupnya. Pagi hari beliau tetap mengangkat semen dan menyusun batu bata. Sore harinya, beliau bisa duduk santai memancing di sungai. Seolah ingin mengajarkan bahwa kemuliaan ilmu tidak selalu harus diiringi popularitas.
Beliau bahkan menerima Majelis Ulama Indonesia (MUI) Awards, penghargaan bergengsi atas kontribusinya bagi dunia keilmuan Islam. Namun, yang menjadi perbincangan justru keputusan beliau tidak menghadiri acara penerimaan penghargaan tersebut. Beliau memilih tetap berada di jalan sunyi, jauh dari sorotan dan tepuk tangan manusia.
Kisah Mbah Riyan mengingatkan kita bahwa orang paling berharga tidak selalu yang paling terkenal. Bisa jadi, seseorang yang setiap hari kita lihat sebagai tukang bangunan justru sedang membangun peradaban lewat ilmu yang diwariskan kepada dunia. Sebab manfaat akan selalu hidup lebih lama daripada popularitas. (*)
Editor : S. Anwar