Rasa Rendah Hati Mempertemukan As Sadi dan Al Albani
Di balik lembaran sejarah para ulama, terdapat kisah-kisah yang bukan hanya menarik untuk dibaca, tetapi juga mengajarkan adab, ketawadukan, dan kejujuran ilmiah. Salah satunya adalah kisah yang diceritakan oleh Syaikh Abdul 'Aziz Al-Ubaid tentang pertemuan tidak langsung antara dua ulama besar abad ke-20, yakni Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dan Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahumallah.
Kisah ini bermula ketika Syaikh As-Sa'di, yang tinggal di Najd, mengirimkan naskah salah satu kitabnya ke Dar At-Turqi, sebuah percetakan di Damaskus, untuk ditelaah dan dicetak. Pengiriman naskah tersebut dipercayakan kepada seorang lelaki yang sering bepergian antara Najd dan Syam, bernama Sulaiman Al-Qadhi. Tugasnya hanyalah menjadi perantara yang mengantarkan naskah ke percetakan, lalu mengambil hasil cetaknya untuk diserahkan kembali kepada Syaikh As-Sa'di.
Beberapa bulan kemudian, setelah kitab selesai dicetak, Sulaiman Al-Qadhi menerima naskah tersebut. Betapa terkejutnya dia ketika melihat halaman-halamannya dipenuhi berbagai koreksi, catatan, dan penyempurnaan ilmiah. Dia pun diliputi rasa khawatir.
"Bagaimana mungkin aku menyerahkan kitab ini kepada Syaikh, sementara di dalamnya terdapat begitu banyak koreksi?" gumamnya dalam hati.
Namun, kekhawatiran itu ternyata tidak beralasan. Setelah menyerahkan kitab tersebut kepada Syaikh As-Sa'di, beliau justru mengirimkan surat yang penuh kelapangan hati kepada pihak Dar At-Turqi. Beliau sama sekali tidak marah, tidak merasa direndahkan, dan tidak tersinggung karena karyanya dikoreksi. Sebaliknya, beliau mengakui bahwa banyak koreksi tersebut memang benar, lalu menyampaikan rasa terima kasih kepada orang yang telah memperbaikinya.
Sikap tawaduk seperti inilah yang menjadi ciri alim rabbani, menerima kebenaran tanpa melihat siapa yang menyampaikannya.
Akan tetapi, rasa penasaran membuat Sulaiman Al-Qadhi mendatangi kembali percetakan dan bertanya,
"Siapakah yang membuat koreksi-koreksi yang begitu cermat itu?"
Mereka menjawab, "Dia hanyalah seorang pemuda tukang reparasi jam di Pasar Al-Hamidiyah."
Jawaban itu semakin membuatnya heran dan penasaran. Dia pun pergi ke pasar untuk bertemu pemuda tersebut secara langsung. Di sana, dia melihat seorang pemuda yang sehari-harinya mencari nafkah dengan memperbaiki jam di sebuah toko kecil. Namun, setiap kali selesai melayani pelanggan, pria itu langsung kembali tenggelam dalam kesibukannya menelaah manuskrip, memeriksa kitab-kitab, dan mengoreksi naskah yang akan dicetak dengan kecermatan yang luar biasa.
Ketika Sulaiman bertanya siapa sebenarnya nama pemuda itu, dia mendapatkan kejutan besar.
Ternyata pemuda tersebut adalah Muhammad Nashiruddin Al-Albani, yang kelak dikenal sebagai salah seorang ulama besar dalam bidang hadis pada abad ini.
Ada dua pelajaran yang sangat berharga dari kisah di atas. Pertama, Syaikh As-Sa'di menunjukkan ketawadukan yang luar biasa. Beliau tidak merasa gengsi menerima koreksi, meskipun datang dari seorang pemuda yang saat itu belum dikenal luas. Yang beliau lihat adalah kebenaran, bukan siapa yang menyampaikannya.
Kedua, Syaikh Al-Albani memberikan teladan tentang kesungguhan dalam menuntut ilmu. Meski bekerja sebagai tukang reparasi jam untuk mencari nafkah, beliau memanfaatkan waktu luangnya untuk membaca, meneliti, dan mengoreksi kitab-kitab dengan penuh amanah. Keilmuan yang beliau miliki tidak membuatnya mengejar ketenaran atau kedudukan, tetapi justru mendorongnya untuk melayani ilmu dengan ikhlas.
Inilah akhlak para ulama. Mereka tidak menjadikan ilmu sebagai sarana untuk meninggikan diri, tetapi sebagai jalan untuk menebarkan kebenaran. Mereka tidak malu menerima koreksi, dan tidak sombong ketika memberikan koreksi. Sebab tujuan mereka bukan memenangkan pendapat, melainkan menegakkan kebenaran. (*)
*) Source : Syaikh Muhammad 'Abdul Lathif
Editor : S. Anwar